
********
Sesampainya di depan mansion Daniel, Rian segera turun dari mobil.
"Pulanglah Danzo, aku tak ingin kau tersiksa dengan kemesraan keluarga kami. Karena mertuaku lebih parah dariku." Ujar Rian seraya terbahak, serasa sangat lucu menggoda asisten keduanya yang berwajah dingin dan datar itu.
"Baik tuan, selamat malam." Ucap Danzo seraya membungkukkan badannya sejenak lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman mansion Daniel.
"Fiuh ... Semakin melihat tingkah tuan Rian dan Joe sepertinya aku tidak akan bisa jatuh cinta. Mereka mengerikan sekali. Bahkan aku seperti tidak mengenali mereka sekarang." Gumam Danzo.
Rian di sambut oleh Zafrina dengan tawa riangnya.
"Paapiii ... yee yee papi pulang." Gadis itu bersorak kegirangan. Rian tersenyum saat melihat istrinya menatapnya dengan senyuman hangat sehangat mentari pagi. Meskipun sebenarnya hari sudah hampir menjelang malam.
Rian memeluk buah hatinya dan mengecup singkat kening Zafrina. Setelah itu dia meraih tubuh Velia dan menyematkan ciuman di bibir istri tercintanya.
"Ehem ... " Daniel berdehem saat melihat Rian memperlakukan putrinya dengan manis. --- "Ada anakmu. Jangan memberi contoh yang tidak baik!" Ujar Daniel dengan membuang muka. Rian tampak tak acuh, Rian mengangkat tubuh Zafrina ke dalam gendongannya dan menggenggam tangan Velia.
"Selamat sore pa, ma ... " ujar Rian seakan melupakan sindiran Daniel tadi. Bianca tersenyum hangat namun Daniel justru membalas dengan membuang muka.
"Papa .... " Tegur Bianca. Rian hanya memberi tatapan mengejek pada mertua laki-lakinya.
Velia dan Bianca hanya geleng kepala melihat tingkah kedua pria itu. Sedangkan Zafrina seakan tak peduli kembali sibuk bermain dengan bonekanya.
.
.
.
Malam harinya Rian yang sedang bersantai dengan Velia. Gadis itu duduk dan bersandar di dada Rian. Pria ini menemukan kesenangan baru yaitu memainkan rambut Velia hingga kusut. Lalu setelah itu ia akan mendapatkan omelan panjang dari istri dadakan nya itu.
"Hentikan tanganmu ....!!"
"Aku menyukainya baby, jangan pernah gunting rambut panjangmu ini baby."
"Aku tidak bisa menjamin itu honey. Kata mama nanti saat aku melahirkan, rambut panjang ini akan mengganggu anakku." Ujar Velia, ia mengangkat wajahnya menatap dalam wajah Rian. Segaris senyum terbit dari bibir tipisnya.
"Kau harus tetap mencintaiku apa adanya honey. Karena ini juga demi anak kita, buah hati kita. Mau rambutku panjang atau pendek kau harus tetap mencintaiku."
"Tentu saja aku mencintaimu baby, bahkan meskipun kau menua dan rambutmu memutih aku akan tetap mencintaimu. Satu-satunya wanitaku." Desis Rian. Ia memagut dalam bibir tipis Velia, menyusupkan lidahnya dan saling membelit dengan lidah Velia.
__ADS_1
"Aku ingin menikmati mu baby .... " Suara Rian bergetar dan seakan menahan gejolak yang tak terbendung. Velia tertunduk malu, namun kepalanya tak urung mengangguk menandakan dia memberi ijin Rian. Tanpa basa basi Rian segera mengangkat tubuh Velia dan membawanya ke atas ranjang.
Setelah 30 menit kegiatan panas mereka Rian mengecup kening Velia. Ada perasaan aneh yang masih mengganjal di hatinya. Namun Rian masih menimbang-nimbang apakah perlu memberitahu Velia atau tidak mengenai David.
Rian masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, ia pun juga menyiapkan air hangat untuk istrinya berendam. Setelah selesai Rian segera membangunkan Velia yang terlelap.
"Baby bersihkan tubuhmu dulu." Bisikan Rian, Velia hanya menggeliat malas lalu kembali terpejam namun dengan memeluk Rian. Rian tersenyum melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan.
Dengan perlahan dia mengangkat tubuh polos Velia dan dengan hati-hati ia meletakkan tubuh yang mulai kembali berisi itu kedalam bathtub.
"Aah ... honey aku tidak mau mandi." Rengek Velia.
"Sebentar saja. Aku akan membantumu mandi, jika kau mengantuk cukup pejamkan matamu jangan pedulikan aku." Kata Rian. Dengan lembut dia memandikan Velia. Menggosokkan sabun ke tubuh putih istrinya dengan hati-hati. Rian juga mencuci rambut Velia. Setelah membuka penutup saluran pembuangan Rian mulai membilas tubuh Velia memakai selang yang terhubung di kran bathtub. Sepertinya Velia benar-benar kelelahan dan nyaman mendapat perlakuan manis dari Rian. Sehingga dia semakin terlelap.
