Terjebak Konflik Dinasti Hylva

Terjebak Konflik Dinasti Hylva
58. Kedatangan Ariel


__ADS_3

“Apa yang dia maksud?!” Milo mengeriyatkan dahi sembari meremas rambutnya.


Untuk sesaat Milo hanya diam termenung. Isi otaknya hanya riuh dengan pertanyaan pertanyaan yang jawabannya tidak bisa dia temukan. Matanya tertuju pada liontin yang masih tergeletak di atas meja. Tanpa pikir panjang Milo segera meraihnya, sejenak dia mengucapkan doa-doa agar harapannya itu bisa dikabulkan oleh liontin tersebut.


“Liontin ajaib, aku mohon selamatkan nyawa Gavi dan Abi hshshs.” mulutnya mengucapkan kalimat itu berulang kali, namun Milo tak kunjung mendapati liontin tersebut bersinar seperti sebelumnya.


“Ayo! Ayolahhh! Kumohon bersinar!! Hshshs.”


Amarahnya memuncak hingga memukul liontin itu berkali kali. Namun hasilnya sama, liontin itu tetap tak bereaksi. Milo sampai melemparnya kesembarang arah karena emosi hingga akhirnya kembali jatuh terkapar diatas kasur dengan Isak tangis.


“Tok tok tok...sayang kamu sudah bangun?” Tanya Maria dari luar kamar.


Buru-buru Milo menghapus air matanya dan bergegas membuka pintu.


“Iya mah kenapa?”


“Yaampun sayang, liat mata kamu udah kaya panda. Mamah ngerti kesedihan kamu, tapi kamu juga jangan lupa buat merawat diri.”


“Iya mah, Milo Cuma kecapean aja”


“Yaudah ayo buruan mandi terus sarapan ke bawah. Nanti kita ke rumah sakit lagi sama Tante Karin.”


“Iya mah.”


Milo kembali menutup pintunya, langkahnya kini menuju kamar mandi. Sampai didepan cermin, kini dirinya kembali termenung memandangi tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa sehelai benangpun.


“Apa kurangnya aku? Kenapa Gavi lebih memilih perempuan itu ketimbang diriku yang selalu ada bersamanya.” Gumamnya hingga kesadarannya kembali saat mengingat Abi yang selalu memperlakukan dia bagaikan ratu.


“Baiklah, aku sudah memutuskan! Aku harus bisa menghapus perasaanku terhadap Gavi dan berusaha menerima Abi!”


Kini Milo telah mandi dan berpakaian dengan rapi. Segera dia turun menuju ruang makan untuk menyambangi Tante Karin dan mama nya yang tengah duduk mengobrol sembari mengoleskan selai diatas roti.


“Pagi mah, pagi Tan.”


“Pagi sayang. Kamu terlihat lebih baik hari ini.” Ucap Tante Karin.


“Harus Tan, Milo gak mau liat Gavi dan Abi bangun melihat keadaan Milo yang kaya gembel.” Mendengar jawaban Milo itu,  Karin dan Maria hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala.


Kini mereka tengah menikmati sarapan sederhana yang disiapkan Maria sebelumnya. Suasana meja makan juga terasa sedikit hening. Hanya terdengar dentuman piring dan sendok yang menemani suapan mereka.


Milo sesekali menatap iba wajah Karin yang terlihat pucat, orang yang biasanya paling banyak bicara dan tertawa kini terlihat cukup dingin dan jarang tersenyum. Rasa takut kehilangan Gavi seolah telah merenggut semua kebahagiaan Tante Karin.


Selesai makan mereka bergegas menuju rumah sakit.

__ADS_1


“Ra, gimana kondisi mereka?” tanya Karin.


“Belum ada perkembangan Rin. Cuma tadi pagi dipindahkan ke ICU dan kita sudah boleh masuk untuk melihat mereka.” ujar Zahra sembari memegang tangan Karin dan menatapnya sayu.


“Sudah kalian pulang saja sekarang, biar giliran kami yang menjaga mereka.”


“Kabari kami ya Rin kalo ada apa-apa.”


“Iya din. Pasti.” Mendengar itu, Hardin dan Zahra berpamitan untuk pulang dan beristirahat sejenak.


Kini hanya tersisa Milo, Karin dan Maria yang duduk di hadapan ranjang Gavi dan Abi. Mereka mengamati sekujur tubuh dua sahabat itu yang dipenuhi luka goresan dan sayatan, nampak perban pun terikat di setiap sisi tubuh mereka


Karin yang tak kuasa melihat putra semata wayangnya terbaring dalam kondisi seperti itu pun kembali jatuh dalam Isak tangis, begitu juga Milo dan Maria yang kaget melihat kondisi Gavi dan Abi yang sangat buruk.


“Rin, aku harus berangkat kerja, gak papa kan aku tinggal dulu? Nanti pulang aku mampir lagi kok.” Tanya Maria.


