
*********
Semakin hari Rian dibuat pusing dengan permintaan Velia yang seolah mengada-ada. Beberapa hari yang lalu dia bilang ingin makan sesuatu yang dibungkus daun pisang. Namun tidak ada satupun makanan yang dibawakan Rian itu disentuh oleh Veli melainkan semua Rian yang harus menghabiskannya dengan alasan bayi mereka yang mau.
Seperti hari ini, Veli terus menempel pada Rian hingga membuat Rian sulit untuk beraktivitas. Menempel dalam arti yang sesungguhnya karena Veli sama sekali tak mau melepas lengan Rian. Bahkan ketika ke kamar mandi Velia pun harus ikut hingga membuat Rian tak habis pikir. Apakah ibu hamil memang suka berbuat hal yang aneh-aneh.
"Veli sayang, jika kamu seperti ini, bagaimana aku bisa bekerja?"
"Bekerja ya bekerja saja. Atau jangan-jangan kamu sudah bosen sama aku, iya? aku udah ga menarik lagi, gitu?" Mata Velia sudah berkaca-kaca, Rian hanya mengusap wajahnya kasar.
"Tidak baby, aku tidak akan bosan denganmu, apalagi kamu adalah canduku. Semua yang ada padamu adalah canduku" bujuk Rian.
Velia melepas kaitan tangannya di lengan Rian. Perasaan Rian mulai tidak enak melihat wajah Veli yang murung.
"Baby .... "
"Aku akan pulang, aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu." Velia meraih tasnya yang ada di sofa. Rian menahan tangan Veli dan memeluk wanita sensitif itu.
"Baby ... maaf aku tidak bermaksud."
Velia berbalik dan mengusap wajah Rian. " Aku tidak apa-apa. Aku akan pulang agar kamu bisa bekerja dengan leluasa." Velia tersenyum namun Rian masih dapat melihat jika tatapan Velia begitu sendu. Ria merasa telah menyakiti hati Velia.
"No, aku mau kamu di sini." Pinta Rian dengan wajah memelas.
"Hmm ... baiklah, aku akan di sini. Tapi aku ingin tidur."
"Baiklah, Istirahat lah di ruanganku." Rian membawa Velia masuk ke ruang pribadinya.
"Maafkan aku baby."
"Aku tidak apa-apa honey. Aku hanya tiba-tiba merasa lelah" lirih Veli.
"Apa perlu aku panggilkan dokter?"
"Tidak perlu."
Akhirnya setelah Velia terlelap Rian kembali ke ruangannya. Di sana Joe dan Danzo sudah menunggunya.
"Bagaimana Joe?"
"Semua sudah siap tuan. Kita tinggal berangkat."
"Baiklah jika begitu. Aku pasrahkan semua pekerjaan sementara pada kalian."
"Baik tuan." Sahut Joe dan Danzo serempak.
Rian membuka pintu ruang pribadinya. Ia mengangkat tubuh Velia ala bridal style dan membawanya keluar lewat lift khusus.
__ADS_1
Joe setia mengekor di belakang Rian. Dia jadi membayangkan andai saja Dina hamil pasti dia akan memperlakukan istrinya itu dengan baik dan memanjakannya.
Joe membukakan pintu mobil untuk Rian. Pria itu dengan hati-hati memasukkan tubuh Veli lalu Rian ikut duduk di sebelah nya.
"Kita berangkat sekarang tuan?"
"Ya .... "
Joe melajukan mobil mewah itu meninggalkan kota Jakarta dengan segala kepadatannya.
Rian membelai wajah Velia yang begitu lelap bersandar di bahunya. Rasanya tak akan cukup kata untuk mengungkapkan perasaannya saat ini pada gadis yang ia nikahi 6 bulan lalu. Gadis yang membuatnya mengerti arti memberi dan menerima dalam sebuah hubungan.
"Aku mencintaimu baby. Sangat mencintaimu," Bisik Rian.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam. Mobil yang dikemudikan oleh Joe tiba di sebuah pekarangan rumah yang cukup luas. Hawa sejuk nan dingin membuat siapa saja akan betah berada di sana berlama-lama.
Velia membuka matanya. Kaget, tentu saja. Velia sampai ternganga tak menyangka jika suaminya akan membawa dia kembali ke rumah itu.
"Ho... ney ini?" air mata Velia seketika tumpah. Dia langsung memeluk tubuh Rian meski terhalang perut buncitnya.
"Kamu tau dari mana aku kangen rumah ini?" tanya Velia dengan wajah yang benar-benar berbinar tak seperti tadi saat di kantor Rian.
