
********
Velia sudah pulang di perbolehkan pulang oleh dokter dengan begitu banyak catatan. Hal itu membuat Velia seharian murung. Bahkan pagi ini dia sama sekali tak bersemangat mengingat jika hari ini adalah hari bahagia sahabatnya.
"Ada apa baby? kenapa kamu murung?" Rian mendekat dan membelai rambut Velia. Gadis itu bersandar di sofa dengan lutut ditekuk ke atas.
"Kenapa ini terjadi di saat mendekati hari bahagia sahabatku?" lirih Velia, Rian pun sebenarnya merasa iba. Tapi dia tak bisa berbuat banyak apa lagi nyawa anaknya yang menjadi taruhannya jika dia nekat membawa Velia pergi.
"Baby .... " Rian mendekap tubuh Velia. Gadis yang awalnya terkesan bar bar namun memiliki kelembutan hati yang sama dengan Dian mantan istrinya.
Velia memeluk pinggang Delano dengan erat. Perasaan hangat mengalir di hatinya dan menutup rasa kecewanya.
"Apa perlu aku menemanimu di rumah saja?" Tawar Rian, namun Velia menggeleng lemah.
"Kamu harus ada di sana dan menggantikan aku menyaksikan hari bahagia Dina dan Joe." Senyum getir terpampang jelas di wajah Velia. Rian berpikir akan memberi kejutan pada sang istri nanti.
"Jika begitu aku berangkat sekarang ya?" Velia mengangguk. Rian mengecup kening Velia dalam. Sebelum meninggalkan rumah, Rian bahkan sempat menghubungi Santika untuk menemani Veli.
.
.
.
Sementara itu di kediaman Joe, Dina sedang dirias oleh beberapa MUA yang telah disiapkan oleh Liana. Setelah kemarin Joe memintanya melakukan perawatan penuh agar Dina juga bisa melupakan kejadian buruk yang dialaminya tempo hari. Kini Dina sudah benar-benar terlihat bercahaya. Meskipun di wajahnya masih tersirat kesedihan karena sahabatnya tak bisa hadir. Liana yang ada di samping Dina pun selalu menghibur gadis yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu.
"Jangan bersedih di hari bahagiamu sayang."
"Iya mah, maaf. Dina hanya teringat sahabatku yang tidak bisa hadir menyaksikan hari bahagia ini." tutur Dina lirih. Liana mengusap punggung Dina dengan lembut.
__ADS_1
Akad yang dijadwalkan akan dilaksanakan pukul 10 pagi terpaksa diundur oleh permintaan Rian selaku saksi yang ditunjuk oleh Jonathan. Beruntung pihak dari KUA dan penghulunya mau menunggu.
Rian tiba tak hanya sendiri. Dia datang bersama dengan kedua orang tua Velia. Karena mereka sudah menganggap Dina sebagai putri mereka. Saat di mobil terbesit rasa bersalah Rian mendengar percakapan Bianca dan Daniel mengenai pernikahan Joe dan Dina. Saat dia menikahi Velia dulu bahkan tanpa melibatkan siapapun baik itu orang tuanya juga orang tua Velia.
"Bagaimana persiapannya?" Rian mendekati Danzo. Ternyata pria itu berangkat terlebih dahulu karena mendapat tugas penting.
"Sudah tuan. Semua akan sesuai dengan yang tuan inginkan." Ujar Danzo.
Rian tampak tersenyum puas. Dia segera menghubungi sang istri. Jika dia sudah tiba dan acara akan segera di mulai. Sementara Velia merasa bingung karena ibu mertuanya memintanya untuk berganti baju yang bagus dan berdandan tanpa menjelaskan apa-apa. Tak lama pintu kamar Velia di ketuk dari luar. Dua orang pelayan perempuan masuk dan salah satunya membawa kursi roda untuk Velia.
"Kita akan kemana mah?"
"Rian punya kejutan untuk kamu. Ayo buruan!" Santika membantu Velia berdiri dan pindah duduk di kursi roda. Kedua pelayan itu menuju ruang keluarga, dimana di sana sudah ada 2 orang pria yang sedang merangkai sesuatu di televisi LED 39"
"Sebenarnya ada apa ini mah?"
"Apa kau menyukai kejutanku?" tanya Rian dengan senyum kepuasan tersungging di bibirnya. Velia mengangguk berulang kali seraya mengusap air matanya. Santika tersenyum dan membantu Velia mengusap air mata menantunya.
"Jangan menangis Vel. Bagaimana nanti kalo Dina melihatmu berantakan begini?"
"Maaf mah, Velia terlalu bahagia."
Daniel dan Bianca tersenyum melihat cara menantunya membahagiakan putrinya. Rasanya sudah tidak perlu ada lagi keraguan dalam hati mereka untuk kebahagiaan Velia.
Kameraman khusus Rian siapkan hanya untuk meliput pernikahan Joe dan Dina agar bisa langsung di siarkan secara live untuk Velia.
Joe sudah terlebih dahulu siap di ruangan yang akan dipakai untuk ijab qabul. Rian dan Daniel duduk di samping Joe sebagai saksi.
Papa Joe yang ada di luar negri pun sudah berada di sana untuk menyaksikan hari bahagia putra tunggalnya.
__ADS_1
Dengan perasaan berdebar Joe menjabat tangan penghulu. Mahar yang dia siapkan untuk kekasihnya pun tak tanggung-tanggung. Sebuah kalung berlian pink diamond yang harganya sangat fantastis pun berada di atas meja.
"Saya, Terima nikah dan kawinnya Dina Adisti binti almarhum Sahid Pradipta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Joe lantang.
"Bagaimana saksi?"
"SAH .... " seru semua tamu yang ada di sana. Dina dan Velia sama-sama menitikkan air mata.
"Selamat ya Din. Akhirnya kamu punya sandaran hati." ucap Velia disela isak tangis bahagianya.
"Thankyou Vel, kalo bukan karena kamu dan tuan Rian. Mungkin kebahagiaan ini masih jauh untuk bisa aku gapai."
"Percayalah semua takdir. Segera bersiap. Itu mama Joe dan tantenya sudah bersiap menjemput kamu." Ucap Velia. Seorang MUA kembali membetulkan dandanan Dina.
"Selamat sayang, sekarang kamu resmi menjadi anggota keluarga kami." Liana memeluk Dina begitupun Sofia.
Dina dibawa turun dengan perlahan, netra Joe menatap dalam wajah gadis pujaannya yang terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya berwarna pink soft.
Dina melirik dan tersenyum malu ke arah Joe. Bianca dan Daniel pun merasa sangat bahagia melihat Dina sudah menemukan jodohnya.
Kedua mempelai duduk bersanding untuk menandatangani berkas pernikahan mereka. Dina dan Joe tampak sangat bahagia. Dina mencium punggung tangan Jonathan dan dengan gerakan yang lembut Joe mengecup kening Dina.
"Kamu cantik sekali istriku." Bisik Joe dan membuat wajah Dina bersemu merah.
"Gombal .... " Dina memukul dada Joe perlahan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mohon maaf ya othor kalo keseringan libur up. kondisi badan kalo musim dingin ada² saja.
__ADS_1