Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 71. Dimana Aku?


__ADS_3

********


Joe menarik Dina dan membawa gadis itu pergi menjauh dari Kafe. Dion hanya mampu menatap nanar kepergian Dina.


Dion hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Dina, namun siapa sangka jika wanita itu justru sudah menikah dengan pria seperti Joe. Bahkan Dion dapat merasakan aura Joe yang sangat mengerikan.


Dina hanya diam dengan air mata yang terus berderai. Jujur dirinya memang sudah jatuh cinta dengan Joe, namun dirinya juga tak menampik perasaannya pada Dion belum sepenuhnya sirna. Dina benci dengan perasaannya sendiri yang seperti ini.


Joe hanya terdiam menatap Dina, ia memperhatikan lengan Dina yang memerah karena cengkeraman tangan Dion. Perlahan tangan Joe terulur menyentuh lengan Dina.


"Apa ini sakit?" Dina menggeleng dan menoleh ke arah Joe. Dina menyeka air matanya kasar dan menyandarkan kepalanya di dada bidang calon suaminya itu.


"Terimakasih Joe, hari ini kau sudah menyelamatkan harga diriku."


"Sshh ... jangan bicara seperti itu. Bukankah kita ada untuk saling melengkapi. Aku akan lakukan apapun demi kebahagiaan kamu. Jadi jangan berterimakasih karena ini adalah tugasku." Joe membelai kepala Dina dan mengecupnya dengan lembut.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Joe, Dina mengangguk lemah. ---- "Kita makan di apartemen saja. Aku akan pesankan makanan favoritmu."


"Hmm .... " Lirih Dina. matanya mulai terpejam. Joe masih diam menunggu jawaban Dina, ia menunduk dan ternyata gadis itu sudah terlelap. Joe membetulkan posisi Dina bersandar pada Jok dan sedikit menurunkan sandarannya lalu menyelimuti gadis itu dengan jasnya. Joe menatap wajah sembab calon istrinya itu, ia membelai lembut dan menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah Dina.


"Aku tidak akan biarkan kamu menderita. Aku akan selalu menjagamu Dina. Karena aku benar-benar telah jatuh cinta padamu." Joe segara menjalankan mobilnya meninggalkan area kafe menuju ke apartemennya.


.


.


.


Velia telah menyelesaikan makannya. Zafrina dan Santika telah pulang, dan berjanji besok akan datang lagi. Di ruangan itu hanya tersisa Daniel, Bianca dan Rian.


"Siapa yang melakukannya Rian?" Bianca, Daniel dan Velia memandang Rian menanti jawaban pria itu.


Rian diam sesaat lalu berujar, "Papa tidak perlu tau siapa. Yang jelas aku sudah mengurusnya." Jawab Rian datar. Mata pria itu tak lepas menatap Velia yang sepertinya sangat resah.


"Ada apa baby?"

__ADS_1


"Entahlah honey, aku hanya merasa takut."


"Tidur lah, aku di sini menemanimu." Ucap Rian seraya mengusap-usap kepala Velia. Velia terdiam menatap wajah suaminya. Dan lama kelamaan matanya meredup lalu terpejam.


Daniel dan Bianca hanya diam menyaksikan sendiri betapa menantunya sangat mencintai putri mereka. keduanya saling pandang dan tersenyum.


"Baiklah jika begitu kami pulang dulu." Ucap Daniel, Rian mengangguk. Velia sudah kembali terlelap tanpa dia sadari.


Rian berdiri dan mengantar mertuanya hingga pintu.


"Papa cukup jaga kesehatan papa, jangan sampai papa sakit dan membuat istriku kepikiran." Ujar Rian saat Daniel dan Bianca keluar dari pintu ruangan Velia. Daniel mengangguk. Keduanya kembali berpamitan lalu pergi dari rumah sakit.


Rian menatap Danzo. "Kau pulanglah, besok tidak perlu datang kemari. Kau handel urusan kantor besok. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu."


"Baik tuan, terimakasih dan selamat malam." Ucap Danzo. Rian menutup pintu setelah kepergian Danzo. Ia menuju kamar mandi seraya membawa paper bag yang berisi baju gantinya.


.


.


.


"Dimana aku?" gumam Stevie. Ken yang berada di dekatnya langsung menyahut.


"Kau berada di tempat yang seharusnya." Jawab Ken.


"M...maksudmu?"


"Kau berada di tempat yang tidak pernah di harapkan oleh semua orang yang telah menyinggung tuan Rian." Lanjut Ken, Ken sendiri mendapat informasi itu dari Diego dan mau tidak mau dirinya sudah terlanjur terlibat, dan dia tak ingin dirinya bernasib sama dengan Stevie.


Stevie merasakan nyeri di perutnya. dia menyentuhnya lalu sekejap kemudian dia berteriak histeris.


"Dimana bayiku? katakan dimana bayiku?"


Ken hanya menghela nafasnya panjang.

__ADS_1


"Anda sendiri yang melenyapkan nya. Untuk apa lagi anda menanyakannya?"


"A...apa maksudmu?"


"Anda tahu resiko orang hamil tidak boleh terkena benturan, tapi anda dengan bodohnya malah melakukan hal gila itu. Bukannya nyawa nyonya Velia yang hilang, tapi nyawa bayi anda yang justru melayang." Ujar Ken datar.


Stevie langsung menangis histeris. Bagaimana dia bisa bertindak ceroboh seperti itu? Sekarang buah cintanya dan David ikut menerima imbas dari perbuatannya.


"David maafkan aku, aku tidak bisa menjaga anak kita." Isak Stevie. Tak lama tubuh Stevie kembali jatuh pingsan.


.


.


.


Di kediaman Gerry, Zafrina yang memilih sementara tinggal di sana tidur dalam dekapan Dian. Gerry tersenyum melihat betapa putrinya sangat manja.


"Bagaimana kondisi Velia mas?" tanya Dian lembut.


"Dia sudah baik-baik saja hanya masih syok. Kejadiannya hampir sama denganmu dulu saat di tolong oleh Rian, tapi yang membuat Velia mungkin mengalami trauma karena dia melihat sendiri mobil itu jelas-jelas mengarah kearahnya. Padahal dia masih di pelataran lobi kantor milik Rian."


"Ya Allah, aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi padaku."


"Sshh ... jangan katakan hal seperti itu lagi. Kau akan baik-baik saja. Tidak akan lagi aku biarkan ada yang mengganggumu maupun anak-anak kita." desis Gerry seraya mengecup kepala Dian.


Gerry mengangkat tubuh Dian yang membulat karena kandungannya sudah memasuki trimester tiga.


"Aku pasti bertambah berat?" tanya Dian tangannya bergelayut manja di leher Gerry.


"Lebih berat cintaku untukmu sayang." Bisik Gerry.


"Hmm ... gombal. Besok kita jenguk Velia ya mas."


"Tentu sayang, apapun itu aku akan menuruti semua keinginanmu."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Numpang lewat ya Gerry dan Dian. Karena sebenarnya kemarin novel ini berjalan bersisihan tapi karena waktu othor juga ga banyak buat nulis jadi di sini telat.


__ADS_2