Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 36. Tes


__ADS_3

*******


Veli terus menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh tanpa di minta. Entah mengapa hatinya begitu sakit saat ini.


"Dengar .. aku benar-benar minta maaf padamu. Aku akui aku salah, aku tidak menghubungimu. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir." Ujar Rian, ia sungguh merasa tak tega melihat Velia terus menangis.


"Tapi nyatanya kau memang membuatku khawatir semalaman." Ujar Velia, Rian langsung memasukan Velia kedalam dekapannya. Gadis itu terisak lirih. Rian mengusap lembut puncak kepala Velia.


"Maaf, maafkan aku. Jangan berpikiran yang macam-macam lagi. Aku sungguh tidak menganggapmu hanya pemuas nafsuku. Percayalah ..!!"


Setelah sedikit tenang Velia mengurai pelukannya. Ia menyeka sisa air matanya.


"Jangan memberiku harapan jika pada akhirnya kau akan menjatuhkan ku." Ujar Velia.


"Aku tidak ada niatan seperti itu. Mungkin pernikahan kita diawali dengan hal yang salah. Tapi menikah tetaplah menikah. Kita harus bisa menjaga komitmen itu sampai akhir." Kata Rian, Velia hanya tercenung mendengar ucapan Rian. Sepertinya pria itu serius dengan hubungannya kali ini.


Setelah dirasa Velia cukup tenang, Rian kembali menjalankan mobilnya menuju mansionnya. Sesampainya di mansion, Rian menuntun Velia menuju ke kamar, karena kondisi Velia tiba-tiba lemah. Begitu tiba di depan pintu kamar Velia mulai merasakan gelagat aneh pada perutnya. Rasanya perut Velia seperti diaduk-aduk. Dan ketika Rian berhasil membuka pintu Velia segera berlari masuk ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Rian menyusul Velia dengan cemas. Ia membantu Velia memijat tengkuknya. Velia hampir saja terjatuh jika saja Rian tidak segera menangkapnya.


Rian membawa tubuh Velia dan membaringkan nya di atas ranjang. Velia memejamkan mata, lagi-lagi kepalanya terasa berdenyut. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? Kenapa tubuhnya akhir-akhir ini menjadi lemah.

__ADS_1


.


.


.


Rian menghubungi dokter keluarganya, wajah Velia sangat pucat, bahkan ia tak mau minum atau makan apapun. Ia selalu menutup hidung ketika makanan atau minuman didekatkan padanya.


Seorang wanita paruh baya datang dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Dia menunduk sopan di hadapan Rian.


"Selamat malam tuan .. "


Rian membuka pintu kamar lebar. Dokter segera masuk dan mulai memeriksa Velia.


"Apa yang anda rasakan nona?"


"Kepala saya sakit dokter, perut saya rasanya tidak nyaman." Dokter mulai mengeluarkan tensimeter dan memeriksa Velia dengan seksama, Dokter mengernyit lalu tersenyum samar. Dia mencoba menekan perut Velia dengan halus.


"Nona, kapan terakhir anda haid?" Tanya dokter itu.

__ADS_1


"Mungkin sudah sebulan yang lalu dok, memang ada apa dokter?"


Dokter itu pun mengambil sesuatu dari dalam tas. Tabung kecil dan sebungkus benda yang Velia tahu itu apa.


"Coba anda tes dulu. Semoga saja prediksi saya tepat." Ujar dokter itu, Velia berdiri di bantu Rian. Rian hanya menatap cemas kondisi Velia dan tidak memperhatikan apa yang dibawa Velia.


Setelah Velia masuk ke kamar mandi Rian menutup pintunya namun tidak rapat. Velia mulai menampung urin nya dan mencelupkan alat tes itu. Jantungnya berdebar-debar. Ia tak tahu akan dihadapkan dengan situasi seperti ini. Velia benar-benar merasa takut. Bahkan sampai sekarang suaminya belum pernah sedikitpun berbicara serius dengannya mengenai anak. Dia hanya sering mengatakan hal itu pada Zafrina.


.


.


.


"Veli, apakah sudah selesai?" tanya Rian yang masih terus mencemaskan kondisi istrinya.


"Sudah, tunggu sebentar aku akan keluar." Rian membuka pintu kamar mandi dan menghampiri Velia.


Velia menyerahkan alat tes itu pada dokter dengan tatapan kosong. Entah dia harus senang atau sedih. Dia pun merasa bingung.

__ADS_1


__ADS_2