Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 79. Rencana Kejutan Resepsi


__ADS_3

********


Velia asik menempel pada Daniel sejak tadi hingga membuat Rian merasa gerah. Ingin rasanya ia dorong ayah mertuanya agar menjauh dari istrinya.


"Kamu seperti ingin memakan ayah mertuamu." Sindiran ayahnya langsung menembus jantung Rian. Wajahnya seketika memerah karena malu.


Velia mengurai pelukan di lengan Daniel dan berpindah di sisi Rian.


"Oh suamiku, maafkan aku. Aku terlalu senang bertemu papa. Seharusnya kamu maklum apalagi aku sedang hamil, entah mengapa aku sangat ingin menempel dengan papa. Tapi jika kamu tidak mengijinkanku aku bisa apa." Ujar Velia lirih.


Rian hanya mendengus kesal. Ia tak mungkin melarang Velia apalagi Velia sedang hamil siapa tahu itu bawaan bayinya.


"Tentu aku tidak keberatan sayang. Kamu boleh bermanja-manja pada papa." Akhirnya Rian memilih mengalah dengan mengijinkan istrinya bermanja dengan ayah mertuanya.


Velia tersenyum senang, dia menciumi wajah Rian dengan gemas hingga mengundang tawa semua keluarga.


"Mami lihat, wajah papi sampai merah." Zafrina pun turut menggoda Rian. Setelah berkata demikian Zafrina bersembunyi di belakang lengan Anggara ayah Rian.


"Kamu gemesin banget sih honey. Aku jadi pingin gigit." Bisik Velia seraya berdiri meninggalkan Rian yang tiba-tiba salah tingkah.


Velia kembali bersandar di lengan Daniel hingga membuat Bianca pun melirik kesal kearah putrinya.


"Ehm ... berhubung semua sedang berkumpul di sini. Aku ingin mengatakan jika aku ingin mengadakan resepsi pernikahanku. Karena aku sadar saat awal kami menikah kami tidak melibatkan kalian semua." Ujar Rian serius hibgga mengundang tatapan mata semua yang ada di ruang keluarga itu.


Velia menatap Rian tanpa berkedip. Apakah dia salah dengar tadi?


"Apa kamu serius honey?" tanya Velia, Rian pun mengangguk.


"Opa, re... sepi itu apa?" tanya Zafrina seraya mengeja kata yang asing menurutnya.


"Resepsi sayang, itu artinya akan ada pesta." Ujar Velia.


"Benarkah opa?" Zafrina belum puas mendengar jawaban Velia, ia ingin memastikannya pada sangat kakek dan Anggara pun mengangguk.


"Hore ... pesta pesta." Zafrina tampak sangat senang begitupun Velia.


"Bolehkah aku menentukan konsepnya?" Sela Velia.


"Tentu saja, bukankah kamu ratunya baby."

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan itu terlihat mengulas senyum bahagia terlebih Velia dan Zafrina.


"Baby, sepertinya kamu harus beristirahat. Kamu sudah terlalu banyak bergerak sejak tadi." Ujar Rian mengingatkan jika Velia baru saja keluar dari rumah sakit.


"Tapi aku tahu kondisi ku sendiri dan saat ini aku merasa baik-baik saja." Velia mencoba berkilah, kapan lagi dia punya kesempatan bergelayut manja pada papanya.


"Aku tidak mau mengambil resiko Veli." Suara Rian terdengar tegas tak mau ada penolakan.


"Turuti apa kata suamimu sayang. Papa janji akan sering kemari nanti." Daniel mencoba turut membujuk Velia. Gadis itu mendengus namun dengan patuh dia mulai berdiri. Rian pun juga melakukan hal yang sama dan tiba-tiba dia mengangkat tubuh Velia dan mendudukkannya di kursi roda.


"Jika begitu aku akan bawa istriku ke atas dulu. Biar dia istirahat. Nanti kita lanjut pembahasan mengenai tadi." Ucap Rian seraya mendorong kursi roda Veli.


"Selamat malam semuanya. Selamat malam Ina sayang." Velia melambaikan tangan. Anggara hanya geleng kepala melihat tingkah laku putranya yang telah banyak berubah.