“Iya mar, kamu berangkat aja sana. Disini juga ada Milo.” Sahut Karin.


“Iya ma gakpapa kok Milo temenin Tante Karin.”


“Yaudah, nanti kalo ada apa-apa kabarin aja ya.”


“Iya mar.”


“Permisi, Tante Karin apa kabar?” Sapa Ariel.


“Ini, siapa ya?” Karin mengeriyatkan dahi.


“Aku Ariel Tante, teman sekelas Gavi pas SMA. Yang kemarin telpon ke rumah nanyain Gavi hehe.”


“Ohh nak Ariel, ya ampun pangling banget ya. Makin cantik aja kamu sekarang.”


“Makasii Tan, Tante juga keliatan gak berubah sama sekali. Masih tetap terlihat awet muda hehe.”


“Mulut Lo so manis bnget!” Sindir Milo.


“Eh mil gak boleh gitu, hehe maaf ya nak Ariel, Milo ini memang begini orangnya.”


“Hehe iya tan Ariel ngerti kok. Ngomong-ngomong gimana kondisi Gavi Tan?”


“Yah begitu Riel. Belum ada perubahan.” sahut Karin sembari menatap sendu kearah Gavi yang masih terbujur kaku.


“Sabar ya Tante, jangan sedih. Ariel yakin pasti Gavi sebentar lagi bakal siuman.” ujar Ariel sembari memegang tangan Karin.

__ADS_1


“Tante dan Milo lagi makan ya? Kebetulan Ariel blbawa sop buah dari rumah, yuk makan bareng.”


“Aduhh sebelum makan mending Lo ganti baju dulu deh sana. Bau parfum Lo tuh bikin pusing! Lagian ke rumah sakit aja Lo ngapain pake parfum segala sih?! mana seember lagi kayaknya.” Ucap Milo sembari menutup hidungnya


“Tapi aku gak pake parfum, ini wangi sabun yang aku pake.”


“Dih pick me girl banget.” gumam Milo.


“Ah sudah sudah, ayo mil kita makan Sop buatan Ariel. Kasian dia udah repot-repot bikin.”


“Nggak ah Tante aja, Milo udah kenyang.” Milo memalingkan wajah.


“Ihh mil kamu kenapa sih..... nak Ariel duduk aja dulu ya.”


“Iya Tan makasih ya.” ujar Ariel sembari duduk ditengah tengah kursi memisahkan Milo dan Karin


"Woi anj*** kaya gak ada tempat lain aja. Itu kan di ujung sana masih ada kursi kosong!"


"Ma-maaf, tapi Ariel mau duduk disamping Tante Karin."


Melihat pertengkaran Ariel dan Milo itu Karin hanya bisa menepuk jidat dan menggelengkan kepala.


“Nak Ariel sekarang kerja dimana? Atau masih kuliah?”


“Ariel kuliah ngambil DKV Tante, udah wisuda 2 bulan lalu. Kedepannya sih rencananya mau kerja aja di kantor papa.”


“Wahh hebat. Terakhir kali ketemu masih anak polos berseragam SMA. Liat sekarang udah makin cantik dan mandiri.” Puji Karin sembari mengelus pundak Ariel.


“Hehe memang waktu berjalan terasa sangat cepat Tan. Nanti Tante dan Gavi kalau ada waktu main ya kerumah Ariel, kita makan malam bersama.”


Mendengar ucapan Ariel yang mengundang dirinya dan Gavi untuk main kerumahnya membuat Karin sedikit membisu sembari menatap wajah Milo yang semakin masam. Disini Karin mulai menyadari niat Ariel yang sebenarnya.


“Doain aja Gavi cepat sembuh dan sehat, kalo ada waktu kami pasti sempetin mampir ya Riel. Kamu udah punya pacar belum? Atau udah nikah?” tanya Karin dengan ragu.


“Sepertinya Gavi belum bilang yah Tan?"


“Bilang apa Riel?”


“Kami bertemu di mall sehari sebelum Gavi mengalami kecelakaan, disana dia bilang masih ada rasa sama Ariel Tan. Tapi Gak tau apa yang bikin dia minta pulang tiba-tiba. Harusnya kemarin Ariel kasih jawaban ke Gavi, tapi dia gak ngangkat telpon. Untung sebelumnya Gavi sempat ngasih nomor orang-orang terdekatnya jadi Ariel bisa telpon tante dan nanyain kabar dia.” jelas Aril.


Mendengar penjelasan itu, Milo berusaha terlihat biasa saja. Namun Karin yang memahami situasi nampak menatap Milo dengan penuh rasa bersalah. Apalagi mengingat sebelumnya Karin terus mengungkit perjodohan antara Gavi dan Milo di hadapan maria.


“Tan, Milo ke cari udara seger dulu ya. Kalian lanjutin aja ngobrolnya.” ujar Milo sembari tergesa-gesa meninggalkan ruang ICU.

__ADS_1


......................


__ADS_2