
********
Rian saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jantungnya serasa bagai dihantam benda keras saat mendapat telepon jika Velia terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan.
Danzo mengendarai mobil dengan cepat. Beruntung jalanan belum terlalu macet karena ini masih pukul dua. Ponselnya tidak pernah lepas dari telinga. Dia masih setia menerima laporan dari ibunya. Bahkan suara tangis Zafrina terdengar jelas. Bianca sedang berusaha menenangkan putri sambung Velia itu.
"Jadi bagaimana ma?"
"Dokter masih menanganinya, kamu cepetan kesini." ucap Santika dengan suara parau karena terlalu banyak menangis.
Setelah sambungan terputus Rian mengusap wajahnya kasar. Dia sebenarnya tadi sudah memiliki firasat buruk. Karena memang pagi tadi tubuh Velia lemas dan wajahnya pucat bahkan Rian sudah berniat untuk tidak berangkat bekerja namun Velia memaksa Rian untuk berangkat karena ada mertuanya dan mamanya yang sudah menjaga dirinya.
Sementara itu, dua orang dokter dan dibantu oleh perawat sedang menghentikan pendarahan dari inti tubuh Velia. Bahkan semua wajah petugas medis itu tampak tegang.
Denyut jantung bayi Velia terus dipantau, beruntung saat terjatuh posisi Velia miring dan tangannya melindungi perutnya hingga bayinya masih bisa di pertahankan namun kondisi Velia buruk karena dia kehilangan banyak darah.
Daniel masih berdiri dengan cemas di depan pintu ruang penanganan. Tak berselang lama dokter keluar dari ruangan itu.
"Keluarga pasien?"
"Saya ayahnya, dokter."
"Tolong ikuti saya. Ada berkas yang harus di tanda tangani karena kondisi pasien kritis.
DEG!!
__ADS_1
Jantung Daniel, Bianca dan Santika seakan dipukul dengan keras saat mendengar jika kondisi Velia kritis. Di saat semuanya masih syok, Rian berlari menghampiri keluarganya.
"Bagaimana kondisi istri saya dokter?"
"Anda suami pasien?" tanya dokter itu. Rian mengangguk cepat.
"Ikut saya tuan, ada berkas yang harus anda tanda tangani segera karena kondisi pasien benar-benar kritis." Rian masuk ke ruangan penanganan dimana bunyi alat EKG terdengar jelas dan hal itu membuat tubuh Rian seketika terasa lemas.
"Pendarahan istri anda cukup parah, dan beruntung saat jatuh nyonya masih bisa melindungi perutnya dari benturan. Saat ini kondisinya kritis dan dengan berat hati bayinya harus segera kami keluarkan.
"Tapi usia kandungannya masih belum cukup bulan dokter. Apa tidak apa-apa?" tanya Rian cemas. Dokter tersenyum samar. Wajar memang jika orang awam pasti akan ragu.
"Usia kandungan nyonya Velia memasuki usia 36 minggu tuan. Pada dasarnya semua sudah terbentuk dengan sempurna."
"Baiklah jika begitu dokter, saya akan menandatangani berkasnya. Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan mereka." Rian pun akhirnya menandatangani berkas-berkas persetujuan operasi. Ia juga meminta pada Dokter untuk mengijinkan dirinya mengikuti proses operasi.
Rian mengecup jemari Velia. "Kamu harus kuat beby."
3 dokter sudah bersiap di bantu oleh beberapa perawat. Rian sudah menetapkan aturan semua haruslah wanita dan tidak boleh ada tenaga medis pria di ruangan itu.
Rian menatap dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini dia melihat secara langsung proses kelahiran bayinya. Ia sungguh terharu saat dokter mengambil bayi Velia dari dalam perut. Hatinya berdesir saat bayi itu keluar masih terbungkus plasenta, dan saat plasenta nya pecah, bayinya langsung menangis dengan kencang seakan baru kehilangan kehangatan dari ibunya. Air mata Rian tak terbendung lagi. Bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Bahagia telah melihat buah hatinya lahir. Tapi dia sedih mengingat tak bisa memenuhi keinginan Velia yang ingin melahirkan secara normal.
Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu diletakkan di dada Velia, dengan instingnya dia mendekat ke arah pu*ting ibunya dan mulai menghisap. Rian tersenyum pilu, harusnya ini menjadi moment bahagia untuknya dan Velia.
"Tumbuhlah jadi laki-laki yang kuat dan bisa melindungi mami dan kakakmu, Raiden." ujar Rian. Setelah Velia selesai ditangani, ia di pindahkan ke ruang perawatan VVIP. Rian sengaja memesan kamar itu agar leluasa menjaga sang istri.
__ADS_1
Rian masih setia menunggu di sisi ranjang Velia. Dina juga tadi sempat berkunjung, namun karena dia sedang mengandung maka dia tidak bisa lama-lama di sana. Velia masih sama belum juga sadarkan diri. Namun dokter berkata jika kondisi Velia sudah stabil.
Bianca dan Daniel masuk ke ruangan dengan membawa paperbag berisi makanan untuk menantunya. Rian masih terlihat tak mempedulikan kehadiran mertuanya. Yang dia harapkan saat ini adalah Velia lekas sadar.
"Makanlah, kau butuh tenaga untuk istri dan putramu." Daniel menepuk pundak Rian. Pria blasteran bermata biru itu menoleh dan mengangguk lemah.
"Putriku pasti akan sedih melihat kondisimu saat ini." Akhirnya Mau tak mau Rian meraih paperbag yang tergeletak di atas nakas. Dia mulai membuka penutup tempat makannya dan menyuapkan sesendok penuh nasi beserta lauknya.
Rasanya tenggorokan Rian terhalang sesuatu hingga ia kesulitan menelan makanannya. Namun demi anak dan istrinya, Rian akhirnya menghabiskan semua makanan itu hingga tak ada yang tersisa.
"Papi .... " Suara cempreng Zafrina seketika membuat Rian menoleh. Dia semakin dihinggapi perasaan bersalah karena sempat mengabaikan putri pertamanya. Zafrina memeluk Rian dan menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.
"Papi .... kenapa mami tidak bangun-bangun?"
"Mami masih butuh banyak istirahat sayang." Rian mengusap rambut putrinya. Tak lama berselang Santika dan Anggara masuk ke ruang perawatan Velia bersamaan dengan perawat yang datang seraya mendorong box baby Raiden.
"Wah, itu adik Ina, papi?" Zafrina tampak sangat senang menatap bayi itu. Bayi kemerahan dengan rambut hitam tebal dan alis mata yang sama tebalnya seperti milik Rian. Raiden bagaikan Rian Versi mini. Dan Zafrina dengan gemasnya mencolek pipi Raiden hingga bayi itu merasa terusik dan menangis dengan keras. Bianca mencoba menenangkan baby R dengan mengayun-ayunkannya. Namun sepertinya bayi itu masih belum merasa nyaman.
"Suster, apa boleh jika baby nya disusukan ke ibunya?"
"Tentu saja nyonya. Anggara dan Daniel keluar ruangan sementara Rian masih memperhatikan bagaimana suster itu mulai membuka kancing baju Velia dan meletakkan baby R di atas dada Velia.
"Tuan, jepitlah pu*ting istri anda seperti ini agar bayi anda tidak tersedak." Rian mendekat dan melakukan apa yang suster katakan tadi.
Tak lama baby R mulai menyusu dengan kuat. Rian tersenyum penuh haru saat merasakan bagaimana putranya begitu rakus menghisap bagian favoritnya. Kini dirinya harus rela berbagi dengan putra tercintanya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sory, nunggunya lama.