
Dengan sekuat tenaga mereka berlari menyusuri setiap sudut pepohonan dan semak belukar, ditambah rundungan rasa gelisah dan khawatir yang mendalam, mereka semakin mempercepat langkahnya dan terus berusaha mencari dimana keberadaan Hardijaya.
“Raii, Raii."
"Raden!! Raden” teriak mereka menggema ditengah keheningan hutan.
Tak lama berselang langkah Gavi terhenti, saat melihat sosok yang mereka cari tergeletak diatas batu besar dengan sebilah pisau tertancap menembus dada Hardijaya, bahkan darah segar mengalir deras hingga menutupi seluruh permukaan batu.
"R-raden!"
Sahutan Gavi mengalihkan pandangan Milo dan Rarapati pada titik yang tengah ditatap lekat oleh netra Gavi yang membulat sempurna.
Tentu saja Milo dan Rarapati juga terperanjat kaget. Ketiganya bergegas menghampiri tubuh Hardijaya yang terlihat masih sadarkan diri.
Gavi, Milo dan Rarapati berusaha naik keatas batu dan menurunkan tubuh Hardijaya dengan pelan dan hati hati.
Memang sangat sulit bagi Rarapati untuk melihat adiknya terbujur kaku dengan kondisi mengenaskan seperti ini, bahkan air matanya turun deras seraya memeluk erat tubuh Hardijaya.
“Rai, bertahanlah Rai...hks hks."
"Raden aku mohon kamu harus bertahan, hks hks hks." Milo terisak dalam tangisnya seraya memegang erat tangan Hardijaya.
“Aku akan pergi mencari pertolongan!”
Gavi yang sama paniknya juga beranjak keluar hutan mencari bantuan dari prajurit dan dayang dayang yang datang bersama Rarapati dan Hardijaya di kediaman ketua suku.
Sementara disisi lain, Hardijaya yang tengah sangat sekarat masih bisa bergerak dan membalas pegangan erat Milo dengan susah payah.
Dengan nafas tersengal Hardijaya berkata “M-milo, s-sepertinya kita memang t-tidak berjodoh di dunia ini, s-semoga kita berjodoh di dunia selanjutnya."
“APA YANG KAU KATAKAN! KAU AKAN BAIK BAIK SAJA, KUMOHON BERTAHANLAH HKS HKS.”
“T-tolong jaga diri dengan baik. T-terimakasih, s-setidaknya tuhan m-memberikan kesempatan melihat orang yang paling k-kucintai untuk terakhir kalinya. A-aku sangat mencintaimu. A-aku, lelah dengan d-dunia istana. A-akhirnya aku b-bisa beristirahat.....” Hardijaya pun tak sadarkan diri.
Milo semakin terpuruk, gadis itu hanya bisa menangis dan tersungkur menahan rasa sesak kehilangan di relung dada.
“Rai!!!!”
“Bangun Rai!! apa yang harus aku katakan pada ibunda dan ayahanda. BANGUNLAH HARDIJAYA, INI PERINTAH NYIMASMU!”
__ADS_1
Rarapati terus menggoyahkan tubuh Hardijaya yang sudah terbujur kaku dan pucat pasi.
Sementara itu, dengan tangan gemetar Milo meletakkan kedua jari nya di depan hidung Hardijaya. Matanya membulat sempurna saat tidak merasakan adanya hembusan nafas sekali. Ia lanjut menurunkan tangan memeriksa denyut nadi Hardijaya.
Dan na'as nya lagi, denyut nadi nya juga telah berhenti.
“Nyimas, R-raden sudah berpulang ke pelukan sang pencipta, hks hks hks." Milo sembari memeluk Rarapati.
"Tidak, tidak mungkin! kau pasti salah! Bangun Rai, hks hks hks."
Hardijaya menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan sang kakak serta ditemani orang yang paling Ia cintai. Bagi Hardijaya mungkin ini adalah kematian yang sangat beruntung untuknya.
Sementara bagi Rarapati dan Milo, ini merupakan sebuah pukulan terbesar dalam hidup mereka saat melihat adik dan sahabatnya mati dengan mengenaskan tepat didepan mata mereka.
Ditambah mereka tak bisa berbuat apa apa selain menyaksikan sang pangeran menghembuskan nafas terakhirnya.
Tak lama setelah Hardijaya menghembuskan nafas terakhirnya, terdengar Gavi bersama beberapa prajurit dan kudanya datang mendekat.
Mereka segera membawa Hardijaya kerumah ketua suku. Gara dan Hima yang merupakan tabib pribadi Hardijaya segera memberikan pengobatan, dengan Isak tangis dan air mata berlinang mereka harus tetap profesional.
