
*********
Siang itu Stevi mendatangi rumah Daniel, hanya rumah itu satu-satunya yang bisa ia datangi untuk mencari tahu dimana keberadaan David. Stevi mengetuk pintu rumah Velia. Dan tak lama seorang kepala pelayan datang membukakan pintu untuk Stevi.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya kepala pelayan dengan sopan, namun Stevi yang memiliki sikap angkuh dan sombong hanya menatap kepala pelayan itu sekilas.
"Tolong panggilkan tuan Daniel, saya ingin bertemu."
"Maaf nona apa sebelumnya anda sudah membuat janji?" tanya kepala pelayan itu, pria berusia 50 tahun itu masih tampan gagah dan bekas ketampanannya pun belum pudar dari wajahnya.
"Katakan saja Stevi mencarinya." Ujar Stevi angkuh seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Kepala pelayan itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah angkuh gadis itu.
Dari arah gerbang masuk rumah Daniel, Bianca turun dari mobil seraya menatap Stevi dengan tatapan tajam menelisik. Ia menggelengkan kepala melihat sikap angkuh yang ditunjukkan oleh tamunya itu.
"Ada apa ini pak Rahman?" suara Bianca yang begitu lembut membuat pak Rahman kepala pelayan di rumah Velia mengangguk sopan.
"Maaf nyonya, nona ini mencari tuan besar." Ucap kepala pelayan itu menunduk.
"Ada perlu apa kau mencari suamiku?" tanya Bianca dengan nada bicara yang begitu datar.
"Tante, saya ingin menanyakan keberadaan David." Ujar Stevi memasang wajah sendu. Namun hal itu ternyata tidak menimbulkan efek iba untuk Bianca.
Dia lantas menjawab, "Maaf kami sudah tidak berurusan dengan David lagi." Kata Bianca tegas. Ia masih tidak mau memaafkan David yang membuat suaminya hampir saja terenggut nyawanya.
"Tapi tante .. " Stevi masih mencoba ingin tahu dimana keberadaan ayah kandung dari janin yang kini sedang ada dalam rahimnya
"Maafkan saya Stevi, tapi yang perlu kamu ingat keluarga kami sudah tidak mau berurusan lagi dengan David. Kamu adalah wanita berpendidikan bukan? lalu dimana sopan santunmu? pelajarilah adab bertamu yang benar!" Setelah berkata seperti itu Bianca masuk ke dalam rumah sementara Stevi masih terpaku.
__ADS_1
"Maaf nona .. " Pak Rahman menutup pintu rumah dan menguncinya. Stevi hanya mampu mengumpat dalam hati kesal bukan main.
.
.
.
Velia masih bermanja-manja di dekapan sang suami padahal waktu hampir pukul 12. Rasanya Rian pun menjadi malas berangkat ke kantor.
"Apa sepanjang hari kita akan seperti ini terus?" tanya Rian seraya membelai wajah cantik Velia.
"Memang kenapa? apa kau tak suka aku seperti ini?" suara Velia terdengar ketus, bahkan bibirnya mengerucut kesal.
"Bukan begitu baby, jika kau mau selamanya seperti ini terus aku rela. Hanya saja kau dari pagi hanya menghabiskan segelas jus. Anak kita butuh nutrisi lebih." Kata Rian lembut, senyumnya mengembang menggetarkan pintu hati Velia.
"Hmm .. aku ingin makan tapi aku tidak yakin kau akan menurutinya." Velia tampak ragu untuk mengatakan keinginannya. Ya, bisa dibilang ragu untuk menyampaikan nyidam nya apa?
"Gombal .. apa kau tidak akan bekerja?" Velia mengusap rahang kokoh Rian dan memberi kecupan lembut di bibir Rian.
"Tadi pagi aku sudah menghubungi Joe, dia sepertinya hari ini bersemangat sekali. Maka dari itu aku membiarkannya bekerja lembur hari ini." Rian tersenyum lembut dan mengecup puncak kepala Velia.
"Bisa saja cari alasan."
"Demi kamu, apa sih yang ga?"
Akhirnya Rian dan Velia pergi berangkat mencari apa yang Velia inginkan. Sepasang manusia dimabuk cinta itu mampir ke rumah mama Santika untuk menjemput Zafrina. Velia mengajak Rian dan Zafrina ke kebun binatang karena dia ingin makan ditempat yang dulu pernah mereka kunjungi pertama kali.
__ADS_1
"Kau yakin ingin makan disini?" Tanya Rian entah mengapa ia merasa aneh dengan keinginan Velia.
"Iya .. !" seru Velia senang. Velia pun memesan beberapa menu makanan anakΒ².
"Zafrina tidak akan bisa menghabiskannya." Ujar Rian melihat pesanan Velia yang menggunung.
"Siapa bilang ini untuk Ina? ini aku yang akan memakannya."
Zafrina hanya tertawa melihat papinya bengong. Baru kali ini Zafrina melihat muka papinya terlihat seperti orang bodoh.
"Papi, ih jorok.. itu nanti kalo lalat masuk mulut papi gimana?" Seru Zafrina. Rian gelagapan ketahuan menganga, lalu tak lama Rian duduk di sebelah Velia yang asik memakan makanan cepat saji itu tanpa mempedulikan keberadaan suaminya itu.
Saat Velia meraih cup sodanya, mata Rian membesar. Ia segera menyambar cup itu dan menyedotnya.
bu
"Kau tidak boleh minum minuman bersoda." Velia menatap kesal pada Rian. Bibirnya maju beberapa centimeter sangking kesalnya.
"Lalu aku minum apa?" Velia yang tidak terima sodanya diambil langsung protes.
Zafrina yang mendengar ucapan Velia langsung menyodorkan air minumnya. Velia tersenyum lebar ke arah putri sambungnya.
"Terima kasih sayang."
"Sama-sama mami." Zafrina tersenyum lebar saat menamdaa
Di sana Rian hanya menjadi penonton acara mukbang istrinya. tanpa di beri kesempatan ikut mencicipi nya. Pria yang dulunya terkenal dingin dan kejam kini seperti singa yang yang kehilangan taringnya.
__ADS_1
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Selamat membaca guys.