Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 74. Kita Suami Istri


__ADS_3

********


Setibanya di rumah sakit. Rian bergegas menuju kamar Velia. Begitu masuk senyum kedua wanita yang ada di dalam ruangan merekah bersamaan. Dian langsung berpamitan karena tak ingin membuat Gerry menunggunya terlalu lama.


Setelah mengucapkan terimakasih pada Dian, Rian masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Sesaat dia menatap pantulan dirinya di cermin. Kematian Stevie justru membuat Rian merasa dirinya benar-benar seorang iblis. Ia berulangkali menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


Velia menatap kemunculan suaminya dari kamar mandi, gadis itu tahu jika suaminya sedang tidak baik-baik saja.


Velia mengulurkan tangannya saat Rian mendekat. Dan dengan gerakan lembut Rian menyambut uluran tangan sang istri.


"Ada apa? apa ada masalah honey?" tanya Velia dengan wajah yang tampak cemas. Rian tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya terlalu merindukanmu. Itu membuat seluruh syaraf tubuhku lemah." ujar Rian seraya membelai wajah Velia yang sudah tak sepucat kemarin.


"Oh ya ... jika begitu mendekatlah kemari." Ucap Velia menarik tangan Rian yang ada di genggamannya.


"Rian akhirnya duduk di brankar Velia. Velia yang saat itu posisinya duduk tegak membelai wajah Rian yang tampak sendu. Velia menempelkan dahinya pada dahi Rian.


"Aku tidak tahu sesulit apa hari yang kau lalui. Tapi aku istrimu berbagilah denganku. Meskipun itu sebuah kepahitan sekalipun. Jangan pernah menanggungnya sendiri." Lirih Velia dengan suara bergetar dan parau. Karena setelah sekian bulan dia mengenal Rian, baru kali ini dia melihat Rian terlihat seperti orang yang sedang putus asa.


Tanpa sadar air mata Velia mengalir dan menetes di pipi Rian. Rian menahan wajah Velia dan menjauhkan nya ia mengusap lembut air mata Velia.


"Kenapa menangis hmm ....?" Rian menatap manik mata Velia dalam.


"Aku tidak suka kamu selalu berkata baik-baik saja. Kamu tidak apa-apa. Padahal aku melihat semuanya di matamu. Kau sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja." Perasaan lebih sensitif dan sangat peka membuat Velia mudah sekali menitikkan air matanya.


"Baiklah aku akan katakan apa yang sedang aku rasa saat ini. Aku lelah, benar-benar lelah." Ucap Rian. Velia menatapnya intens seakan mencari kebenaran dari semua ucapan Rian.


"Jika begitu kemari dan berbaring di sampingku. Atau bilang saja pada dokter biar aku dirawat jalan. Aku ingin menemanimu istirahat di rumah." Ucap Velia. Namun Rian menggeleng dan memilih berbaring di samping Velia.


"Begini saja sudah cukup bagiku. Terimakasih baby."


"Kita suami istri. Bagaimana bisa kamu berkata terimakasih. Bukankah hubungan suami istri itu harus give and take."

__ADS_1


"Baiklah sayang, aku menarik ucapan terimakasihku padamu. Aku akan menggantinya dengan aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Velia istriku." Ujar Rian, pria penguasa itu meringkuk memeluk perut Velia yang sudah mulai membuncit itu.


Velia tersenyum dan membelai rambut Rian yang hitam legam. "Aku juga sangat mencintaimu suamiku." Lirih Velia, tangannya terus mengusap kepala Rian hingga pria itu benar-benar terlelap.


.


.


.


Joe dan Dina sudah kembali ke kota dimana keluarga besar Joe sudah bersiap-siap mempersiapkan acara pernikahan Joe dan Dina lusa.


"Apa menurutmu Rian dan Velia akan datang."


"Aku juga tidak tahu, tidak banyak yang bisa kita harapkan. Tapi tuan Rian orang yang selalu tepat janji. Dia pasti akan mengusahakan kehadiran mereka. Saat Dina dan Joe turun Dina dibuat terpaku dengan kehadiran 3 orang yang sangat ia kenal.