“Hima kendalikan dirimu hks hks!” ucap Gara.
Hima menutup matanya dan berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk lebih fokus dan bisa menyelamatkan tuan sekaligus temannya itu.
Sementara itu di luar rumah, Rarapati duduk dengan tatapan kosong di teras. Hari ini mungkin dia telah kehilangan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya. Kehilangan sang kekasih saja sudah cukup membuatnya sangat terpuruk, kini sang adik malah meninggalkannya selamanya.
Terlihat dari wajahnya, terpendam kesedihan yang amat mendalam hingga dia hanya bisa terdiam dan menangis tanpa suara.
Disisi lain Milo dan Gavi juga sedang menunggu kabar kondisi Hardijaya. Milo terus menangis sejadi jadinya, dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia merasa bahwa Abi dan Hardijaya bertengkar memperebutkannya. Gavi berusaha menenangkan Milo dalam pelukannya sembari menunggu kabar dari dalam.
Tiba tiba dari depan pintu terlihat Abi berjalan sempoyongan dengan darah bercucuran ditangannya, tatapnya nampak kosong. Jalannya tertatih-tatih seolah tidak memiliki arah tujuan. Terlihat di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka sayatan yang terus mengelus darah.
Kedatangan Abi langsung menghidupi mata Rarapati yang sedari tadi kosong, ia beranjak menghampiri Abi dengan tatapan kemarahan yang membara.
Plakk
Brakk
“LAKI LAKI BAJINGAN! SETELAH BANYAK KEMURAHAN HATI YANG DIBERIKAN ADIKKU, BERANINYA KAU KEMBALI KESINI SETELAH MENDORONGNYA!”
__ADS_1
Rarapati langsung menghajar Abi tanpa ampun, melihat itu membuat Gavi dan Milo tak tinggal diam, mereka berlari keluar dan berusaha melerai keduanya.
“Sabarlah Nyimas , kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya belum pasti terbukti.” ujar Gavi
“Abi, jujurlah padaku apa yang sebenarnya terjadi?” Milo memegang pundak Abi dan menatap nya lekat
Perlahan Abi menaikkan pandangannya dan menatap Milo dengan sayu.
“A-aku tidak membunuhnya Milo.” Ujarnya sembari menjatuhkan kepalanya diatas pundak Milo.
Lelaki tersebut seperti telah kehilangan arah dan tujuan hidup. kedua bibirnya bergetar hebat, tubuhnya dingin ditambah tatapan kosong dan raut wajah datar membuat semua orang yang melihatnya merasa iba.
“Tenanglah Abi, semuanya akan baik baik saja. Begitu juga Hardijaya.” Milo berkaca kaca.
Dari dalam rumah, Gara dan Hima keluar bersama. Tatapan Gara nampak sendu sementara Hima tak mampu menahan tangisnya. Melihat kedua tabib itu keluar, seluruh orang beranjak menghampiri mereka.
“B-bagaimana Rai? Aku yakin dia baik baik saja."
Gara dan Hima hanya terdiam.
“KENAPA KALIAN HANYA DIAM? SEPERTINYA RAI SUDAH SADAR YAH?!”
lagi lagi Gara dan Hima hanya tertunduk diam sembari meneteskan air mata. Gelengan kepala mereka adalah pertanda hal paling buruk telah terjadi.
Rarapati tersungkur jatuh ketanah, dan menangis sejadi jadinya. Begitu juga Gavi Milo dan Abi.
Semua pelayan, prajurit dan warga yang mendengar kabar tersebut bersimpuh ddngan Isak tangis mengantar kepergian sang putra mahkota ke sisi sang pencipta.
"Tidak mungkin...haha, tidak mungkin ia meninggalkan aku di kerajaan ini seorang diri. Haha mustahil!" Sang putri tersenyum hambar dengan air mata yang masih berderai.
Ia merangkak dengan gemetar masuk kedalam kamar pembaringan jasad Hardijaya yang telah ditutupi sebuah kain putih.
"Hardijayaaa!!"
Sebuah teriakan pilu dan menyedihkan, menjalar ke setiap orang yang mendengarnya. Milo segera menghampiri Rarapati dan memeluknya dengan erat.
Semua ini telah terjadi, dan yang telah pergi tidak akan pernah bisa kembali lagi. Yang tersisa hanyalah kenangan dan namanya semata yang melekat di hati dan pikiran.
Tak kuasa lagi, sang putri jatuh tidak sadarkan diri.
__ADS_1
......................