Apa memang secepat itu mood ibu hamil berubah? Rian tersenyum seraya mengecup kepala Velia. Joe menurunkan satu koper besar dan membawanya masuk. Karena Dijah sudah membuka pintu rumah itu.
"Selamat datang nona" Sapa Dijah.
"Ya begitulah nona, faktor usia membuat simbok jadi sakit-sakitan." Wajah Dijah terlihat sendu. Tak ada lagi Dijah yang centil dan kemayu. Kini hanya ada sosok gadis yang lebih dewasa karena keadaan yang menuntutnya untuk berubah.
"Aku do'akan semoga bibi Sumi lekas sembuh."
"Terima kasih nona."
Joe kembali ke mobil dan mengambil beberapa paper bag yang berisi makanan dan belanjaan lalu menyerahkannya pada Dijah.
Setelah bercakap-cakap sebentar, Joe pamit pergi meninggalkan kedua pasangan itu. Rian dan Velia saat ini ada di dalam kamarnya.
"Honey, kita di sini untuk berapa hari?"
"Kamu maunya berapa hari?" tanya Rian balik.
"Kenapa balik bertanya."
"Karena aku ingin kamu memuaskan rasa rindumu pada rumah ini."
"Aa ... terima kasih sayang. I love you." Velia menghujani wajah Rian dengan ciumannya.
"Baby jangan buat aku turn on" desis Rian karena tangan Velia terus bergerilya meraba sana sini hingga menyentuh little bro.
__ADS_1
"Honey aku mau itu di sini" Velia mulai membuka kancing kemeja Rian satu per satu lalu dengan gerakan lembut Veli menanggalkan kemeja Rian.
"Baby, tapi ini masih siang."
"Aku ga mau tahu, aku mau kamu."
Velia mulai mengecup bibir Rian lalu melum*tnya dengan rakus. Rian akhirnya tak kuat menghadapi serangan Velia, ia pun membalasnya dengan tak kalah panasnya.
Sesuatu yang mereka inginkan pun akhirnya terjadi, dengan hati-hati Rian menyatukan inti tubuhnya. Suara lenguhan Velia mengawali pergulatan panas siang itu.
Rian menutup tubuh Velia dengan selimut. Ibu hamil itu langsung terlelap setelah kelelahan bermain. Rian masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai dia keluar dari kamar menuju dapur.
"Dijah, tolong kamu panaskan makanan yang tadi saya bawa."
"Baik tuan .... "
Rian kembali ke kamar, tangannya terulur membelai wajah sang istri yang begitu lelap.
"Baby ... bangun dulu."
Velia perlahan membuka kelopak matanya. "Aku masih ngantuk."
"Mandi dulu baby, setelah ini kita makan. Putra kita perlu makan ini sudah hampir sore."
"Tapi aku lelah" rengek Velia manja.
"Aku tahu, nanti setelah makan kamu boleh kembali tidur" bujuk Rian.
"Aku mau dimandiin kamu."
"Baiklah, sesuai keinginanmu tuan putri manja." Rian tersenyum. Dia membuka selimut yang membungkus tubuh istrinya. Rian mengangkat tubuh polos Velia. Sialnya tubuhnya langsung bereaksi melihat tubuh Velia yang tak terbungkus sehelai benang.
"Baby, ini siksaan yang berat." Rian mendudukkan tubuh Velia di tepi bathtub.
Tangan Velia bergerilya menyusup ke dalam kaos Rian. "Jika begitu puaskan dirimu honey."
"No, kamu ga boleh terlalu capek" meskipun kini Rian sekuat tenaga menahan terjangan hasrat melihat wajah Velia yang memerah ditambah lagi ia saat ini tengah menggigit jari telunjuknya. Pemandangan yang sungguh menyiksa iman. Namun tanpa Rian duga Velia justru dengan nakalnya menarik celana training nya hingga melorot dan beraksi dengan mulut dan jemari lentiknya.
"Aargh ... baby." kepala Rian menunduk menatap wajah memerah Velia. Sepertinya istrinya juga dalam hasrat yang sama. Rian mencengkeram rambut Velia, agar tak menutupi wajah cantiknya yang sedang memberikan pelayanan untuk little bro nya.
"Jika kamu takut menyakiti putra kita, aku akan membuatmu merasakan enak dengan cara lain." Desis Velia lalu ia kembali memasukkan little bro kedalam mulutnya.
Menjelang sore keduanya menyelesaikan mandi enak lalu mereka segera makan. Karena perut mereka sudah keroncongan sejak tadi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
like komen dan gift nya jangan lupa ya
__ADS_1