
**********
Di apartemen yang berada satu lantai dengan apartemen Joe, Angel terus saja memaki pak Hermawan yang tidak becus menarik perhatian Rian. Sementara tanpa di ketahui keduanya Danzo sudah menghubungi nyonya Hermawan dan mengatakan tentang kelakuan suaminya selama ini. Bukan tanpa alasan Danzo melakukan semua itu. Meskipun semua murni atas perintah Rian, Danzo merasa iba dengan nyonya Hermawan yang sudah di tipu habis-habisan oleh suaminya. Harta dan perusahaan yang dikelola oleh pak Hermawan tak lain dan tak bukan adalah perusahaan turun temurun milik istrinya. Danzo juga menyampaikan akan meneruskan kontrak kerja sama jika perusahaan itu telah beralih tangan.
"Nyonya ... " Danzo membungkuk di depan nyonya shanum pemilik asli PT Dwika construction.
Di belakang nyonya Shanum berdiri putra pertama mereka Bayu. Wajahnya tampak sangat garang. Mungkin karena emosi mendengar papanya menyimpan seorang gundik.
"Bisa kau tunjukkan dimana dua orang itu?"
"Mereka ada di lantai 17 nyonya. Saya hanya bisa sampai disini karena selebihnya adalah urusan rumah tangga kalian. Pesan tuan jika kerja sama masih mau di teruskan harap segera mengganti pemimpin perusahaan anda."
"Baik terimakasih untuk semua informasinya tuan Danzo. Besok putra saya akan menemui tuan Rian di perusahaan."
"Baik nyonya dan tuan muda, saya permisi." Danzo undur diri. Nyonya Shanum dan putranya langsung bergegas masuk ke lift diikuti 4 pengawal pribadinya naik ke lantai 17.
Pintu apartemen Angel di ketuk dengan kasar oleh pengawal nyonya Shanum. Angel yang masih di liputi emosi membuka pintu dengan kasar.
"Siapa kalian?" hardik Angel saat melihat 4 pria bertampang sangar.
"Nyonya Shanum mendekat dan langsung menampar Angel dengan keras hingga wajahnya tertoleh ke samping. Disaat yang bersamaan Dina saat itu keluar karena akan membeli sesuatu dibawah langsung menyembunyikan dirinya di balik tembok dia merogoh ponselnya dan menyalakan Video. Entah mengapa wajah Dina terlihat bahagia melihat Angel mendapatkan karmanya.
"Sukurin dasar pelakor." Desis Dina dia melihat Angel yang di tampar berulang kali oleh nyonya Shanum dan di jambak rambutnya. merasa puas. Bahkan tuan Hermawan pria tua itu saat ini sedang bersujud di kaki anak dan istrinya.
"Sedang apa di sini?" Joe menepuk pundak Dina hingga gadis itu terlonjak.
__ADS_1
"Aku mau ke market bawah. Tapi jika melewati mereka aku tidak enak." Tunjuk Dina, Joe menatap beberapa orang di sana dengan tak acuh lalu menghubungi seseorang dari ponselnya. Tak lama dua petugas keamanan datang dan menghentikan aksi nyonya Shanum. Dina menatap Joe yang terlihat cuek dengan masalah yang ada di depannya. Joe menarik ponsel Dina dan mengotak atiknya sebentar. la menyalin Video Angel dan menghapusnya dari ponsel Dina.
"Ini terakhir kalinya kau berurusan dengan orang-orang di masa lalumu. Aku tidak menyukainya." Tegas Joe menyerahkan ponsel Dina.
"Dasar posesif ... " Dina tersenyum lalu mencuri ciuman dari bibir Joe.
"Aku mau membeli keperluan ku. Apa kau mau menemani ku calon suami?" Dina mengerling manja pada Joe. Pria itu tersenyum dan mengusap kepala Dina.
"Baiklah ayo, aku juga takut jika calon istriku berkeliaran sendiri ia akan di culik pria lain." Ucap Joe seraya menggenggam jemari Dina.
Joe sudah mengirim video drama Angel dan sugar baby nya ke nomor mantan pacar Dina tanpa Dina tahu. Jangan ditanya dari mana bisa Joe mendapat nomor mantan pacar Dina. Karena itu hal yang sangat mudah bagi Hacker sekelas Jonathan
.
.
.
"Sudah baby ... "
"Tapi aku masih lapar honey." rengek Velia. Bodyguard Rian yang mengikuti kegiatan Rian pun tak habis pikir dengan nyonya mudanya yang terlihat sangat merakyat. Setelah menghabiskan kerak telornya. Velia mengajak Rian menyudahi acara makannya.
"Apa kau senang baby?" tanya Rian melihat wajah istrinya yang lebih cerah dan bercahaya. Velia mengangguk.
"Honey kau belum makan. Bagaimana kalau kita ke hotel?" ajak Velia.
__ADS_1
"Kenapa tidak makan di rumah?" Tanya Rian heran.
"No, ayolah aku mau makan di rooftop." Rian akhirnya memerintahkan supirnya untuk menuju hotel miliknya.
Rian membawa Velia ke penthouse yang ada di puncak hotel. Satu-satunya ruangan pribadi Rian. Ruangan yang selalu ada di setiap hotel milik Rian.
"Kita makan di sini saja ya ... " ujar Rian.
"Boleh, balkon di sini juga pemandangannya bagus." Jawab Velia, tubuhnya dibiarkan bersandar di teralis balkon penthouse Rian.
"Jangan bersandar di situ baby." Rian menarik tubuh Velia hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Aku akan cemburu pada teralis itu." bisik Rian.
"Kamu itu ada-ada saja. Kita bermalam di sini ya nanti?" pinta Velia.
"Katakan dulu apa alasannya."
"Aku ingin berterimakasih padamu." Pikiran mesum Rian langsung aktif.
"Tapi baby dokter menyarankan agar kita tidak terlalu sering ... "
"Ishh ... tidak sampai ke sana. Pokoknya aku akan berterimakasih dengan caraku."
"Kau cukup diam dan nikmati saja." Bisik Velia sensual di telinga Rian, bersamaan dengan bunyi bell pintu. Velia bergegas membukanya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Like, komen dan gift nya jangan lupa ya .... 🥰🥰