
********
Rian menunggu dengan gelisah matanya memerah. Dia bahkan belum menghubungi satu pun anggota keluarga yang lain sebelum memastikan kondisi Velia baik-baik saja. Tangannya terkepal menahan amarah yang tiba-tiba saja menyeruak memenuhi seluruh hatinya.
Di ruang IGD Stevie sedang di tangani oleh dokter. Luka yang dia dapat cukup parah. Bahkan pendarahannya belum dapat di hentikan. Dokter tampak sangat berhati-hati saat menangani wanita itu.
"Dokter denyut jantung janinnya tidak terdeteksi." Ujar salah satu perawat.
Dokter segera mengamati fetal monitor yang terhubung dengan alat CTG yang berbentuk seperti ikat pinggang itu. Namun sejenak kemudian kepalanya menggeleng melihat grafiknya.
"Kita lakukan kuretase." Ujar dokter itu kemudian. Tak lama seorang perawat datang membawa hasil rontgen.
"Dokter, ini hasil rontgen pasien." Dokter itu kembali melihat hasilnya dan hanya bisa mendesah berat.
"Siapa yang membawanya kemari?" tanya sang dokter dengan suara berat.
"Tadi dia dibawa oleh seseorang dokter. Tapi orang itu sepertinya juga sedang mengurus anggota keluarganya.
"Segera cari orang itu. Kondisinya tidak bisa disepelekan. Terlambat sedikit nyawanya jadi taruhan."
"Baik dokter."
.
.
.
Rian mencengkeram kerah kemeja Danzo, rasanya ia ingin meluapkan kekesalannya saat ini.
"Kenapa kau ceroboh sekali menjaga istriku ... hah?" pekik Rian gusar.
"Ma...maafkan saya tuan. Kejadiannya sangat cepat." jawab Danzo dengan tatapan mata menunduk tak berani menatap Rian. Disaat ketegangan tercipta, pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter wanita tersenyum hangat.
"Siapa keluarga pasien?" tanya Dokter itu dengan ramah.
"Saya, dokter. Bagaimana kondisi istri saya dan kandungannya?" Rian melepas Danzo dan berjalan ke arah dokter.
__ADS_1
"Semua baik-baik saja tuan. Beruntung tidak terjadi benturan. Pendarahan yang di alami juga karena ibunya mengalami syok." Ucap dokter Rita.
"Syukurlah, apa bisa saya melihatnya?"
"Tentu saja tuan, tapi setelah istri anda kami pindahkan ke ruang perawatan. Jika tidak ada lagi yang ditanyakan saya permisi tuan." Dokter Rita berlalu dan menyisakan Rian dan Danzo.
Danzo masih terus menunduk. Rasanya ia takut mendongakkan kepalanya untuk bertatapan dengan Rian. Dia benar-benar merasa gagal dan lalai menjaga istri tuannya.
"Sampai kapan kau akan memandangi lantai itu?" ucap Rian datar. Danzo pun akhirnya mengangkat kepalanya.
"Maaf tuan .... "
"Sampai kapan kau akan terus menerus meminta maaf?" tatapan Rian masih tetap dingin dan datar.
"Saya benar-benar merasa bersalah telah lalai menjaga nona Veli." ujar Danzo dengan wajah yang sama berantakan nya dengan Rian.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang istri dan calon penerusku baik-baik saja. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah awasi jala*ng yang telah berani melakukan hal kotor itu pada istriku. Jika perlu buat dia menyesal telah berani berulah. Kematian terlalu mudah untuk nya. Jadi pastikan dia hidup dalam penderitaan.
"Ba...baik tuan." Danzo segera berlalu dari hadapan Rian. Pria itu segera bergegas ke ruang IGD mencari keberadaan Stevi. Dengan wajah dingin dia menemui perawat untuk menanyakan kondisi Stevi.
.
.
.
"Papa .... " Bianca panik. Ia segera mengambil obat di laci dan menyambar gelas berisi air untuk suaminya.
"Aduh papa, jangan ikutan sakit. Kalo papa sakit siapa yang menemani mama melihat keadaan Veli dan calon cucu kita?"
Daniel segera menelan obatnya dan meminum air yang di bawa Bianca hingga tandas. Setelah dadanya sudah terasa membaik Daniel menatap sebuah benda di tangannya.
"Mama sengaja ya?" tanya Daniel dengan mata memicing.
"Sengaja apa sih maksudnya pah." Tanya Bianca bingung. Daniel mengangkat sebuah bejana dari kristal yang biasa Bianca gunakan untuk meletakkan bunga.
"Ini ..." Daniel menatap istrinya tak percaya. "Mama kasih air buat papa, air dari sini?" Bianca tersenyum kaku, dia menoleh ke arah gelas yang masih tetap utuh di tempatnya. Bianca menggaruk pelipisnya dan memegang lengan Daniel.
__ADS_1
"Ya maaf pa, mama panik tadi." Daniel menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Dia benar-benar tidak bisa marah pada istri tercintanya yang ceroboh itu.
"Ya sudah papa mau hubungi Rian dulu." Daniel beranjak namun lengannya masih ditahan oleh Bianca.
"Marah ga?" tanya Bianca dengan wajah memelas.
Daniel semakin menghembuskan nafasnya dengan kencang seakan membuang rasa kesal di hatinya.
"Tidak .... "
"Yakin pa?"
"Iya sweetheart." Akhirnya tangan Bianca melepas Daniel. Sambil berlalu Daniel masih menggerutu, "Untung sayang .... "
.
.
.
Sementara itu Joe yang mendapat kabar soal kemalangan yang menimpa Velia langsung memberi tahu Dina. Gadis itu menangis sesenggukan dan meminta Joe mengantar nya ke Jakarta.
"Iya sabar, kamunya diem dulu jangan nangis dong."
Dina mengangguk seraya mengusap air matanya. Liana ibu Joe turut menenangkan calon menantunya itu.
"Semoga saja sahabatmu itu baik-baik saja sayang."
"Makasih ma, maaf selama Dina di sini Dina selalu merepotkan mama."
"Kamu ini ngomong apa sih Din, mama ikhlas yang terpenting ingat pesan mama. Empat hari lagi kalian akan melangsungkan pernikahan jangan sering-sering bepergian jauh. Pamali." tutur Liana, Dina mengangguk.
"Ck, mama apa-apaan sih." Joe merasa tak senang ibunya membawa-bawa halal berbau tradisi kuno.
"Ish ... kamu itu, dikasih tau mama nurut kenapa sih." Dina memukul lengan Joe hingga pria itu meringis kesakitan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Selamat membaca. Maaf kalo disini banyak bolongnya. Othor lagi mentok ga punya inspirasi.