Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 78. Suaramu Merdu


__ADS_3

*********


Meskipun suasana di kediaman Jonathan masih sangat sibuk berbenah dekorasi yang mulai diturunkan namun segala aktivitas itu tak bisa mengganggu suasana yang mulai menghangat di dalam kamar mandi Joe. Kedua insan itu saling mengagumi fisik satu sama lain. Joe benar-benar memperlakukan Dina dengan lembut.


"Akh ... geli Joe." desis Dina saat joe mempermainkan puncak bukit Dina yang menegang.


"Suaramu merdu sekali honey." Bisik Joe dan sedikit menggigit telinga Dina yang memerah.


"Su... sudah Joe. Aku tidak tahan."


Akhirnya Joe menyudahi kegiatan mandi bersama Dina. Setelah membilas tubuhnya dan sang istri Joe mengangkat tubuh Dina dan membawanya ke ruang ganti.


"Joe kamu mau apa?" tanya Dina heran saat Joe membuka kopernya.


"Mencari baju gantimu sayang, dan tolong jangan memanggilku Joe. Aku ini suamimu." Protes Joe di tengah sibuknya membongkar koper Dina.


"Maafkan aku honey." sesal Dina.


"Aku tidak memarahimu honey tapi aku mengoreksi panggilanmu padaku." Joe mengusap pipi Dina. Pria itu sudah membawa satu setel pakaian dalam dan satu dress berwarna Navi dengan hiasan pita di perut.


Dina mengenakan pakaiannya dengan bantuan Joe karena pria itu terus memaksanya.


"Kenapa suamiku sangat romantis sekali." Gumam Dina.


"Karena aku mencintaimu, dan kamu adalah wanita paling berharga setelah ibuku."


Setelah selesai berganti pakaian Joe membawa lagi koper Dina dan tasnya. Satu tangannya yang lain menggenggam jemari Dina.


"Kita mau kemana honey?"


"Bulan madu." Jawab Joe singkat. Dina menggigit bibir bawahnya mendengar jawaban singkat suaminya itu.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan orangtuanya dan semua anggota keluarga yang lain. Joe membawa Dina tanpa berkata-kata lagi menyisakan kebimbangan di hati Dina.


Joe dapat melihat jelas kekhawatiran Dina.


"Tenanglah, aku hanya ingin mengajakmu pergi ke pemandian air hangat dan menginap di sana selama 3 hari. Setelah itu kita kembali ke Jakarta."


"Kita tidak berpamitan dengan mama dan yang lain?" tanya Dina penasaran. Joe menepikan mobilnya di dekat hutan.


"Mereka sebenarnya besok sudah harus kembali ke Paris. Papa tidak bisa lebih lama lagi meninggalkan pekerjaannya, dan mama sudah tentu pasti mendampingi papa kemanapun.


"Lho aku kira mama memang tinggal di Bogor."


"Itu hanya rumah masa kecilku dulu. Sebenarnya mama 2 bulan lalu pulang ke Indonesia karena memang ingin mencarikan jodoh untukku. Tapi aku malah terjerat oleh pesonamu."


Joe kembali menjalankan mobilnya. Mereka tiba di sebuah penginapan yang tidak terlalu mewah namun cukup nyaman bagi Dina.


"Maaf ya tidak membawamu ke hotel berbintang." Ujar Joe. Namun tanpa diduga Dina tampak sangat senang.


"Apa kamu tidak keberatan honey?"


"Sama sekali tidak. Ini bagus sekali." Dina mengedarkan pandangannya.


"Syukurlah kamu suka." Ucap Joe lega. Keduanya masuk ke dalam kamar. Ruangannya benar-benar ala vintage namun Dina suka. Seperti kembali ke masa dulu saat dia masih bersama ibunya. Mendadak wajah Dina sendu mengingat ibunya yang ternyata memang meninggal karena di bunuh oleh pria tak berperasaan itu dan istrinya.


"Apa yang mengganggu pikiranmu baby?" Joe mengecup pipi Dina seraya memeluk perut Dina dari belakang.


"Aku hanya ingat mama, dulu saat kecil mama selalu menyempatkan dirinya membawaku liburan ke pemandian air panas. Aku jadi merindukannya." Lirih Dina.


