
*******
"Apa kau sengaja menyiapkan kejutan untukku?" tanya Rian setelah mereka semua kembali ke kamar masing-masing.
"Bukan aku. Aku hanya membantu. Putrimu yang semangat memberi kejutan padamu. Aku saja tidak tau kapan kau berulang tahun." Ujar Velia, dia sudah kembali meringkuk ke posisi ternyaman nya.
Rian menarik tubuh Velia agar menyusup ke dalam pelukannya. Dengan memakai lengan Rian sebagai bantal, Velia meringkuk di pelukan Rian. Tak butuh waktu lama mereka berdua langsung terlelap.
.
.
.
Dina sudah tiba di Bogor tempat kedua orang tua Joe berada. Di sebuah rumah mewah yang berdiri di atas tanah seluas 2000 m². Keluarga Joe sedang berkumpul.
"Ayo turun .... " Joe mengulurkan tangannya pada Dina, namun gadis itu sepertinya enggan melangkah. Jantungnya berdebar sangat kencang. Bahkan jemari tangannya sudah basah karena berkeringat.
"Joe aku takut. Bagaimana jika mereka menolakku?"
"Ayolah sayang, mereka bukan orang-orang yang berpikiran kolot. Lagipula tante Sofia pasti sudah menceritakan tentang kamu pada mereka." Bujuk Joe.
Disaat kedua pasangan itu sedang saling adu argumen keluarga Joe ternyata sedang mengintip mereka dari balik jendela.
"Lihatlah kak, bagaimana putramu membujuk gadisnya. Bukankah dia sangat manis?" Ucap Sofia dan mendapat respon anggukan dari sodarinya yang lain.
"Kau benar sekali. Joe kita ternyata sudah dewasa."
"Ish ... kalian kan sudah punya anak masing-masing. kenapa masih saja memanggil anakku dengan panggilan itu." Gerutu Liana ibu dari Joe. ---- "Minggir kalian. Aku ingin menyambut menantuku." Liana menggeser tubuhnya dari kungkungan saudarinya yang lain.
"Dia itu baru calon menantumu kakak. Bisa jadi dia mungkin akan terpesona pada putraku Emil dan memilih menikah dengan anakku." Tutur Viona adik Liana nomor 2.
"Kau jangan jadi duri dalam daging Vio. Dia tetap akan menjadi istri Joe." Ketus Sofia.
"Galak sekali kau itu adik. Sekali-sekali dukung aku. Jangan kakak terus." Gerutu Viona. Meskipun ketiga bersaudara itu sudah berumur tetap saja ada halal yang di perdebatkan. Tanpa ketiganya sadari Joe dan Dina sudah masuk ke dalam rumah dan mendengar percakapan ketiganya.
Joe menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dia merasa keluarganya cukup aneh. Ia tak ingin Dina memiliki pandangan yang buruk akan hal itu.
"Ehem ... " Suara Joe membuat perhatian ketiga wanita paruh baya itu teralihkan.
"Eh sayang, kamu sudah sampai?" Liana mendekat dan memeluk putranya. Putra yang sudah lama sekali tidak pulang. Mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel karena kesibukan Joe.
"Aku rasa kalian lebih tau. Mama hilangkan kebiasaan buruk kalian ini. Ini sangat memalukan." Joe menatap ibunya seraya melirik Dina yang masih terpaku. Liana tau maksud dari putranya langsung memeluk Dina.
"Halo sayang, selamat datang di rumah kami." Sambut Liana.
__ADS_1
"Terima kasih tante ... "
"Panggil mama dong, jangan tante." Ujar Liana lembut Dina pun tersipu malu dan mengangguk.
"Baiklah mama ... "
Sofia dan Viona memeluk Dina dan Joe bergantian. Rumah mereka masih sepi karena kaum pria sedang sibuk mengais rejeki.
"Joe, kapan rencana kalian menikah?" tanya Liana saat mereka kini duduk di ruang tamu.
"Secepatnya ma, aku hanya punya waktu libur 10 hari. Jadi aku ingin memaksimalkan waktu agar kita memiliki kesempatan saling mendekatkan diri.
"Maaf nak Dina, apa nak Dina masih memiliki saudara?" Tanya Liana.
Deg!!
Wajah Dina memucat. Kenapa pertanyaan seperti ini lagi. Apa orang tua Joe juga akan bersikap sama seperti orangtua Dion jika tahu seluk beluk keluarganya?
"Sayang ... " Liana menyentuh lengan Dina hingga gadis itu tersentak kaget.
Liana menatap Joe, Joe hanya memberi isyarat agar mamanya tetap tenang.
"Kau melamun baby?"
"Ti-tidak Joe .... " Ujar Dina tergagap.
"Kenapa memanggil tante lagi? panggil mama sayang." Ucap Liana lembut.
"Baiklah jika begitu biar nanti kerabat tante yang akan menjadi perwakilan untuk keluargamu."
"Apa mama yakin, menginginkan Dina untuk menjadi menantu mama. Dina cuma gadis pembawa sial di keluarga Dina." Ujar gadis itu sendu. Air mata yang sedari tadi menghias di pelupuk mata tumpah tak tertahankan.