"Apa kau mengundangnya?" Dina menatap Joe dengan tatapan tajam. Namun Joe menggeleng, dia juga sama sekali tidak tahu kenapa ketiga orang itu ada di sana.


"Kakak, kau sudah datang." Seorang gadis dengan rambut panjang berwarna merah mendekat dan hendak memeluk Dina. Namun Dina mundur dan menghindari gadis itu.


Gadis itu menampilkan wajah sendunya.


"Kakak .... "


"Aku tanya kenapa kau kemari?" Teriak Dina hingga mengundang perhatian semua orang yang ada di sana. Joe memeluk lengan Dina dan mengusapnya agar Dina lebih tenang.


Kedua orang yang sendari tadi mematung di halaman pun kini mendekat. Menyerbu kearah Dina dan Joe.


"Kakak, aku mama dan papa kemari karena undangan tante Sofia. Mama teman tante Sofia." Dina terpekur sesaat, cobaan apalagi ini?


"Pergilah kalian. Jangan mendekati Dina." Sarkas Joe.


"Tapi nak Jonathan, saya orang tua Dina. Meskipun saya kecewa dia tidak memberi kabar pada saya jika dia akan menikah tapi saya berhak tau. Saya juga sangat berterimakasih pada Sofia. Berkat undangannya saya bisa bertemu Dina." Tutur Abbas. Namun Joe sama sekali tidak merespon dan memilih membawa Dina ke dalam mansionnya. Selepas Joe dan Dina pergi. Ketiga orang itu tersenyum tipis. Akhirnya mereka punya kesempatan untuk membalas sakit hati mereka beberapa waktu lalu atas pengusiran yang Dina lakukan.

__ADS_1


Tubuh Dina terasa lemas. Bahkan Joe dapat merasakan tubuh gadis itu kian merosot. Joe mengangkat tubuh Dina hingga menarik perhatian ibu Joe dan Sofia yang sedang menyiapkan makanan.


"Joe, Dina kenapa?"


"Aku bawa Dina naik dulu ma, nanti aku ceritakan semua sama kalian." Ujar Joe tanpa menoleh. Namun karena merasa cemas Liana ibu Joe memilih mengekor di belakang anaknya begitupun Sofia. Ia meminta pelayan untuk melanjutkan kerjaannya.


Joe meletakkan tubuh Dina yang sudah tak sadarkan diri di atas pembaringan.


Joe mengambil minyak angin dalam tas Dina dan mengoleskan nya di hidung Dina. Liana mendekat dan membantu Joe melonggarkan kancing celana Dina.


"Ada apa sebenarnya Joe? Dina kenapa? apa dia sakit?" tanya Liana dia pun memijat kaki dan kepala Dina bergantian.


"Tanya tante Sofia ma, kenapa dia mengundang keluarga Dina." Ketus Joe. Ia bahkan tak melihat wajah terkejut Sofia karena begitu mencemaskan Dina.


"Apa maksudnya ini Sofi? bisa kau jelaskan siapa mereka, orang-orang yang kau bawa itu?" tanya Liana dengan wajah gusar.


"Aku hanya mengundang Devi, dan suami juga anaknya kak. Devi teman lama ku." Sofia masih tidak mengerti apa maksud keponakannya itu dan kenapa terlihat marah. Apa jangan² Devi dan keluarganya adalah keluarga Dina? Tapi mengapa marah? bukannya bagus jika ada keluarga Dina disini?


"Tante tidak akan mengerti, karena teman tante itu yang membuat hidup Dina menderita."


"Tidak mungkin Joe." Jawab Sofia masih membela Devi.


Dina perlahan membuka matanya namun sejurus kemudian dia terisak dan menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa mereka disini Joe?" isak Dina sesenggukan.


"Shh ... sudah jangan menangis. Aku akan usir mereka."


"Sebenarnya ada apa Joe? kenapa kamu mau usir teman tante?" ujar Sofia sedikit tidak terima. Dina seketika membuka tangannya yang menutupi wajahnya.


"Te... teman tante?"


"Hei, look at me Dina. Tidak akan terjadi apapun aku janji padamu." Ujar Joe seraya menahan wajah Dina agar tidak menatap Sofia.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


kalo typo bertebaran maafkeun ya


__ADS_2