
********
Pada akhirnya sedikit demi sedikit Zafrina mulai bisa menerima kehadiran adik barunya. Bahkan gadis itu sangat senang ketika dilibatkan oleh Velia untuk membantu mengurusi baby Raiden. Seperti saat ini Zafrina ikut diajak ke rumah sakit untuk imunisasi baby Raiden. Baby Raiden kini berusia 3 bulan. Zafrina, gadis itu sejak tadi tampak Exciting melihat dokter yang menyuntik adiknya. Namun saat adiknya menangis Zafrina langsung buru-buru membuka tas dan memberikan dot ASI kepada Raiden. Sang dokter dan Velia tersenyum melihat kesigapan gadis itu.
"Mami, setelah ini kita kemana?" Tanya Zafrina sambil mendorong stroller Raiden. Namun di persimpangan pintu masuk Zafrina seperti melihat Joe berlarian mengikuti brankar yang didorong perawat.
"Mami, bukannya itu uncle Joe?" tanya Zafrina. Velia langsung menoleh. Dan benar saja kata putrinya, Joe sedang berdiri dengan cemas di depan pintu IGD.
Velia mengambil alih stroller Raiden dan tangan satunya menggandeng tangan Zafrina. Dia berjalan setengah berlari menghampiri Joe.
"Joe, ada apa?"
"Aku juga tidak tahu, Tadi kata bi Sulis, Dina pingsan saat berada di taman." Tampak jelas Joe begitu khawatir dengan kondisi Dina saat ini.
Velia segera menghubungi mamanya agar menyusulnya di rumah sakit. Dia juga ingin berada di sana memastikan kondisi sahabatnya.
Tak lama Bianca datang bersama Daniel. Sejak Daniel pensiun, kini perusahaan Daniel berada di bawah naungan Al Fares company yang di pimpin oleh Rian.
"Ada apa sayang?"
"Mama tolong bawa pulang Inna dan Raiden dulu ya, Veli mau memastikan kondisi Dina dulu," kata Velia. Bianca dan Daniel tanpa banyak kata langsung membawa kedua cucunya pergi.
Zafrina tidak banyak bicara, dia tahu situasinya sedang tidak baik. Dia hanya menurut mengikuti oma dan opanya untuk pulang ke rumah. Velia mengecup kening Zafrina sesaat sebelum gadis itu pergi.
Dokter keluar dan memberitahu kondisi Dina pada Joe. Dina mengalami anemia, dan dokter menyarankan sebaiknya dilakukan operasi untuk menghindari resiko lainnya yang akan timbul.
Joe masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Velia. Sesampainya di bilik dimana tadi Dina mendapat penanganan, Joe membuka tirai terlebih dahulu. Wajah Dina tampak sangat pucat. Joe berulangkali mengecup kening Dina tanpa sadar air matanya mengalir.
Dina mengernyit saat merasa keningnya basah. Dia mengangkat kepalanya dan menatap wajah sangat suami lembut.
"Kenapa menangis Joe? aku baik-baik saja. Tadi mungkin aku terlalu bersemangat makanya pingsan."
"Sayang, dokter menyarankan untuk operasi, karena kondisimu sekarang. Apa kau keberatan jika tidak jadi melahirkan secara normal?"
"Kamu ini bilang apa? Normal ataupun sesar tidak jadi masalah. Toh sama-sama keluarnya dari perutku. Yang penting bayi kita lahir dengan selamat." Dina tersenyum lembut pada Regan.
Velia melihat pasangan itu pun ikut tersenyum bahagia. "Jika begitu aku pulang dulu, Joe."
"Baik, nyonya." Joe menundukkan kepalanya di hadapan Velia, namun hasilnya kepalanya malah di pukul oleh wanita itu.
"Berhenti bersikap formal di hadapanku." Velia memang tidak menyukai sikap Joe yang terlalu kaku padanya. Namun Joe selalu beralasan jika itu semua dia lakukan karena dia menghormati Velia sebagai istri tuannya.
"Semangat ya Din, nanti jangan lupa kabari aku." Dina tersenyum lalu mengangguk. Velia segera pergi menyusul papa dan mamanya. Karena Raiden pasti akan rewel jika ditinggal terlalu lama.
__ADS_1
Waktu operasi Dina pun sudah tiba. Saat Dina diminta untuk puasa, Joe bahkan ikut-ikutan tidak mengisi perutnya sama sekali sangking gugupnya menghadapi operasi Dina. Sementara Dina yang terbaring di brankar, sikapnya justru berbanding terbalik dengan Joe. Dina tampak tenang dan adem ayem saja menghadapi operasinya.
"Sayang, jangan tegang, ya," ujar Joe, tapi Dina justru malah tertawa melihat tangan Joe yang menggenggam tangannya begitu erat.
"Sepertinya kamu yang sedang tegang, Jo?"
Tak lama para dokter yang akan menangani Dina sudah berkumpul. Sebelumnya mereka semua berdoa demi kelancaran proses operasi nanti. Joe benar-benar tampak tegang saat punggung belakang Dina mulai mendapat suntikan anestesi.
Dina masih tetap tersenyum dan mengusap tangan Joe, meski dokter mulai melakukan pembedahan. Joe menelan ludahnya kasar. Meskipun dia sudah pernah membu*nuh saat menjadi kaki tangan Rian di organisasi tapi pemandangan kali ini sangatlah berbeda. Joe berjanji dalam hatinya akan membahagiakan Dina dan anaknya nanti.
