
********
Dina yang sudah tiba di depan di apartemen Joe. Joe sudah membukakan pintu untuk Dina, namun Dina menahan tangan Joe saat pria itu akan beranjak pergi.
"Aku cuma ijin sebentar Dina, nanti aku terlambat balik ngantor."
"Ehm ... Joe boleh ga kalo aku menaruh rasa sama kamu?" Dina memandang manik mata Joe yang menatapnya teduh. Joe mengikis jarak antara dirinya dan Dina. Ia mengusap dagu gadis itu dengan lembut. Tanpa di duga Joe membenamkan ciuman dalam dan lembut di bibir Dina. Tanpa ragu Dina melingkarkan tangannya di leher Joe.
"Eh ... maaf non, aden." Wajah bi Sulis tampak malu. Sedangkan Dina langsung menunduk namun Joe masih terlihat santai dan tenang ia tak merasa terusik sama sekali saat bi Sulis tiba-tiba berada di depan mereka.
"Titip Dina ya bi, saya sepertinya pulang agak malam." Kata Joe pada bi Sulis. Wanita tua itu mengangguk lalu berlalu masuk ke dapur.
"Jangankan menaruh rasa padaku. Kau bahkan boleh memilikiku sepenuhnya cantik." Bisik Joe lirih tepat di telinga Dina hingga membuat Dina meremang dengan wajah memerah.
Tanpa diduga-duga Joe mengecup puncak kepala Dina lalu pergi setelah berpamitan pada gadis itu. Dina menggoyangkan badannya karena senang. Namun mata Dina tampak membelalak saat melihat angel merangkul seorang pria paruh baya. Pria itu terus menciumi wajah Angel. Kesempatan itu tak serta merta di lewatkan oleh Dina. Ia mengeluarkan ponselnya dan merekam beberapa detik sebelum Angel dan Pria tua itu masuk ke apartemen mewah itu. Dina sadar apartemen milik Joe ini apartemen mewah dan tidak sembarang orang bisa keluar masuk dengan mudah.
Dina mengangkat satu sudut bibirnya tersenyum smirk.
__ADS_1
"Sekali jala*ng tetap saja jala*ng .... " Desis Dina ia langsung masuk ke dalam apartemen dan menutupnya.
"Duh seneng banget nih kayaknya non ... " Goda bik Sulis.
"Iya bi, aku ga nyangka akan secepat ini move on." Kata Dina.
"Semoga langgeng dengan tuan Joe ya non. Tuan Joe pria yang baik." Dina hanya menanggapi dengan menganggukkan kepalanya.
Joe tersenyum tipis saat mengingat kegilaannya tadi. Kenapa bisa-bisanya dia bersikap seperti itu? apa karena dirinya terlalu lama menjomblo. Joe menggelengkan kepalanya.
.
.
.
"Iya sayang ada apa? Rian menghampiri Zafrina yang memasang wajah kesal.
__ADS_1
"Papi pergi sama mami terus, sampai lupa ngurus Ina." Zafrina sudah berada di depan pintu menghadang papi dan maminya dengan wajah sembab.
"Anak kamu ngambek itu. Tadi dia Video call dengan Zayana, katanya Dian sekeluarga liburan. Awalnya mereka ingin mengajak Zafrina tapi anak kamu ini ga mau eh begitu dimatikan teleponnya malah nangis." Cerita mama Santika. Velia mendekati putri sambungnya dan hendak mengangkat tubuh Zafrina tapi langsung dicegah oleh Rian.
"Apa yang kau pikirkan, bagaimana jika terjadi sesuatu pada anak kita." Wajah Rian terlihat cemas.
"Maaf honey aku reflek ... "
"Sini sayang, apa Ina mau liburan sama mami dan papi?" Tawar Rian. Zafrina masih sesenggukan dan bersandar di bahu Rian.
"Papi aku mau liburan seperti mereka. Aku mau lihat salju papi." Rengek Zafrina saat tau keluarganya bertolak ke Jepang.
"Papi bisa mengajak Ina liburan jika usia kandungan mami cukup umur untuk diajak terbang. Kalo tidak kasian mami tidak ikut liburan."
"Tapi kata Anna keburu saljunya habis papi."
"Nanti kita akan pergi di setiap negara yang ada saljunya. Ina percaya sama papa ya." Bujuk Rian, Zafrina akhirnya mengangguk seraya menyusut ingusnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Selamat membaca 🥰🥰🥰