
Setelah menerobos semak belukar, betapa terkejutnya Rarapati dan Hardijaya mendapati sebuah peperangan antar suku yang baru saja terjadi. Disana mereka melihat ratusan mayat lansia, remaja, perempuan bahkan anak anak tergeletak di setiap sudut.
Hujan mulai turun membasahi gundukan mayat yang terkapar dimana mana. Air hujan itu turun bercampur dengan darah segar dari para korban membuat tanah tertutupi genangan air yang bagaikan lautan darah.
Diujung sana masih ada kepala suku beserta pasukannya tengah mengeksekusi anak anak yang tampak masih sangat muda. Perlahan lahan, Rarapati dan Hardijaya berjalan diantara tumpukan mayat itu dengan tatapan iba.
“HAII TUAN! HENTIKAN PERBUATANMU! BUKANKAH KAU SUDAH MENANG!” Teriak Hardijaya mengalihkan perhatian seluruh pasukan suku disana.
“Hohoo...lihatlah dua bocah itu tuan, sepertinya mereka sudah bosan hidup.” ucap Astra seraya tertawa hambar.
Yap, orang orang yang tengah membantai habis suku lain itu ternyata adalah suku Asmat, suku yang dipimpin oleh Huda.
“BERANI SEKALI KALIAN MENYERANG DAN MEMBANTAI ANAK ANAK TAK BERDOSA ITU!” teriak Rarapati yang nampak murka.
“LEPASKAN MEREKA, ATAU KAMU AKAN MENYESAL SEUMUR HIDUP!” Imbuhnya.
“Hahaha peduli apa kau dengan urusanku.”
Ucap huda sembari menjentikkan jari, mengisyaratkan anak buahnya untuk terus membunuh anak anak yang tersisa.
Rarapati dan Hardijaya yang melihat itu segera memberikan perlawanan terhadap orang orang suku Asmat. Rarapati dan Hardijaya menarik pedang di punggung kuda yang selalu mereka bawa kemanapun dan melawan puluhan orang suku Asmat
Disisi lain ketua suku terus membantai anak anak dihadapannya tanpa ampun.
Ada yang dipenggal kepalanya, ada yang ditusuk berkali kali, bahkan ada yang dilucuti terlebih dahulu satu persatu organnya. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan.
Rarapati dan Hardijaya terus mengayunkan pedangnya tanpa henti ditengah derasnya hujan dan lautan darah, disertai jeritan anak anak yang meminta diselamatkan.
“Hahaha sungguh hiburan yang sangat menyenangkan” gelak tawa ketua suku dan bawahannya terdengar nyaring ditelinga Rarapati dan Hardijaya
Amarah keduanya benar benar sudah diambang batas, namun apa daya mereka tidak bisa mengalahkan ratusan orang itu berdua saja dengan senjata seadanya.
Akhirnya keduanya jatuh tersungkur dan tertodong parang dileher mereka.
__ADS_1
"ATAS SEMUA KEJAHATAN YANG KALIAN LAKUKAN. AKU RARAPATI, PUTRI DARI RAJA CANDRAYANA II MENGUTUK SUKU KALIAN. KALIAN TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMILIKI KETURUNAN SAMPAI KALIAN MUSNAH DAN HIDUP DALAM KESEPIAN TANPA GENERASI PENERUS DI DUNIA INI! CAMKAN ITU!” Teriak Rarapati.
Ucapan dari Rarapati itu sontak menghentikan gelak tawa dari orang orang suku Asmat. Mereka tak percaya bahwa orang yang mereka lawan sedari tadi adalah keturunan kerajaan.
Namun Huda tak menghiraukan status Rarapati dan Hardijaya, ia terlihat sangat marah dengan kutukan yang diucapkan Rarapati.
Huda berjalan dengan angkuh menuju kearah Rarapati dan Hardijaya yang sudah terkapar lemas.
“Lalu jika kau adalah seorang putri apa yang harus aku lakukan? Kalian disini hanya berdua hahaha” ucap Huda sembari menginjak keras bahu Rarapati
“Diam! Aku akan memotong lidahnya karena telah berani mengucapkan kata kata kotor untuk suku ku.” imbuhnya seraya mengacungkan parang dan memegang kasar rahang Rarapati.
TAK TAK TAK TAK TAK
Tiba tiba terdengar suara banyak kaki kuda mendekat. Dari kejauhan terlihat sekelompok besar prajurit menuju kearah mereka dengan cepat.
“Cih...sampai jumpa di tiang gantung” decak Rarapati seraya tersenyum angkuh.