"Kakek, apa kakek dan nenek menginap di sini?" Zafrina menatap Daniel dan Bianca bergantian.


"Tidak sayang, kami nanti pulang." Jawab Bianca.


Meskipun tanpa adanya sang tuan rumah tak serta merta menghilangkan keakraban antara keluarga Rian dan keluarga Velia. Semua saling bercengkrama menjalin keharmonisan yang akan mempererat hubungan kekeluargaan diantara mereka.


Tak lama Rian kembali bergabung, setelah sebelumnya dia harus membujuk Velia yang merajuk ingin dilibatkan dalam segala persiapan resepsi yang akan Rian gelar.


"Apa istrimu sudah tidur?"


"Sudah mah, tadi dia sempat marah."


"Ha... ha... ha papi kasihan ya opa dimarahin mami."


"Hush ... kamu tidak boleh seperti itu sayang." Tegur Santika dan Zafrina tersenyum lucu dan membuat siapa saja gemas melihatnya.


"Kenapa istrimu tidak kamu ijinkan ikut diskusi?"


"Rian mau buat kejutan lagi untuk Veli mah," wajah Rian terlihat sangat sumringah membayangkan sang istri akan terharu dengan kejutan yang dia siapkan.


"Papi mau kasih mami kejutan apa?" tanya Zafrina penasaran.


"Rahasia .... " Celetuk Rian.


"Lalu apa gunanya kamu menyita waktu kami di sini?" Sarkas Anggara kesal melihat putranya bertingkah.

__ADS_1


"Papa tenang dulu. Maksudku mengumpulkan kalian semua aku ingin kalian membantuku mempersiapkan banyak hal untuk kejutan ini.


"Apa itu nak Rian?" tanya Daniel turut penasaran.


"Aku ingin acara resepsi kami di gelar saat usia kandungan Velia menginjak 7 bulan."


"Kenapa begitu sayang?" Santika menyela.


"Aku ingin kandungan Veli benar-benar kuat mah, aku tidak mau ambil resiko dan rencananya aku ingin menyewa kapal pesiar untuk acara resepsiku." Tukas Rian. Anggara tersenyum tipis. Putranya ternyata memiliki sisi romantis yang sama seperti dirinya.


"Papa dukung ide kamu."


"Kami ikut saja selama semua demi kebahagiaan anak kami." Ujar Daniel.


"Maka dari itu, Rian minta papa dan mama untuk kumpulkan nama² teman dekat Veli agar Veli senang."


"Ehm ... apa kamu yakin ingin mengundang teman-teman Veli, Rian?" Alis Bianca berkerut ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


"Memang ada apa mah?" tanya Daniel penasaran dengan raut wajah Bianca saat ini begitupun yang lainnya ikut merasa penasaran.


"Papa lupa siapa anak papa itu?" Ketua Bianca mencoba mengingatkan kembali tentang hobi aneh putrinya yang pada akhirnya membuat dia bergaul dengan banyak teman laki-laki ketimbang tan perempuan.


Bianca menatap Rian dan besannya. Ada rasa malu jika mengatakan bagaimana Velia tumbuh hingga besar dalam pergaulannya.


"Memang ada apa jeng, kok jeng Bianca tampaknya ragu."


"Begini Jeng, maaf sebelumnya mungkin kalian belum tau circle pergaulan putri saya karena selama ini kalian baru bertemu dan langsung terikat dalam hubungan ini. Putri saya hanya punya satu teman wanita yaitu Dina seperti yang kalian ketahui dan sedang selebihnya semuanya teman laki-laki."


"APA .... " Rian seketika berdiri. Tangannya terkepal erat.


"RIAN ... jaga sopan santunmu!" hardik Anggara.


"Saya rasa itu tidak masalah. Bukankah putra saya meminta sendiri akan mengumpulkan teman-teman Veli." Ucap Anggara datar meskipun dalam hati dia tertawa puas melihat wajah terkejut putranya.


"Joe si*alan ... beraninya informasi sepenting ini terlewatkan olehnya." batin Rian menggerutu.


Di tempat lain Joe merasa perasaannya sama sekali tak nyaman. "Ada apa ini kenapa mendadak perasaanku tak enak."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2