Setelah selesai Rian bahkan memakaikan piyama untuk Velia, namun tanpa b*a karena dia kesulitan memasangnya. Senyum Rian mengembang melihat Velia meringkuk layaknya kucing manis.
Rian keluar dari kamar. Dia menuju dapur dengan membawa ponsel. Saat ia akan melakukan panggilan ia di kejutkan oleh tepukan di bahunya.
"Papa ... " Rian terkejut melihat mertuanya masih terjaga. Ia memasukkan ponselnya dan tidak jadi menghubungi anak buahnya.
"Kau mau apa?" tanya Daniel.
"Aku butuh kopi pa." Rian seakan tahu di mana letak kopi dan cangkirnya. Dia mulai menyiapkan semuanya.
"Boleh, gulanya setengah sendok saja."
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku menantu?"
"Memangnya apa yang ingin papa ketahui?" tanya Rian seraya menyalakan kompor listrik untuk merebus air.
"Ck ... kau sudah jadi menantuku saja masih berbelit-belit." Ujar Daniel kesal. Rian terkekeh kecil.
"Baiklah, memang sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu." Ucap Rian. Setelah air mendidih Rian segera memasukkan ke dalam cangkir miliknya dan milik mertuanya.
"Kenapa kau menculik David?"
"Apa papa tau jika kemarin David mendapat kunjungan seseorang?" Daniel pun mengangguk karena memang dia memiliki mata-mata yang bertugas mengawasi David.
"Memang siapa pria itu? sepertinya dia pria yang biasa saja." Ujar Daniel.
"Dia adalah bandar narkoba internasional papa. Dia juga ketua mafia. Meskipun levelnya masih di bawah ku tapi tidak menutup kemungkinan jika David akan memakai cara yang sama untuk merebut Velia dariku." Kali ini wajah Rian terkesan datar dan serius. Bahkan Daniel dapat memastikan jika Rian sedang menahan amarahnya yang siap meledak.
__ADS_1
"Lalu kemana kau bawa David? dan akan kau apakan?"
"Entahlah aku juga tidak tahu ... sementara aku hanya mengurungnya. Karena aku belum tahu bagaimana perasaan istriku yang sebenarnya. Aku takut saat aku melenyapkannya itu akan membuat Veli sedih."
.
.
.
Sementara kedua pria itu berbicara Velia membuka matanya saat menyadari Rian tadi menutup pintu dan keluar. Velia menggerakkan kepalanya sebentar lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar putrinya. Beruntung tadi Rian tidak menemani Zafrina tidur. Velia membangunkan putri sambungnya dengan mengecup pipi gadis itu berulang-ulang.
Mata Zafrina terbuka dia tersenyum melihat wajah Velia.
"Mami apa sudah waktunya?" tanya Zafrina.
"Ya sayang ini waktunya."
Zafrina bangun di bantu Velia. Ia di ajak cuci muka terlebih dahulu oleh Velia. Setelah itu kue yang tadi siang mereka buat mereka keluarkan dari lemari pendingin. Setelah memasang lilin keduanya turun dengan perlahan. Hingga terdengar suara Rian dan Daniel sedang membicarakan bisnis mereka. Velia sengaja mematikan listrik di dapur Rian dan Daniel terkejut, namun sedetik kemudian Rian menatap Velia dan putrinya dengan tidak percaya. Gadis kecilnya membawa kue ulang tahun untuknya. Sedang sang istri dengan senyum hangatnya menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk dirinya. Sungguh Rian merasa ini kado terindah sepanjang kehidupannya.
"Happy birthday 🎶 happy birthday 🎶 happy birthday to you." Suara Velia mengalun lembut menggetarkan hati seorang Rian. Zafrina dan Velia sudah berdiri di hadapan Rian. Daniel tersenyum melihat keharmonisan keluarga putrinya. Ia berharap mereka langgeng selamanya.
"Ayo papi tiup lilinnya ... " Ujar Zafrina dengan Riang. Rian memejamkan mata sejenak lalu mengucap doa di dalam hati. Setelah itu ia meniup lilin di hadapannya hingga padam.
"Selamat ulang tahun suamiku. Tetaplah menjadi suami yang menyayangi ku dan anak-anak kita. Jangan pernah berubah. Sehat selalu dan panjang umur." Ucap Velia. Rian mengamini nya lalu mencium kening Velia.
"Selamat ulang tahun papi. Ina sayang papi." Ujar Zafrina dan Rian pun menghadiahkan kecupan dalam di kening Zafrina.
"Papa tidak ingin mengucapkan selamat untuk suamiku?" tanya Velia saat melihat Daniel justru diam saja.
"Selamat ulang tahun .... " Ucap Daniel singkat.
"Terimakasih papa."
"Veli, kamu jahat. Kenapa mama tidak di bangunkan?" Gerutu Bianca, dan semua yang ada di sana menertawakan Bianca.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Maaf ya kalo sering bolong. Othor lagi sakit migrain kambuh. Ga bisa natap layar ponsel lama-lama
Ni othor punya rekomendasi karya teman othor dari kak Susanti yang berjudul Hay Pak Guru.
__ADS_1
Kisah tentang seorang remaja yang jatuh cinta pada gurunya namun harus terjebak dengan perjodohan. Akankah mereka berjodoh. Simak kisahnya di sini