Saat Joe sedang diam merenung, suara tangisan bayinya membuat Joe tersadar dan langsung menoleh.
"Selamat, Tuan. Bayi anda Laki-laki," ujar dokter kandungan Dina.
"Terima kasih, sayang." Joe langsung mengecup bibir Dina tanpa mempedulikan para staf medis yang baper melihat kemesraan mereka.
"Siapa namanya Joe?"
"Kamu ingin memberinya nama siapa?"
"Bagaimana jika kita beri nama David?"
"Boleh, siapapun nama putra kita, dia akan tetap menjadi kebanggaan kita." Dina mengangguk setuju.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, Raiden sudah memasuki usia pra sekolah. Baik keluarga besar Rian dan keluarga besar Gerry, kini mereka sudah bisa kembali akur, rukun dan saling mendukung satu sama lain. Zafrina memutuskan terus tinggal bersama Rian, dan sesekali pulang ke rumah Dian. Zafrina merasa bersama sang papi dia tidak pernah dikekang dan slalu dituruti segalanya keinginannya. Bahkan Rian tidak pernah menolak setiap apapun yang Zafrina kehendaki. Cara mendidik yang paling Dian hindari namun justru malah dilakukan oleh Rian kini dalam mendidik Zafrina. Akan kah nantinya itu akan berimbas buruk pada Zafrina?
"Hoek... hoek... hoek." Rian bangkit dari tidurnya saat mendengar suara kesakitan Velia.
"Ada apa, baby?"
"Aku juga tidak tahu, honey. Perutku rasanya mual," lirih Velia, namun sedetik kemudian tubuhnya limbung lalu terjatuh di dalam pelukan Rian.
Rian panik, dia langsung mengangkat tubuh Velia dan membawanya ke atas ranjang. Rian segera menghubungi dokter keluarganya. Tak berselang dokter Erik pun tiba dan langsung bergegas masuk ke kamar Rian.
Dengan wajah serius dokter Erik mulai memeriksa Velia. Alisnya berkerut sesaat namun saat memeriksa perut Velia, Dokter Erik tersenyum.
"Sepertinya nyonya hamil, tuan."
"Apa anda yakin, dokter?" tanya Rian dengan raut wajah berbinar cerah.
"Anda bisa membeli alat tes kehamilan atau langsung datangi dokter obgyn untuk memastikan nya. Tapi 70% saya yakin nyonya hamil."
Setelah dokter Erik pergi, dan Velia sadar dari pingsannya, Rian langsung memeluk Velia dan menghujani Velia dengan kecupan-kecupan lembut di seluruh wajah Velia.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih honey?" tanya Velia bingung.
"Kamu hamil baby. Aku sangat senang sekali." Velia tersenyum, dia mengusap perutnya dengan penuh syukur. Zafrina dan Raiden masuk ke kamar kedua orang tuanya. Zafrina mendengar apa yang tadi papinya katakan. Ia pun ikut senang akan memiliki adik bayi lagi. Dia berharap adik bayinya nanti berjenis kelamin pempuan dan tidak merepotkan dirinya.
8 Bulan kemudian
"Selamat tuan, bayi anda berjenis kelamin Laki-laki." Ujar sang dokter yang membantu persalinan Velia. Rian tersenyum bahagia begitu pun juga dengan Velia.
Setelah dibersihkan, Velia dan bayinya di pindahkan ke ruang VVIP. Zafrina masuk dengan wajah tertekuk kesal.
"Huh, laki-laki lagi .... " Kesal Zafrina.
Velia tersenyum menanggapi kekesalan putri sambungnya itu, karena ia tahu setiap hari Zafrina selalu berharap memiliki adik perempuan. Tapi harapan gadis kecil itu kandas.
"Apa Inna mau memberi nama adik bayinya? tanya Velia.
"Boleh mami?" binar mata Zafrina langsung cerah.
"Tentu saja sayang." Zafrina tampak berpikir sejenak
"Inna bingung mamy." Gadis kecil itu kembali manyun karena merasa belum menemukan nama yang cocok untuk adiknya.
Rian mendekat dan mengangkat tubuh putrinya yang sudah cukup besar. Apalagi Zafrina terbilang tinggi di usianya yang sudah menginjak 10 tahun.
"Bagaimana kalo kita beri nama adiknya Ravelo."
Zafrina mengangguk angguk dengan senang, "Boleh papi namanya bagus." Tak lama Raiden masuk bersama Bianca. Dia berlari mendekati box bayi adiknya.
"Hore adiknya sama seperti Raiden. Ye... ye... adikku... adikku." Zafrina hanyak mengerucutkan bibirnya
Semua tampak senang dan bahagia melihat Zafrina dan Raiden. Rian mengecup puncak kepala Velia.
"Terima kasih sayang, Terima kasih untuk anak-anak yang luar biasa ini. Terima kasih karena kamu sudah mencintai aku yang penuh dengan kekurangan ini."
"Jangan bicara begitu. Karena sejak dulu aku memang sudah terjerat cintamu honey. Kamu duda kece yang tampan. Bagaimana bisa aku melewatkanmu," ujar Velia tersenyum menggoda.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Akhirnya selesai juga kisah mereka. Terima kasih untuk kalian semua.
Mampir juga di karya teman-teman author yuk!! Karya mereka juga ga kalah serunya. See you di cerita cintanya Zafrina ya. Apakah hidupnya akan seindah kisah cinta orang tuanya? atau justru dia akan terjebak dengan keisengannya? tunggu saja oke
__ADS_1