
*******
Bianca dan Daniel duduk di sofa menatap Velia yang masih terlelap. Tadi dokter sempat datang karena tubuh Velia mendadak demam tinggi. Rian sudah pergi sejak kedatangan kedua orangtua Velia dia harus mengurus sesuatu. Apalagi jika bukan menemui tawanan barunya.
Setelah membuang David, kini dia harus berurusan dengan Stevie. Rian sudah bosan menghadapai orang-orang yang tidak memiliki cukup kekuatan tapi berani melawan dirinya.
"Bagaimana?" tanya Rian pada Danzo.
"Aman tuan, Tuan Gerry juga mengirim satu orang perawat laki-laki yang akan bertugas mengawasi wanita itu."
"Bagus .... " Rian masuk ke sebuah ruangan yang kedap suara. Hanya ada penerangan disana tanpa pendingin ruangan.
Dia menatap tubuh lemah Stevie, dan satu orang perawat pria yang disebutkan oleh Danzo menunduk memberi hormat pada Rian.
"Bagaimana kondisinya?"
"Mungkin wanita ini akan sadar besok tuan. Karena tadi dokter memberi bius total dan saat perjalanan kemari saya menyuntikkan obat tidur. Kakinya yang patah hanya saya beri penyangga."
Rian menatap sekilas lalu menendang kaki Stevie. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk menyiksa wanita ini.
"Kau lihat dia. Mungkin sebentar lagi akan menjadi detik-detik kematiannya. Siapapun yang berani melawanku dan menyakiti keluargaku akan ku buat ia merasakan hal yang lebih tragis lagi." Danzo hanya diam di belakang Rian, rasanya ngilu menjalar di kakinya melihat Rian menendang kaki Stevie yang patah. Sedang perawat pria itu hanya menunduk ngeri melihat kemarahan pria itu.
"Kita kembali ke rumah sakit Danzo." --- "Dan kau, jaga dia jangan sampai mati sebelum aku menyiksanya. Kau bawa obat yang di perlukan selama dia disini kan?" Rian berbicara 2 arah pada Danzo dan perawat pria itu.
"I...ya tuan."
"Siapa namamu?"
"Ken tuan .... " Jawab perawat itu. Setelah itu Rian berlalu pergi. Dia harus kembali ke rumah sakit karena dia benar-benar mengkhawatirkan istrinya meskipun di sana ada orang tua Velia.
.
.
.
Di ruang perawatan Velia, Bianca mengompres kening Velia, wajah wanita itu tampak sendu melihat kondisi putrinya. Santika dan Zafrina juga ada di sana. Daniel dan anggara ayah Rian keluar untuk berbincang di kafetaria. Anggara sangat marah mengetahui menantunya hendak dicelakai.
"Dimana Rian sekarang jeng?" tanya Santika pada Bianca.
__ADS_1
"Dia baru keluar satu jam yang lalu. Katanya ada sesuatu yang harus diurus."
"Oma .... mami kenapa?" Zafrina mendekati Bianca dan menyentuh kaki Velia.
"Mami kecapekan sayang." Ucap Bianca tersenyum lembut pada Zafrina seraya membelai wajah gadis mungil itu.
"Tapi mami dari tadi tidur terus ya oma?"
"Iya sayang, kalo mami ga tidur nanti mami di suntik dokter."
"Hih ... Ina ga mau di suntik dokter." Ucap gadis kecil itu yang mengundang tawa Bianca dan Santika. Tak lama pintu di buka dari luar, masuklah Rian namun langkahnya terhenti saat ia melihat Zafrina dan ibunya di sana.
"Papi .... " Zafrina berlari menyongsong kehadiran Rian.
"Sayang, Ina sejak kapan di sini? tanya Rian seraya mengangkat putrinya kedalam gendongannya. Rian duduk di samping Santika. Wanita paruh baya itu mengulas senyum untuk putranya.
"Sejak tadi, kata papa Gerry mami sakit."
"Memang tadi Ina ada dimana?"
"Ina tadi lagi di rumah mama Dian. Karena hari ini kakak Zafa mengadakan pesta ulang tahun untuk Laura."
"Iya anak dokter Fanny, anak itu kan orang tuanya jarang bersama dirinya. Dian iba pada gadis itu, makanya membuat acara dadakan untuk Laura."
"Oh .... "
Velia menggerakkan jemarinya, perlahan kelopak matanya yang menutup terbuka lebar.
"Ngghhh .... " Lenguh Velia. Rian segera menurunkan Zafrina dan mendekat ke arah istrinya. Zafrina ingin ikut mendekat namun Santika melarang cucunya.
"Haus .... " Bianca segera meraih gelas di nakas dan memberi sedotan lalu menyerahkan gelas itu pada Velia. Beruntung tidak ada Vas di sana jadi dirinya tidak salah ambil.
Velia menyedot air itu seakan sudah tidak minum berhari-hari.
"Pelan-pelan baby .... " ucap Rian saat melihat cara minum Velia yang seakan tidak berjeda.
Isi gelas itu telah tandas. Rian mengelap bibir Velia dengan tisu.
"Apa masih ingin minum lagi?" tanya Rian, Velia menggeleng lemah.
__ADS_1
"Apa kau lapar sayang?" tanya Bianca, Velia mengangguk. Dirinya memang merasa lapar saat ini.
"Kau mau apa?" Tanya Rian.
"Aku mau nasi bakar yang isinya Salmon."
"Baiklah, tunggu dulu sebentar aku akan segera mencarinya." Ucap Rian.
Danzo masih setia menunggu di luar ruangan. Rian membuka pintu dan meminta Danzo memesan makanan yang diinginkan putrinya di hotel miliknya. Tanpa menunda waktu Danzo segera mengerjakan tugas dari Rian itu.
.
.
.
Joe dan Dina memutuskan kembali ke apartemen tapi sebelum itu Dina ingin makan. Joe membawa Dina ke sebuah kafe yang tak jauh dari apartemen. Namun sial dia malah bertemu dengan Dion dan keluarganya.
"Din, gue perlu ngomong." Dion tiba-tiba mencekal lengan Dina. Dina berusaha menghempas cengkeraman tangan Dion.
"Lepas, siapa kamu berani menyentuhku?" pekik Dina.
"Hei bung, jangan kasar!!" Joe segera menghentak tangan Dion. Joe menyembunyikan tubuh Dina di balik tubuhnya.
Dion berdecak kesal, entah mengapa dia sangat tidak suka melihat Dina menyentuh pria itu.
"Dina, kita perlu bicara."
"Kita cari tempat lain saja honey." Lirih Dian, namun Dion masih dapat mendengar ucapan Dina.
Joe menggenggam jemari Dina. Namun Dion menahan mereka dengan memegang pundak Joe. Seketika Joe memberi hadiah pukulan di wajah Dion. Dina menutup mulutnya karena terkejut.
"Honey sudah, kenapa kamu meladeni dia?"
"Karena dia tidak punya sopan santun." Joe menatap tajam wajah Dion yang memar karena ulahnya.
"Sekali lagi kau mengusik istriku. Aku akan pastikan hidupmu tak akan lagi sama seperti sekarang." Ujar Joe datar.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Ayo like komen dan Giftnya ojo lali