
********
Rian sudah mendapat laporan dari Maher mengenai David yang bekerjasama dengan Jeremy. Perasaan Rian semakin was-was, dia tidak ingin kecolongan. Rian memikirkan cara yang tepat untuk menjauhkan Veli dari David. Sementara itu dia meminta bantuan Gerry agar bisa menarik Diego untuk membantunya.
Lukas sudah di tugaskan oleh Rian mengikuti Jeremy setelah mendapat lokasi yang akurat tentang keberadaan pria itu, Rian meminta Joe untuk membawa beberapa anak buahnya untuk membekuk Jeremy terlebih dahulu. Karena Rian yakin obat yang dulu David itu gunakan untuk mencekoki Velia berasal dari Jeremy.
"Cukup sekali aku melepasmu Jeremy, dan kali ini tak akan aku biarkan kau lolos begitu saja. Apalagi kau turut ambil peran untuk menyakiti istriku." Desis Rian di ruang kerjanya.
.
.
.
Joe segera bergerak setelah mendapat perintah dari Rian. Rasanya dia masih ingin berlama-lama di dalam apartemen namun dia tidak punya waktu untuk itu. Apalagi tugasnya kali ini lebih berat karena berurusan dengan gembong nar*koba.
"Aku akan pergi sebentar. Jika kau mengantuk tidurlah dulu." Kata Joe mengusap kepala Dina. Tadi saat Rian menghubungi Joe sedang bermesraan dengan Dina, karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Kau mau kemana? ini sudah malam." Dina menahan tangan Joe. Joe menatap tangan dina yang sepertinya enggan berpisah darinya. Lalu menunduk dan membenamkan ciuman dalam di bibir calon istrinya itu.
"Aku hanya sebentar, ada hal yang harus aku urus." Desis Joe. Dengan berat hati Dina melepas lilitan tangannya.
"Jangan lama-lama aku tidak mau sendirian disini." Lirih Dina. Joe menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia juga berat harus meninggalkan Dina sendirian tapi tugas yang dia punya kali ini tidaklah main-main.
"Aku akan segera kembali." Meski mulutnya berucap demikian Joe tidak yakin bisa segera menyelesaikan misinya.
.
.
__ADS_1
.
Di bawah sudah berkumpul orang-orang pilihan Rian. Ada Diego, Mark, Pablo, dan Marvin. Sedang di lokasi penyergapan sudah bersiap 10 orang termasuk Lukas dan Maher. Mereka butuh persiapan matang, karena mereka sadar betul musuhnya kali ini adalah Jeremy ketua mafia Dead shadow gembong narkotika bertaraf internasional.
Meskipun dulunya bahkan hingga sekarang nama kelompok mafia Rian masih di segani. Tapi tidak menutup kemungkinan mereka kalah jumlah, karena siapa tahu anggota Jeremy semakin banyak. Namun berdasarkan info dari Maher hanya 5 orang yang sejak tadi berlalu lalang di tempat persembunyian Jeremy.
Rian sudah berada di lokasi saat Joe tiba dan masuk bergabung dalam mobil Rian. Rian telah membawa semua tim terbaiknya untuk meringkus Jeremy. Maher dan Lukas mulai menyerang 2 orang yang berjaga di pintu. Dengan mudah mereka bisa di takhlukan.
"Tuan apa kau benar-benar butuh bantuanku?" Protes Joe saat melihat Maher dan Lukas mampu melumpuhkan dua orang yang berjaga di depan.
"Tentu saja, karena aku tidak tahu jika nanti sewaktu-waktu istriku memintaku kembali siapa yang akan mengurus Jeremy." Kata Rian enteng, Joe mendengus kesal.
"Tuan, anda mengganggu waktu berpacaran saya." Joe masih terdengar tidak terima.
"Pulanglah jika begitu .... " Kata Rian seraya menatap pergerakan anak buahnya.
"Apa anda serius tuan?" Wajah Joe tampak berbinar.
