
*******
Dina dan Joe tiba di Mansion milik Rian. Dina dibuat terngaga dengan penampakan tempat tinggal sahabatnya itu. Dina berjalan beriringan dengan Joe.
Jonathan (asisten Joe)
Dina Adisti
Pria itu langsung di sambut oleh kepala mansion dengan menundukkan kepalanya. Joe membawa Dina masuk. Velia yang sedang duduk di ruang keluarga terkejut mendapati sahabatnya ada di kediamannya.
"Dina .. " Pekik Velia senang.
"Hai bumil .. "
Velia tersenyum mendapat julukan dari sahabatnya itu.
"Kok kamu bisa sampai disini?" tanya Velia penasaran. Namun belum juga Dina menjawab Joe masuk dan memberi salam pada Velia.
"Selamat malam nona Velia."
"Malam asisten Joe. Apa kau kemari bersama Dina?" tanya Velia, Joe tersenyum samar.
__ADS_1
"Seperti yang anda lihat nona. Jika tidak ada lagi yang di perlu kan kami permisi dulu nona." Kata Joe menatap Dina memberi kode gadis itu untuk beranjak dari sana. Mulut Dina manyun, baru saja dia meletakkan bokongnya tapi sudah diajak pergi lagi.
"Baiklah lain kali aku akan kemari lagi. Jaga kesehatanmu bumil. Nanti design proyek besok biar aku yang kerjakan sementara waktu. Kau hanya perlu merevisi jika ada kesalahan." Kata Dina memeluk Velia sejenak.
.
.
.
Velia menatap ke arah Rian penuh selidik. Rian tersenyum dan mengecup bibir Velia.
"Katakan padaku apa maksud asisten Joe mendekati Dina?" Mata Velia menatap tajam Rian.
"Kasian sekali Dina, seharusnya aku ada untuknya tapi sekarang aku bahkan tidak punya waktu untuk menanyakan kabarnya." Gumam Velia yang masih dapat di dengar oleh Rian.
"Kau tidak boleh terlalu banyak berfikir. Sekarang habiskan susumu. Dan kita tidur." Ujar Rian memberi perintah pada Veli.
"Tapi .. "
"Tapi apa?"
"Tapi aku merindukan Ina. Bisakan kau menghubunginya untukku."
"Baiklah, tapi habiskan susumu terlebih dahulu." Ujar Rian menyodorkan susu untuk Velia. Velia mulai meneguk susu yang Rian buat untuknya. Rian meraih ponselnya dan melakukan panggilan pada Gerry. Namun belum satu kali deringan Rian dibuat terkejut oleh Velia yang tiba-tiba saja berlari menuju wastafel.
__ADS_1
Ia kembali memuntahkan semua susu yang ia minum, Wajah terlihat kembali memucat.
"Kenapa ..? apa susunya tidak enak?" tanya Rian, Velia mengangguk.
"Aku akan memarahi Joe bisa-bisanya Joe membelikan susu yang tidak enak."
"Tidak perlu memarahinya. Dia mana tahu susu untuk ibu hamil. Pacar saja dia tidak punya." Ujar Velia bersandar di dada bidang Rian.
Rian mengangkat tubuh istrinya dan membawanya naik ke kamar.
"Lalu bagaimana?"
"Besok saja kita cari berdua. Sekalian aku ingin jalan-jalan." ---- "Bagaimana dengan Zafrina?" Tanya Velia teringat dengan anak sambungnya.
"Besok saja. Sekarang kau harus istirahat yang cukup. Aku sudah membuat janji dengan dokter besok untuk memeriksakan kandunganmu."
"Baiklah, tapi aku mau tidur jika kau buka baju." Kata Velia, mau tak mau akhirnya Rian bertelanjang dada memperlihatkan potongan roti sobek di perutnya.
Mata Velia berbinar, ia segera menghambur masuk ke dalam pelukan Rian dan menghirup dalam-dalam aroma pria itu. Tak butuh waktu lama Velia terpejam dengan nafas teratur.
"Aku akan memastikan kondisi kalian dengan baik. Aku sudah pernah melakukan kesalahan pada Zafrina dan ibunya. Dan kali ini aku tak akan membiarkan kalian merasakan hal yang sama." ----- Batin Rian.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
like nya jangan lupa di tekan bosque
__ADS_1