Dina dan Joe masuk ke sebuah ruangan seperti sauna ruang privat untuk pasangan pengantin baru. Dina hanya berbalut handuk sebatas dada dan di atas lutut sementara Joe mengenakan handuk sebatas pinggang.


Keduanya tertawa namun tetap dalam rasa yang begitu intim. Dina bersandar di bahu Joe.

__ADS_1


"Entah aku harus mengatakan apalagi honey? semua yang kau persembahkan untukku sangatlah istimewa. Aku tidak tahu akan membalasnya dengan apa nantinya." Wajah Dina terlihat sangat begitu cantik hingga membuat Joe tak tahan, ia lantas mengangkat dagu Dina dan menyematkan ciuman dalam di bibir gadis itu.


"Cukup cintai aku dengan segenap jiwa dan ragamu. Jangan pernah tinggalkan aku honey." Lirih Joe tepat setelah ciuman mereka terurai.


"Pasti .... " Bisik Dina kini giliran dirinya yang mencu*mbu Joe dengan lembut. Keduanya larut dalam suasana yang sangat alami. Joe membawa keluar Dina dari ruangan itu menuju kamarnya. Selama dalam perjalanan, ciuman mereka bahkan tak terputus. Joe membaringkan tubuh Dina lalu tanpa basa basi dia menarik simpul handuk Dina hingga terbuka dan nampak lah pemandangan yang sungguh dapat membangkitkan hasrat Joe yang bergejolak. Joe segera bertindak namun dengan gerakan yang hati-hati dan lembut hingga membuat Dina mengerang saat jari tangan Joe mere*mas satu bukit kembarnya sementara bibirnya terus menghi*sap ujung yang satunya. Tubuh Dina meliuk merasakan sensasi geli-geli namun nikmat dan sangat rugi jika di lewatkan. Joe menarik simpul handuknya dan dalam posisi siap menerjang inti tubuh Dina. Tangan Joe perlahan turun memainnya benda kecil yang tersembunyi di antara rimbunnya hutan belantara. Dina terus menceracau saat tiba-tiba saja seperti ada gelombang hasrat yang siap meledak dari inti tubuhnya.


"Ho... honey stop please." Lirih Dina. Namun tangan Joe semakin cepat bergerak dan akhirnya tubuh Dina bergetar hebat.


Dina menutupi wajahnya malu, sementara Joe menyeringai puas. Joe langsung melebarkan kaki Dina dan melakukan penyatuan. Dina memekik kuat saat tubuhnya terasa seperti terbelah. Air matanya mengalir merasakan sakit yang amat sangat.


"Sa... kit sekali."


Joe kembali mencu*mbu Dina dan mengusap air mata gadis itu.


"Ini hanya sebentar, tahanlah." Joe mulai memacu tubuh Dina, dan ucapan Joe ternyata benar rasa sakit itu perlahan berubah menjadi rasa nikmat. Kini hanya deru nafas dan suara erangan yang terdengar saling bersahutan dan tak lama keduanya pun menegang.


"Terimakasih sayang." Bisik Joe namun mata Dina sudah terpejam merasakan lelah yang luar biasa.


Joe bangkit dari ranjang, matanya menatap percikan darah di sprei dan senyumnya langsung mengembang sempurna.


Joe memilih berendam untuk merilekskan otot-otot yang tadi sudah bekerja dengan luar biasa.


Menikah bukanlah sesuatu yang pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia merasa tak butuh pendamping ataupun anak. Karena Joe merasa menjadi seorang anak sangat tidak enak. Apalagi dirinya adalah anak tunggal. Hidup dalam aturan ketat harus bersosialisasi dengan yang sederajat dan lain sebagainya membuat Joe memilih melarikan diri ke Indonesia. Hingga pertemuannya dengan Rian dan dia memilih mengabdikan dirinya pada pria itu.


Tapi kini senyum yang tak pernah tampak di wajahnya justru selalu tersungging di bibirnya.


"Akhirnya apa yang tidak pernah ku harapkan malah menjadi kebahagiaan yang mungkin tak akan pernah terlupakan." Gumam Joe lirih.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mendekati ending... 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2