"Apa anda serius? jika saya menangkap Jeremy anda akan membiayai pernikahan saya?" Wajah Joe begitu sumringah.
"Ya, kapan aku pernah berbohong padamu Joe?"
"Baiklah anda harus menepati janji. Joe segera keluar dari mobil dengan semangat yang membara.
Maher dan Lukas beserta yang lainnya telah bersiap. Joe segera membuka pintu dengan cara menendangnya Jeremy yang ada di dalam ruangan itu sangat kaget.
"Jonathan?"
"Yes, its me Jeremy." Belum sempat Jeremy bergerak, pistol yang berisi peluru bius sudah di tembakan oleh Joe dan menancap di dada Jeremy seketika tubuh Jeremy tumbang. Ketiga orang bawahan Jeremy yang melihat ketuanya tergeletak begitu saja langsung mengangkat senjata dan memberondong Joe dengan tembakan hingga salah satu peluru menyerempet ke lengannya.
__ADS_1
Akhirnya baku tembak pun tak dapat dihindari. Saat peluru dari anak buah Jeremy mulai habis. Lukas dan Maher langsung keluar dari persembunyiannya dan mulai menghajar ketiga anak buah Jeremy. Ketiga orang itu akhirnya tumbang satu per satu.
"Bawa mereka semua. Pastikan semua barang-barang haram itu kalian bawa juga." Joe segera berlalu pergi. Diego dan yang lain melakukan penyapuan. Sedang Joe kembali ke dalam mobil milik Rian.
"Mission complete ... " ucap Joe. Rian hanya tersenyum miring. Rian melirik lengan Joe yang berdarah.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rian. Joe melirik luka di lengannya dan mengangguk.
"Baiklah, kau boleh menagih janjiku jika kau sudah menyiapkan pasanganmu?" Kata Rian tak acuh. Dia masih memandangi pergerakan anak buahnya yang sedang melakukan pembersihan.
"Entah mengapa aku rasa malam ini terasa mudah. Apakah ini bukan jebakan?" tanya Rian tanpa menatap Joe.
"Saya rasa bukan tuan. Tepatnya dia sedikit kurang berhati-hati. Mungkin juga dia tidak akan menyangka jika kita akan menangkapnya." tutur Joe. Rian pun mengangguk membenarkan ucapan asistennya.
"Bagaimana dengan Alif dan Yusuf?"
"Sesuai perintah anda mereka sekarang menempati posisi manager keuangan. Cara kerja mereka juga terbilang sangat bagus dan cepat."
"Baguslah, istriku itu memang selalu di kelilingi orang-orang yang berkompeten." Rian tersenyum tipis mengingat istrinya.
Meskipun kali ini Rian dan Joe bisa meringkus Jeremy dengan mudah. Mereka tidak akan tahu takdir kedepannya nanti akan seperti apa? apakah dengan tertangkapnya Jeremy akan membuat kelompok mafia Black Shadow bubar? atau justru malah sebaliknya. Mereka akan bangkit dan membalas dendam.
Maher dan Lukas sudah melakukan sapu bersih. Kalaupun nanti tempat ini akan digeledah polisi semua barang bukti sudah mereka singkirkan. Semua bergerak dengan senyap, Joe ikut ke markas sebentar untuk memastikan tawanannya benar-benar mendapatkan perlakuan seperti yang dia harapkan.
Rian tampak sangat lega, tinggal mengurus David dan Stevie. Dia akan pastikan hidup istrinya tak akan lagi terganggu dengan hama-hama pebinor dan pelakor. Karena Rian akan menyingkirkannya, siapapun yang berani memiliki niat tidak baik pada keluarganya, Kebahagiaan Velia dan anak-anaknya kini menjadi prioritas utama Rian.
"David, wait for me. Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti." Desis Rian dengan wajah datar.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Special buat readersku yang ultah. Moga besok bisa double up ya.
jangan lupa like komen dan Rate ya