Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 62. Kalian Harus Menikah


__ADS_3

*********


Tante Sofia menatap tajam ke arah kemeja Joe yang ada di tangan Dina. Semula gadis itu hendak memberikannya pada Joe sebelum membuka pintu. Namun semuanya sudah terlambat saat pintu sudah terbuka lebar dan tante Sofia berdiri di sana dengan tatapan yang tajam.


"Kalian kumpul kebo?" tante Sofia langsung menuduh Joe dan Dina dengan melihat tanda merah di leher Dina dan di dada Joe membuat pikiran tante Sofia bertraveling kemana-mana.


"Tante ini tidak seperti yang tante bayangkan." Dina dengan panik berusaha menjelaskan semuanya ia tak ingin dianggap sebagai wanita murahan.


Tapi tanpa Dina duga justru tante Sofia bertepuk tangan dan tertawa sementara Joe tetap memasang wajah kesal.


"Ahh ... senangnya ternyata keponakanku benar-benar pria tulen. Tadinya tante pikir dia tidak doyan perempuan. Saat tante lihat kamu di kafe kemarin tante ragu mengartikan hubungan kalian karena Joe selalu bersikap galak kepadamu." Tutur tante Sofia dengan wajah sumringah.


"Ma-maksud tante gimana?" Dina seakan menjadi bodoh seketika mendengar penuturan Sofia.


"Sudah lupakan saja. Intinya kalian harus menikah secepatnya tante harus segera kembali ke Jerman. Jadi secepatnya kamu kabari orang tua kamu Joe." Perintah tante Sofia, Joe hanya mengangguk mengiyakan permintaan tante tersayangnya.


"Tapi tante aku ... " wajah Dina berubah sendu.


"Ada apa sayang?" Sofia mendekati Dina yang terlihat seperti mau menangis.


"Aku .... " suara Dina tercekat, apa keluarga Joe bisa menerima dirinya yang hanya sebatang kara?


Joe menarik tubuh Dina dan memeluknya. "Keluargaku adalah tempatmu pulang. Jangan khawatir mereka orang-orang baik." ujar Joe. Sofia tersenyum dengan wajah terharu. Meski tidak sepenuhnya tau apa masalah Dina, tapi Sofia bisa merasakan jika keponakannya sangat tulus menyayangi Dina.


"Keluarga kami tidak pernah memandang orang lain sebelah mata. Asalkan kalian saling mencintai itu sudah cukup bagi kami Dina."


Dina melirik tante Sofia, dia mengurai dekapan Joe lalu memeluk tante Sofia.

__ADS_1


"Terimakasih tante, terimakasih sudah mau menerima Dina dalam keluarga tante." Kakak tante pasti akan senang jika anak kesayangannya akan segera soldout." Kelakar Sofia. Joe hanya mendengus mendengar ucapan tantenya di depan Dina.


.


.


.


Velia mengeliat namun sedetik kemudian dia mengerang merasakan kram di perutnya. Rian seketika terbelalak saat mendengar suara istrinya.


"Ada apa honey?" Wajah Rian terlihat cemas melihat Velia meringkuk memegangi perutnya.


"Aku terlalu bersemangat menggeliat hingga perutku kram." Velia meringis seraya mengusap usap perutnya yang terasa mengeras.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Rian bangun dan menyambar kaos yang semalam ia lepas. Velia ternganga melihat suaminya bergerak dengan sigap. Tanpa menunggu waktu lama Velia sudah berada dalam pangkuan Rian. Tangannya melingkar di leher suaminya.


"Baby aku .... "


"Kamu itu sedang hamil bagaimana bisa bertingkah seperti anak kecil." Rian terus menggerutu tanpa membiarkan Velia buka suara.


"Baby .... "


"Nanti jika di tempat dokter kamu tanyakan semua masalah-masalah mengenai seputar kehamilan agar aku tahu."


"Baby, dengarkan aku ... !" seru Velia jengah mendengar semua ucapan Rian. Rian menatap Velia dalam, raut kekhawatiran masih bergelayut di wajahnya.


"Aku baik-baik saja baby. Kram perut saat hamil itu juga hal yang wajar, selama tidak ada pendarahan. Kamu yang tenang dong jangan panikan." ujar Velia lembut.

__ADS_1


"Apa kau yakin baik-baik saja?" Rian mengulangi pertanyaannya. Velia mengangguk, ia jadi gemas sendiri melihat wajah suaminya yang masih terbengong. Velia menggapai pipi Rian dan mengecup bibir pria itu dengan mesra.


"Morning kiss ... " Lirih Velia seraya tersenyum dan menatap Rian dengan tatapan penuh cinta. Rian menyambar tengkuk Velia dan memagut bibir manis istrinya dengan rakus. lidahnya menyusup dan saling membelit, ciuman hangat di pagi hari.


"Kenapa semakin lama aku semakin menginginkanmu honey .... " Desis Rian dengan suara yang hampir tenggelam karena menahan hasrat.


"Aku milikmu jika kau lupa baby. Tapi tidak sekarang. Setelah nanti aku konsultasi lagi pada dokter, Ok!!"


Rian hanya mengangguk pasrah, merasakan ketidaknyamanannya karena sejak tadi juniornya turn on.


"Baiklah sekarang ayo kita turun." Rian bersiap membuka pintu, tapi tangan Velia menahannya.


"Kita beli bubur ayah dekat kampus saja ya." Wajah Velia memelas, namun Rian menatap penampilan dirinya dan Velia dari ujung kaki hingga kepala lalu dia terbahak-bahak.


"Aku akan belikan tapi nanti setelah kita berganti pakaian. Jika ke rumah sakit, mungkin orang akan mengira jika aku terlalu panik. Tapi jika untuk pergi makan aku rasa tidak honey. Lihatlah penampilan kita." Velia menunduk lalu ikut terbahak. Dia hanya mengenakan gaun tidur berbahan satin sebatas lutut dan tanpa alas kaki.


"Baiklah tuan, sekarang bawa aku kembali ke kamar seperti tadi. Aku tidak mau menjadi bahan tertawaan anak buahmu. Rian turun dari mobil dan memerintahkan semua yang ada di sana untuk menunduk. Rian membuka pintu mobilnya untuk Velia lalu kembali mengangkat istrinya dan membawanya masuk ke kamar.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Masih seperti kemarin sering bolong guys. Waktuku masih belum bisa di atur sedemikian rupa.


yang mau kepoin dunia nyata othor boleh mampir ke akun ig : emma_risma064


Sembari menunggu kisah mereka, aku punya rekomendasi novel bagus untuk kalian karya Mama Reni judulnya Kekasihku kekasih ibu tiriku.


__ADS_1


__ADS_2