
*********
Velia duduk di samping brankar Dina, ia membelai lembut rambut Dina dengan tatapan Sendu.
"Kenapa kau nekat Din? Apa kamu sudah tidak menganggap diriku sebagai sahabatmu lagi?" Gumam Velia lirih, air matanya sudah tak terbendung lagi. Velia sedih melihat kondisi Dina yang lemah. Biasanya Dina yg selalu menjadi penyemangat disaat dirinya terpuruk. Tapi Dina memilih menyelesaikan masalahnya sendiri dengan caranya yang extrim.
"Sayang .. Jika kau kemari untuk bersedih sebaiknya kita pulang. Aku tidak mau kamu stress dan membahayakan janin dalam kandunganmu." Rian mengusap puncak kepala Velia.
"Dia satu-satunya sahabat yang aku miliki. Bagaimana jika kemarin Joe tidak datang dan menolongnya. Aku akan kehilangan sahabatku." Ucap Velia menyandarkan kepalanya di perut rata Rian.
"Percayalah Joe akan menjaganya mulai dari sekarang."
Tak lama pintu dibuka tampak wanita tua masuk dan terkejut melihat Velia.
"Non Lia .. " Pekik wanita tua itu.
"Iya bi, ini aku."
"Ya ampun non, maafin bibi ga bisa jaga non Dina."
"Bibi tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Sekarang kita fokus saja supaya Dina lekas sembuh. Oh ya bi pria yang membawa Dina kemari dimana?" tanya Velia.
"Tuan Joe sedang ada urusan sebentar nona." Kata bi Sulis. Velia hanya mengangguk mengetahui asisten suaminya begitu peduli pada Dina.
.
__ADS_1
.
.
Dina melenguh, Velia langsung menoleh. Mata Dina mengerjap, Ia seketika menoleh ke arah Velia dan menangis. Velia memeluk sahabatnya dengan erat. Rian dapat melihat betapa Velia sangat menyayangi sahabatnya itu.
"Kenapa kamu lakuin hal gila kaya gini Din? kamu udah ga anggap aku sahabat lagi .. hmm?"
"Maafin aku Vel, aku ga kuat dia selalu datang dan menekanku. Aku bisa apa? Lama-lama aku bisa gila karena ulah dia." Isak Dina, Velia mengusap punggung Dina, ia merasa iba dengan kondisi sahabatnya itu.
"Kalo gitu tinggalin rumah itu. Kamu tinggal di tempat mama papa saja. Toh selama ini mereka juga udah anggap kamu anak mereka." Kata Velia, namun Dina menggeleng lemah.
"Aku udah terlalu banyak merepotkan keluarga kamu Vel, aku ga mau datang ke sana dan membawa masalah baru buat orang tua kamu."
"Anda tidak perlu repot nona, Mulai besok Bi Sulis dan Dina akan tinggal di tempat saya." Sahut Joe di depan pintu. Velia tersenyum senang, ia berharap mereka berdua berjodoh.
"Baiklah .. Jika denganmu aku percaya." Kata Velia.
"Jangan memutuskan sesuatu seenaknya sendiri." Dina menatap tajam Joe, ia merasa malu karena pria itu melihat sisi rapuh dirinya."
"Aku juga sudah menempatkan beberapa penjaga di rumah kamu selama kamu tinggal denganku." Dina mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Asisten Rian itu.
"Terserah .. " Kata Dina kesal.
"Aku yakin dia bisa menjagamu dengan baik." Bisik Velia. Wajah Dina langsung memerah malu.
__ADS_1
.
.
.
Setelah berbincang cukup lama akhirnya Velia dan Rian pulang. Saat di perjalanan Velia menginginkan sesuatu.
"Bisakah kita mampir ke tempat itu?" Velia menunjuk warung bakso yang baru saja mereka lewati. Rian langsung memutar setirnya menuju warung yang Velia maksud.
Sesampainya di depan warung bakso itu Velia bergegas keluar dari mobil. Dan memesan aneka bakso yang dia inginkan. Saat Rian tiba di warung bakso itu matanya langsung membelalak karena di hadapan Velia ada sekitar 6 mangkuk bakso bahkan ada yang sebesar kepalanya dan penuh dengan Cabai.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Pekik Rian saat melihat Velia tengah menyendoki bakso dengan kuah merah dan penuh dengan cabai.
"Ini enak sekali, dan aku menginginkannya." Ujar Velia dengan wajah gembira tanpa dosa. Rian mengusap keningnya yang tiba-tiba berdenyut dengan tingkah istrinya itu.
Rian mendudukkan dirinya dihadapan Velia, ia menelan salivanya kasar saat melihat betapa istrinya begitu lahap memasukkan bulatan bakso yang penuh dengan kuah cabai kedalam mulutnya.
"Berhentilah makan yang pedas. Apa kau tidak kasihan dengan anak kita." Kata Rian memandang Velia penuh dengan tatapan memohon.
"Baiklah, aku akan berhenti memakan yang pedas."
"Tolong jaga dirimu sendiri. Kau punya sakit lambung jika kau makan pedas terlalu banyak kau bisa masuk rumah sakit." Ujar Rian lembut seraya menyeka bibir Velia yang memerah karena rasa pedas yang di hasilkan oleh bakso lava yang dia makan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1