
********
Rian menitipkan Velia pada Dian dan Gerry. Dia akan menemui tahanannya dan membalas semuanya. Mengakhiri dengan segera segala akar permasalahan di hidup istrinya.
Rian tak ingin masa-masa kehamilan Velia terganggu dengan adanya insiden seperti tempo hari.
Danzo yang setia menjadi supir pribadi sekaligus kaki tangan Rian, hanya diam menatap pria yang menjadi tuannya itu dari spion tengah. Pria itu berulang kali mendesah berat seakan ada beban pikiran yang begitu besar.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membalas wanita itu?" Tanya Delano pada Danzo.
"Saya tidak yakin jawaban saya mampu memuaskan anda tuan."
"Katakan saja aku akan dengarkan!" perintah Rian.
"Anda bisa mengirimnya menyusul David. Toh dia juga sudah menerima akibatnya dengan kehilangan anaknya." ucap Danzo.
"apa menurut mu sebaiknya seperti itu?" tanya Rian, Jujur saja sejak Veli hamil Rian merasa takut, takut jika semua perbuatannya akan memiliki efek buruk pada istri dan calon penerusnya kelak. Bagaimana pun sekarang ia memiliki keluarga yang sangat harus ia lindungi dengan segenap hati.
Akhirnya mobil yang membawa Rian tiba di sebuah mansion besar yang di jadikan markas olehnya.
"Selamat datang tuan." Sambut beberapa anak buah Rian.
Rian hanya merespon sapaan beberapa orangnya dengan anggukan kepala singkat. Danzo setia mengekor di belakang Rian. Selain urusan pekerjaan Danzo juga sering berinteraksi dengan organisasi bawah milik Rian ini tapi dia jarang sekali mendapat tugas eksekusi. Hanya Joe yang mendapat wewenang khusus oleh Rian untuk memberi perintah jika sewaktu-waktu Rian tak bisa mengurus masalah di organisasi.
Rian masuk di ruangan Stevie. Wanita itu tampaknya terlihat sangat tertekan.
"Kenapa dia bisa sampai melakukan percobaan bunuh diri?" tanya Rian dengan nada datar. Stevie gemetaran melihat Rian. Pria itu bagai jelmaan iblis yang berwujud manusia.
"Bunuh saja aku ... untuk apa kau menawanku di sini?" Teriak Stevie histeris.
"Membunuhmu ya ...? sayangnya aku tidak ingin membunuhmu. Aku ingin menyiksamu. Kau berniat mencelakai istri dan anakku apa kau pikir kau akan mati dengan mudah?" ujar Rian.
__ADS_1
"Bawa dia, kita akan bermain dengan wanita ini." Ujar Rian. Stevie menangis menutup matanya. Dua orang anak buah Rian sudah bersiap menyeret Stevie. Stevie berteriak, dan meronta. Namun pegangan kedua pria itu begitu erat mencengkeram lengan Stevie. Stevie hanya bisa terus meraung menangisi nasibnya yang begitu buruk. Di tengah keputusasaan Stevie. Wanita itu melihat pistol yang tersimpan di pinggang salah seorang anak buah Rian. Dia akan menunggu kedua orang ini lengah. Agar dia bisa segera mengakhiri drama dalam hidupnya yang menyedihkan.
Bagaimana tidak? selama bertahun-tahun Stevie begitu tulus mencintai David, bahkan dia rela meninggalkan keluarganya demi mengikuti David ke negara pengasingannya, tapi apa yang dia dapat? David justru memanfaatkan dirinya, melukai hatinya. Bahkan David juga tidak mau mengakui keberadaan bayi yang di kandungnya. Kini dia harus menuai buah dari perbuatannya. Stevie di bawa ke sebuah tanah lapang, Rian sudah tak tampak di sana, ia memantau semua pergerakan anak buahnya dari ruangannya. Matanya menatap setiap pergerakan orang-orangnya. Namun saat dia sedang fokus tiba-tiba dirinya di kejutkan dengan suara tembakan dari luar. Matanya membelalak melihat Stevie tersungkur di tanah. Rian bergegas keluar dari ruangannya.
Kedua anak buah Rian pun sama terkejutnya karena apa yang Stevie lakukan begitu cepat. Sehingga mereka tidak bisa mencegah kejadian ini. Sekarang yang mereka takutkan adalah kemarahan tuannya. Salah seorang anak buah Rian yang bertugas membawa Stevie memeriksa wanita itu.
