
********
Pada akhirnya Rian mengantar Zafrina pulang, bahkan baru saja mobilnya berhenti Zafrina langsung membuka sabuk pengaman dan mendorong pintu mobil Rian, lalu berlari masuk kedalam rumah. Zafrina mencari suara papanya dan tanpa berpikir panjang Zafrina langsung menghambur memeluk Gerry. Rian yang menyusul gadis kecil itu terpaku melihat kelembutan Gerry dalam memperlakukan putrinya.
"Maafkan aku." ujar Rian lirih.
"Kenapa harus minta maaf?" tanya Gerry seraya terus mengusap rambut Zafrina yang bersandar di bahunya.
"Karena mengembalikan Zafrina dalam suasana hati yang buruk."
Gerry tersenyum menanggapi ucapan Rian. Dia tahu putri pertamanya itu sangat moody, mudah sekali berubah suasana hatinya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kamu hanya harus fokus pada istri dan putramu dulu. Biarkan Zafrina di sini sementara waktu untuk memulihkan suasana hatinya."
"Baiklah jika begitu, aku titip dia," Rian mengecup puncak kepala Zafrina. Gadis itu sama sekali tak ingin melihat ke arah Rian. Dia memilih mendekap erat leher Gerry dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher papanya itu.
.
.
.
Rian kembali ke rumah sakit dengan suasana hati yang ikut memburuk. Dia hanya sekilas mendatangi brankar Velia dan mengecup kening istrinya itu, lalu Rian memilih duduk di sofa karena Veli masih dikelilingi oleh kedua mamanya.
"Rian, mana Ina?" tanya Santika. Rian menatap mamanya lalu menjawab singkat.
"Pulang... "
"Lho kenapa pulang?"
"Dia lelah mama. Jadi aku mengantarnya pulang." Setelah mengatakan semua itu Rian kembali diam, matanya tak lepas menatap Velia yang juga ternyata sedang menatap dirinya.
Mereka berbicara lewat mata. Velia dapat merasakan kemarahan yang tertahan dari mata suaminya.
Tak lama, karena Velia ingin beristirahat akhirnya mertua dan kedua orang tuanya pulang. Rian mendekati brankar Velia. Istrinya sudah merentangkan kedua tangan kearahnya. Rian tersenyum sendu lalu masuk kedalam pelukan Velia.
__ADS_1
"Aku gagal menjadi papi yang baik untuk Zafrina."
"Honey, kamu tidak gagal. Kamu adalah papi yang baik."
"Tapi Zafrina lebih nyaman bersama Gerry daripada bersamaku," Pria yang dulunya arogan ini seperti kehilangan taringnya. Dia menangis mengingat air mata putrinya tadi.
"Membiasakan diri itu bukan perkara yang mudah, apalagi Zafrina sejak masih bayi selalu bersama keluarga mbak Dian. Bukankah itu wajar jika dia lebih banyak bergantung pada mereka. Aku yakin suatu saat Zafrina akan sepenuhnya menerima kamu dengan baik. Hanya perlu waktu untuk kamu bersabar sebentar lagi," tutur Velia Tangannya bergerak mengusap punggung suaminya. Pria yang selalu Velia lihat begitu kuat kini terlihat begitu rapuh, dan Velia tidak ingin prianya tampak seperti itu.
Rian mengurai pelukannya. Tangannya bergerak mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Maafkan aku," lirih Rian.
"Jangan berkata begitu honey. Aku merasa menjadi istri yang jahat jika kamu merasa bersalah seperti ini. Bukankah kita memang harus berbagi suka dan duka?"
"Hmm, kamu benar. Istirahatlah, kamu pasti lelah."
"Tidak honey, aku meminta mereka pulang agar aku punya banyak waktu untuk mendengar keluh kesahmu."
"Kamu sudah mendengarnya baby. Sekarang tidurlah. Biar aku yang menjaga putra kita."
"Tidurlah baby."
Dan tak lama Velia terlelap. Dia memang lelah, tapi saat melihat wajah suaminya bersedih Velia seakan melupakan rasa lelahnya. Kini dia sudah merasa tenang melihat Rian sudah kembali seperti sebelumnya.
Rian terus memandangi wajah Velia. Segaris senyum terbit dari bibirnya mana kala mengingat kejadian barusan. Rian merasa malu sudah menangis di hadapan Velia.
"Terima kasih honey, berkatmu aku bisa mengeluarkan semua beban di hatiku." Rian mengecup jemari Velia dengan lembut.
Rian mengeluarkan ponselnya dan memandangi Wallpaper ponselnya dimana disana ada foto mereka bertiga tersenyum hangat.
"Maafkan papi sayang, papi janji akan selalu melindungimu. Papi janji tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."
.
.
__ADS_1
.
Di lain tempat, Joe dan Dina sedang makan malam di sebuah restoran. Dina yang malam itu memakai dress sebatas lutut berwarna merah terlihat sangat cantik ditambah rambut yang diikat asal membuat dia tampak fresh meskipun sedang hamil.
"Dina... " Saat mendengar namanya disebut seketika Dina menoleh. Namun wajahnya langsung berubah masam melihat siapa yang memanggilnya.
"Hmm... ada apa?" tanya Dina ketus. Joe menggenggam jemari Dina erat.
"A-aku ingin minta maaf." ujar Dion mantan pacar Dina. Dina hanya tersenyum miring mendengar permintaan maaf itu.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan." jawab Dina tak acuh. Dia terus menikmati makanan yang tadi dipesannya. Joe hanya diam menjadi penonton.
"Jangan sombong kamu, putraku sudah berbaik hati meminta maaf padamu." Ketus ibu Dion tak terima. Dina yang mendengar ucapan mantan calon mertuanya justru tertawa renyah.
"Ternyata anda tidak berubah ya nyonya. Saya tidak meminta putra anda untuk meminta maaf jadi sudah jelas 'kan? sebaiknya anda dan putra anda pergi dari sini sebelum saya kehilangan selera makan saya," ujar Dina tanpa menatap lawan bicaranya.
"Untung putraku tidak menikahimu. Dasar wanita tidak punya sopan santun." Ibu Dion langsung berkata seperti itu. Namun bukan Dina yang menanggapi melainkan Joe. Pria itu tidak Terima istrinya dihina seperti itu. Dia mencengkeram pipi ibu Dion dengan kencang.
"Jaga mulut anda nyonya, jangan sampai saya menghancurkan rahang anda karena ucapan anda." desis Joe.
"Sayang, sudah! Jangan kotori tanganmu." Dina melepas cengkeraman tangan Joe.
"Sebaiknya anda pergi sebelum saya panggil pihak keamanan. Anda sudah mengganggu kenyamanan saya."
Dina menarik Joe dan melanjutkan makannya. Sepertinya calon anak mereka akan menuruni sifat Joe karena terlihat dari sikap Dina yang mendadak garang padahal gadis itu biasanya lemah lembut dan ceria.
Dion menarik ibunya meninggalkan Dina dan Joe. Namun tak dapat dibohongi sesekali matanya masih menatap Dina dengan sendu. Menyesal sudah pasti apalagi dia mengetahui Angel ternyata adalah wanita murahan.
"Baby, kamu sungguh mengesankan," ujar Joe.
"Karena mereka mengganggu makanku Joe. Kamu tahu aku dan putri kita butuh asupan gizi. Tapi mereka hampir merusak selera makanku." ujar Dina dengan pipi yang menggembung.
"Oh, baiklah. Makan yang banyak ya istriku." Joe tersenyum dan mencium pipi Dina yang kini terlihat membulat.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Lanjut ga ya?? ini udah termasuk happy ending 😄🔚