"Sshh .... hei jangan menangis." Joe meraih tubuh Dina dan menyembunyikan gadis itu dalam pelukannya. Liana dan kedua saudarinya hanya menatap iba kearah Dina.
Dina masih terus menumpahkan air matanya. Liana menatap putranya memberi isyarat mata menanyakan tentang apa yang terjadi dengan Dina, namun Joe hanya menempelkan telunjuknya ke depan bibir. Sementara sebelah tangannya masih mengusap rambut Dina yang panjang.
Sesaat setelah mengatur nafasnya Dina mengurai pelukan Joe. Wajah gadis itu memerah karena malu. Terlebih kini kemeja Joe basah karena air mata Dina.
"Ada apa sayang, kenapa kau bicara seperti itu?"
"Papa Dina bilang, Dina anak pembawa sial. Gara-gara menyelamatkan Dina, Ayah kandung Dina meninggal. Lalu gara-gara Dina juga mama meninggal. Semua salah Dina. Dina cuma membawa kesialan bagi siapapun."
"Apa sekarang papa Dina baik-baik saja?" tanya Liana, dia merasa kasian pada Dina sekaligus geram pada pria yang menjadi ayah sambung Dina. Bisa-bisanya perkataan seperti itu terlontar untuk Dina. Meskipun dia ayah sambung seharusnya dia mengayomi anak sambungnya bukan malah menyudutkan Dina.
"Iya beliau baik-baik saja."
__ADS_1
"Berati kamu tidak membawa sial karena nyatanya dia masih hidup." Ucap Liana, Dina mengernyit tak mengerti dengan ucapan ibu Joe barusan.
"Pokoknya mengenai orang lain jangan kamu pikirkan. Mengenai pernikahan ini biar kami yang atur. Kamu cukup jadi mempelai wanitanya saja." Liana tersenyum penuh arti ke arah dua saudarinya.
"Lebih baik kamu istirahat sayang, biar Joe antar kamu ke kamar." Ucap Sofia.
"Iya tante ... Dina permisi dulu. Maaf jika tadi Dina terlalu emosional." Joe menarik tangan Dina dan membawa gadis itu ke kamarnya.
.
.
.
Hari telah berlalu Jeremy terus berteriak berusaha meredam setiap rasa sakit yang menyiksa tubuhnya. Anak buah Rian sengaja memberikan tempat terburuk untuk menyiksa Jeremy.
"A-apa salahku pada kalian?" pekik Jeremy. Paul hanya tersenyum sinis melihat Jeremy yang terus menggeliat bagai cacing kepanasan sambil mengerang.
"Salahmu kau sudah berurusan dengan tuan Al Fares." Ujar Paul. Mata Jeremy membelalak kaget. Dia sudah mundur saat dulu Rian memberi kesempatan dirinya untuk pergi. Tapi mengapa dia kembali di tangkap?
"Aku tidak mengusik tuanmu." Sanggah Jeremy.
"Kau mungkin tidak menyadarinya Je ... David itu musuh tuanku. Dia terobsesi dengan istri tuanku. Dan sayangnya kau lagi² bertindak bodoh dengan bekerja sama dengan pria itu." Tutur Paul.
"***** ... ba*j*ngan ... !!"
"Seharusnya kau tau di sini daerah kekuasaan tuanku. Kau harus berpikir ribuan kali untuk masuk ke wilayahnya." Lanjut Paul. Jeremy merasa bodoh telah mengabaikan informasi dari anak buahnya. Dan kali ini menyesal pun percuma saja.
"Bunuh saja aku dari pada kau menyiksaku seperti ini." Ujar Jeremy pasrah. Tubuhnya teramat membutuhkan obat-obatan terlarang itu. Tapi anak buah Rian justru malah membakar semuanya di hadapan dirinya.
"Aku hanya menjalankan perintah tuanku. Jadi kau tunggu saja waktu yang tepat. Jika bed*bah itu sudah di eksekusi mungkin giliranmu akan segera tiba.
Jeremy rasanya ingin membenturkan kepalanya ke tembok agar segera mati.
Dan kesempatan itu benar-benar tiba saat Rian mengumpulkan semua anak bbuahnya di aula. Paul meninggalkan Jeremy. Merasa ada kesempatan Jeremy berulang kali membenturkan kepalanya hingga ia mengalami pendarahan di otak dan akhirnya ia tewas.
Sementara itu David sudah di bawa oleh dua anak buah Rian. Dengan mata tertutup kain hitam Rian memutuskan membuang David di sebuah kepulauan terpencil. Jika beruntung pria itu akan hidup. Jika tidak semua justru akan terasa mudah bagi Rian. Melenyapkan David secara halus.
Awalnya dia berpikir untuk membuat David mau mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Stevie. Tapi sepertinya itu adalah suatu ide yang buruk. Mengingat Stevie pun adalah wanita berbahaya. Rian tak ingin mengambil resiko jika keduanya bersatu. Biarlah kali ini dia memilih jalan yang buruk untuk menyelamatkan keluarganya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Selamat membaca. Senin bagi vote nya donk manis. Like nya di tekan juga ya
Sambil nunggu Joe dan Dina, atau Veli dan papi Rian. Mampir juga yuk ke novel kak Eet Wahyuni Shandi.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini.