
*********
Dian dan Gerry akhirnga membawa Zafrina pulang. Zafa dan yang lain sedang bermain bersama. Mereka menyambut Zafrina dengan senang, Gadis itu kembali tersenyum meskipun wajahnya sembab. Dian menatap sedih ke arah putrinya. Gerry mendekati sang istri lalu mendekap nya.
"Bersabarlah, putriku butuh penyesuaian. Jangan dipaksa, nanti takutnya dia malah trauma. Hubungi nyonya Santika, sesibuk apapun beliau mengurus cucunya pikirkan juga perasaan Zafrina. Jika mereka tidak bisa memperlakukan putriku dengan baik jangan harap aku memberikan ijin pada mereka untuk menemui Zafrina." Kalimat yang semula lembut tertuju pada Dian, kini berubah penuh ancaman tertuju pada keluarga Rian. Dian hanya mengangguk, ibu 5 anak itu tidak banyak membantah. Bibi Esih datang dengan menggendong bayi gembul Zafia.
Gerry langsung mengambil alih Zafia dan membawa bayi itu pada keempat kakak mereka, Pria berhati lembut itu meninggalkan Dian, Dian hanya mendesah panjang. Jika suaminya sudah diam begini pasti pria itu sedang marah.
Di kediaman Rian, Setelah kepulangan Dian dan keluarganya, Dina datang menjenguk bersama Joe. Joe membawa satu paper bag besar dan menyerahkannya pada Velia.
"Nyonya Veli, ini untuk putra anda. Selamat atas kelahirannya." ucap Joe tulus. Kemarin saat menjenguk Velia, Joe tidak memiliki kesempatan untuk menyapa istri dari bosnya itu.
"Terima kasih Joe." Dina mengelus pipi Raiden dengan gemas.
"Dia lucu sekali Joe. Aku jadi tidak sabar menghitung hari," ujar Dina sambil mengelus perutnya yang bulat besar itu.
"Sebentar lagi kita akan memilikinya juga sayang"
Dina dan Velia sibuk membicarakan banyak hal, termasuk seputar merawat bayi dan lain-lain.
Rian menerima telepon dari Santika. Wanita paruh baya itu mengadu pada Rian mengenai telepon dari Dian barusan. Rian menjauh duduk di dekat kolam renang. Ia menekan pelipisnya yang berdenyut. Dia harus berhati-hati jika berurusan dengan putrinya. Salah sedikit saja, tidak hanya akan membuatnya kehilangan hak bertemu Zafrina tapi mungkin juga putrinya akan meninggalkannya. Rian mengusap wajahnya frustasi. Rian kembali duduk di sebelah Joe, pria itu melihat tuannya tak seperti biasanya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi tuan?"
"Kepalaku sakit Joe... " desis Rian. Velia menoleh menatap Rian cemas.
"Kamu sakit, honey?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sayang. Kalian lanjutkan saja mengobrol nya aku akan ke kamar." Rian meninggalkan ruang tamu. Sebenarnya Velia mengkhawatirkan Rian, tetapi dia tidak bisa meninggalkan tamunya.
"Biar saya yang mengurus, tuan Rian, nyonya."
"Joe, ini di rumah berhentilah berkata formal padaku."
Joe tersenyum lalu mengangguk. Dia lantas menyusul Rian ke kamar. Setelah Joe mengetuk pintu, dan mendapat ijin masuk. Dia segera menemui tuannya.
"Ada apa, tuan?"
"Gerry mau mencabut ijin bertemu Zafrina. Apa yang harus aku lakukan, Joe?"
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Zafrina merasa tak diacuhkan, dia juga merasa kami lebih menyayangi Raiden. Padahal itu sama sekali tidak benar."
Rian tampak berpikir, dia lalu mengangguk setuju. Sepertinya perlu dicoba saran dari Joe.
"Panggilkan dokter Erik kemari. Ku harap ke depan tidak akan banyak masalah lagi. Jangan lupa Juga terus pantau perkembangan organisasi kita. Meskipun aku sebenarnya ingin berhenti di dunia bawah. Tapi aku juga perlu memikirkan nasib mereka semua."
Joe lalu segera menghubungi dokter Erik sesuai perintah Rian.
.
.
.
__ADS_1
Sudah seminggu sejak Zafrina di bawa pulang lagi oleh Dian dan Gerry. Kini Santika sering datang ke mansion Dian. Setiap berada di mansion Gerry, Mata Santika selalu awas menatap bagaimana cara Dian mengurus kelima buah hatinya. Perasaan Santika benar-benar takjub melihat bagaimana Dian begitu lembut menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari anak-anak nya.
Santika mendekati Zafrina. Gadis itu sudah kembali ceria, bahkan Zafrina sangat menyayangi Zafia.
"Sayang, kamu sedang apa?"
"Main dengan dedek Fia."
"Wah, dedek Fia enak ya? punya banyak kakak. Sementara dedek Raiden di rumah ga punya teman," ucap Santika seakan menyindir Zafrina. Dian hanya diam karena dia tidak ingin terlalu memaksa pikiran putrinya untuk menerima kehadiran adik baru di keluarga papinya.
Zafrina terdiam menatap sang nenek. Dia tampak berpikir, gadis kecil itu membayangkan Raiden yang sendirian bersama Velia pastilah merasa sepi. Tidak seperti di rumahnya sekarang yang dimana ada kakaknya Zafa, Zayn, Zayana dan Judy.
"Oma, nanti juga ketempat dedek Raiden?"
"Iya tentu saja sayang, dedek Raiden kan juga cucu oma seperti kakak Inna."
"Boleh Inna ikut?" wajah Santika langsung berbinar cerah.
"Benar, Inna mau ikut oma?" Zafrina mengangguk.
Dian tersenyum pada Santika, akhirnya pengorbanan ibu dari Rian itu membuahkan hasil. Setelah Gerry pulang dari kantor, Santika meminta ijin membawa Zafrina. Dengan segala macam ancaman yang Gerry berikan akhirnya Santika berhasil mendapat ijin membawa cucu pertamanya.
Rian tersenyum senang melihat putrinya datang, Dia berjongkok memeluk Zafrina dan menghujani bocah itu dengan ciuman.
"Welcome home, sayang. Papi rindu sekali sama kamu." Meskipun setiap hari dirinya dan Zafrina saling teleponan tapi Rian tetap saja merindukan aroma tubuh putrinya bercampur bedak bayi yang dipakai oleh Zafrina.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
1 episode lagi end.