"Ada apa ini? apa yang terjadi?"
Kedua orang itu langsung bersujud di bawah kaki Rian dengan tubuh bergetar.
"Ampuni kami tuan. Kami lalai, kami teledor." Rian mendekat dan memeriksa Stevie namun wanita itu sudah mati, darah masih mengalir segar dari kepala Stevie. Wanita itu nekat mengakhiri hidupnya dengan merampas pistol anak buah Rian dan langsung menembak kepalanya sendiri.
"Sayang sekali. Sepertinya wanita ini memang memilih menyusul anaknya dari pada kekasihnya." Ucap Rian. Dia menepuk kedua pundak anak buahnya.
"Kalian sudah bekerja dengan baik. Makamkan wanita ini dengan layak." Ujar Rian seraya berlalu. Kedua orang anak buah Rian terbengong. Tak biasanya ketuanya bersikap begini tapi kenapa kali ini berbeda. Dari nada bicaranya pun Rian terdengar sedikit lembut. Ada apa sebenarnya ini?
Namun mereka tak banyak berani bertanya. Mereka lebih memilih diam dan segera membawa jenasah Stevie untuk segera di makamkan seperti apa yang di perintahkan bosnya.
"Kita ke rumah sakit." Ujar Rian.
"Baik tuan."
Selama dalam perjalanan Rian memejamkan matanya. Danzo hanya mengamati Rian dari spion.
.
.
.
Sementara itu Gerry memilih meninggalkan Dian dan Velia agar keduanya leluasa bercerita. Gerry memilih ke kafetaria menikmati secangkir kopi Arabika dan memeriksa pekerjaannya.
__ADS_1
"Uncle .... " Suara seorang gadis menginterupsi Gerry. Pria itu menoleh, ia tersenyum saat melihat Laura ada di rumah sakit itu.
"Hai sayang, kamu sendiri?" tanya Gerry seraya mengedarkan pandangannya.
"Tidak, aku sedang bersama mama." Ujar Laura seraya menunjuk seorang perempuan seumuran dengan Gerry. Gerry tersenyum dan mempersilakan Laura untuk bergabung dengannya. Tak lama Fanny mendekat.
"Selamat siang Tuan, maaf jika putri saya mengganggu waktu anda." Ucap Fany tak enak hati. Bagaimana pun Gerry adalah atasannya pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
"Tidak perlu sungkan. Toh ini bukan di lingkungan kerja. Kenapa kau dan putrimu ada di sini?" tanya Gerry.
Fany menunduk, lalu tersenyum getir menatap Laura. "Laura sakit .... "
"Bukankah di rumah sakit kita ada pelayanan untuk keluarga tenaga medis?"
"Dokter langganan Laura ada di rumah sakit ini tuan." Lirih Fany. Di saat Gerry sedang berpikir bahunya ditepuk oleh Dian.
"Mas .... " ---- "Lho dokter Fany, Laura kalian di sini?" tanya dian terkejut. Dokter Fany hanya tersenyum ramah. Belum sempat Dian duduk seorang perawat menghampiri meja Gerry.
"Dokter Fany. Dokter Abraham menunggu di lantai 3 ruang kemoterapi." Kata perawat itu lalu berlalu setelah menundukkan kepalanya.
"Kemo? Siapa yang sakit dokter?" Dian menatap dokter Fany dan Laura.
"Aku, mama Zafa." Jawab Laura. Dian hanya terpaku dan menutup mulutnya tak percaya. Setahu Dian kemoterapi hanya untuk orang yang terkena kanker, dan itu Laura? Bagaimana bisa anak sekecil itu harus menderita sakit seperti itu.
"Kami harus pergi. Permisi nyonya Dian, tuan Gerry. Dengan tergesa-gesa Fany menarik tangan Laura. Meninggalkan pasangan itu dengan berbagai pertanyaan di benak mereka.
"Kenapa kamu keluar sayang?"
"Rian sudah datang. Jadi aku memutuskan untuk menemani suamiku tercinta agar tidak ada yang berani menggodanya." Tutur Dian seraya mengerlingkan matanya pada Gerry.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Wah sudah berapa hari ga up, othor sampai lupa jalan ceritanya 😂😂😂 Terimakasih untuk kalian yang Dm di IG ku menanyakan tentang kisah Rian ini.