“Dasar......ayo semuanya kita segera lari dari sini.” ucap Huda sembari melepas rahang Rarapati dengan kasar
Kini, hanya tersisa Rarapati, Hardijaya dan tumpukan tumpukan mayat yang tergeletak dimana mana.
Bersamaan dengan derasnya air hujan mengguyur tubuh Rarapati ia berteriak sayu melampaui rasa bersalahnya tidak bisa menyelamatkan masyarakat yang seharusnya dia lindungi.
Sebagai seorang putri mahkota, Rarapati merasa sangat tidak pantas.
Deraian air mata mulai berjatuhan diatas genangan darah yang hanyut bersama ratusan nyawa disekilingnya, Hardijaya merangkul sang kakak yang tengah terisak.
Tak sanggup menyaksikan semua yang terjadi, Rarapati pun menutup matanya dan tak sadarkan diri.
...****************...
“Begitulah kisahku. Aku sampai disini dan bertahan hidup sebatang kara menjauhi kehidupan masyarakat juga memiliki maksud lain. Aku memiliki sebuah perjanjian dengan ayahmu, mungkin itu yang membuat dia dan aku membiarkan kita sama sama hidup.” ujar Isyah dengan mata berbinar.
__ADS_1
Paulo tertegun mendengar kisah yang diceritakan Isyah, ia tidak menyangka Isyah pernah mengalami hal seperti itu. Disisi lain Paulo juga benar benar merasa bersalah telah berlaku kasar padanya sebelumnya.
Kini ia duduk dipojok rumah dengan tatapan kosong kearah Isyah, lalu sesekali meremas rambutnya dengan penuh kekecewaan dan rasa bersalah.
“Aku mohon padamu untuk tidak menceritakan ini pada siapapun. Dan berpura pura lah kamu tidak tahu apapun.” lirih Isyah sembari memeluk Paulo yang masih tertegun.
“Maafkan aku, maafkan, maafkan....tolong maafkan. Aku tidak tahu kamu menjadi seperti ini karena ayahku. Bodohnya lagi aku tadi bersikap kasar padamu.” bisik Paulo sembari mengeratkan pelukan.
Sangat sulit pula berada di posisi Paulo, ia harus menerima kenyataan bahwa kekasihnya adalah seorang putri mahkota, dan ayah Paulo adalah seorang kriminal kelas kakap.
“Tapi aku tidak bisa berbohong pada teman temanku, mereka membutuhkan informasi ini untuk bisa kembali ke dunia nya, aku harus memberitahu mereka bahwa kamu adalah orang yang mereka cari.”
Disaat seperti ini, Paulo masih berbesar hati memikirkan teman temannya.
“Tidak kumohon Paulo, jangan sekarang...ada masanya nanti mereka tahu semuanya, tapi tidak sekarang...kumohon.” lirih Isyah dengan tatapan berkaca kaca.
“Lalu aku harus bagaimana, aku tidak mungkin mengkhianati teman temanku, Isyah.” Paulo menatap intens netra Isyah.
“Dengarkan aku, Paulo. Semakin banyak orang yang tahu identitas ku maka semakin terancam juga kekuasaan kerajaan saat ini. Diluar sana banyak yang membenciku dan ingin membunuhku, mata dan telinga mereka terbuka di setiap sudut wilayah kerajaan.” ujar Isyah.
"Pergilah dan temui mereka. Namun setelah itu kita tidak akan pernah bertemu lagi." imbuhnya.
Paulo termangu. Lagi lagi ia terjerat dalam memilih pilihan yang sulit. Ia tak mau kehilangan Isyah dan tidak mau juga mengkhianati teman temannya.
Paulo menghela nafas panjang. "Baiklah, aku akan menyembunyikan ini untuk sementara waktu dari teman temanku. Aku ingin tetap berada di sisimu.”
Dengan tatapan berbinar Isyah memeluk Paulo dan berbisik “Jika suatu hari kita harus berpisah, ingatlah bahwa aku akan selalu mencintaimu. Aku juga akan selalu ada untukmu. Sekalipun fisikku tidak ada di sampingmu maka lihatlah kedalam hatimu, aku akan selalu ada disana.”
“Perpisahan apa yang kau katakan Isyah, aku tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi. Aku akan terus bersamamu. Jika tidak bersamamu maka tidak bersama yang lain” sahut Paulo.
Kini mereka berdua saling bertukar tatapan. Tatapan itu semakin dalam, dari mata turun ke bibir. Wajah mereka mulai mendekat, Cup....Isyah mencium bibir Paulo dalam sekejap
Paulo membalas ciuman tersebut. Mereka mealui malam dengan ganas dan panas.
__ADS_1
......................