
*******
Bahagia dan lega kini yang dirasakan oleh Dina. Meskipun satu-satunya sahabat berharganya tak bisa hadir, namun dia cukup puas masih bisa berinteraksi dengan Velia di detik-detik bahagianya.
Saat ini Dina sedang beristirahat setelah acara sakral dan dilanjutkan ke resepsi sederhana yang memang sengaja disiapkan oleh orang tua Joe. Resepsi yang hanya dihadiri oleh sanak keluarga dan rekan bisnis ayah Joe.
Joe masuk dengan membawa nampan berisi makanan dia tahu sejak tadi pagi gadis yang kini berstatus istrinya itu tidak berselera makan karena terlalu gugup.
"Sayang, bangunlah. Kamu belum makan sejak pagi tadi." Joe menggoyangkan lengan Dina perlahan. Bulu mata lentik Dina perlahan bergerak. Kelopak matanya terbuka dan seulas senyum tersungging di bibir Dina.
Dina menatap lekat wajah pria yang baru saja menikahinya, dia bersyukur tak jadi menikah dengan Dion dan kini diperistri oleh Joe. Dengan gerakan lembut Dina mengusap rahang Jonathan lalu menarik tengkuk pria itu dan menyematkan kecupan hangat di bibir Joe hingga pria itu terpejam merasakan kehangatan bibir Dina.
"Terimakasih suamiku. Kamu sudah memberiku keluarga baru, status baru dan juga cinta baru. Kamu segalanya untukku. Jangan pernah pergi dariku. Jika kelak kamu bosan denganku jangan pernah menyakitiku dengan menghadirkan wanita lain. Cukup katakan padaku dan aku sendiri yang akan menjauh darimu." Lirih Dina dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Joe terpana mendengar ucapan Dina barusan. Wajah Joe bahkan memerah, karena seumur hidupnya baru kali ini dirinya bersinggungan dengan wanita dan wanita itulah yang kini menjadi istrinya. Dulu Joe sempat berpikir untuk melajang seumur hidupnya. Bahkan permintaan untuk melanjutkan bisnis ayahnya pun tak pernah ia pedulikan.
"Aku juga berterimakasih karena kamu sudah mau menjadi istriku. Tapi aku tidak mau menjanjikan apapun. Yang jelas aku akan mencintaimu sepanjang sisa umurku" Ujar Joe seraya mengecup kening Dina. Dina benar-benar terharu hatinya terlampau bahagia keduanya pun berpelukan untuk meluapkan segala rasa di hati masing-masing.
"Makanlah dulu. Dari pagi kamu belum makan dengan baik." Joe menata meja kecil dan meletakkannya di atas kaki Dina, Dina duduk seraya menatap semua menu yang ada di atas nampan.
"Ini .... " Mata Dina seketika mengalir crystal bening.
"Aku tanya bik Sulis dan mama tadi yang buatkan khusus untuk kamu."
"Aaa ... kamu suami idaman banget sih." Ucap Dina seraya bersandar di lengan Joe.
"Karena aku ingin menjadi penyempurna dalam hidupmu. Aku ingin menjadi terang di kegelapanmu. Aku juga ingin menjadi arah di saat kau tersesat. Jadi berhentilah menitikkan air mata kesedihan karena aku akan menjadi kebahagiaan untukmu."
__ADS_1
"Joe .... " Lirih Dina dengan suara bergetar.
"Berhenti menangis dan makanlah! setelah ini aku ingin mandi bersamamu." Bisik Joe hingga membuat wajah Dina merona.
Dengan semangat Dina akhirnya makan dengan lahap. Joe menatap Dina dengan lembut. Gadis ini meskipun terlihat galak dan jutek tetapi hatinya begitu rapuh. Joe bersumpah dalam hatinya akan selalu membuat Dina bahagia.
Selesai makan Dina dan Joe benar-benar mandi bersama untuk yang pertama kalinya. Wajah Dina memerah seluruhnya karena malu. Dia menutup bagian dada dan inti tubuhnya tapi Joe buru-buru menarik tangan Dina.
"Biarkan aku mengenali tubuhmu sayang."
"Tapi aku malu Joe." Dina menggigit bibir bawahnya dan hal itu justru semakin membuat Joe berhasrat dan mengangkat tubuh Dina dan membawanya masuk ke dalam bathtub.
"Aku suamimu Dina. Tidak ada satu orang pun pria yang berhak memiliki tubuhmu selain aku."
.
.
.
"Apa mama tahu jika suamiku akan menyiapkan kejutan ini?"
"Tidak sayang, suamimu hanya meminta mama untuk menemanimu." Jawab Santika jujur. Dia pu tak tahu menahu tentang kejutan ini saat Rian menghubunginya untuk menemani Velia. Namun saat Rian tiba di sana barulah Santika diberitahu mengenai rencana surprise untuk Velia.
Sepanjang hari senyum Velia tampak terus mengembang hingga suara deru mobil milik sang suami membuatnya berjalan cepat ke arah pintu masuk.
Velia berlari kecil hingga membuat Rian membulatkan matanya.
__ADS_1
"Baby, hati-hati .... !!" pekik Rian.
Namun Velia terlalu bahagia bahkan dia langsung menubruk Rian dengan perutnya yang mulai membuncit.
"Terimakasih honey aku benar-benar mencintaimu." Ucap Velia dengan wajah yang sangat ceria. Melihat wajah itu membuat Rian mengurungkan niatnya memarahi Velia.
Lain halnya dengan pasangan yang ada di bangku belakang mereka belum sempat keluar karena mendengar pekikan menantunya. Mereka melihat tingkah Velia yang masih sama saja membuat keduanya menggelengkan kepala bersamaan.
"Lihat kelakuan putrimu itu? seperti tidak pernah diajari tata krama." ujar Bianca masih tanpa mengalihkan pandangannya dari dua sejoli itu.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu sayang. Kau yang bertugas mengurusnya apakah tidak mengajarkan padanya tentang tata krama." ujar Daniel santai namun Bianca langsung memasang tampang garang.
"Apa kamu bilang, ayo ulangi lagi? dan aku akan pastikan kamu tidak akan mendapatkan kesenanganmu itu selama 1 bulan." Bianca membuka pintu dengan kesal dan membantingnya dengan kasar hingga mengalihkan perhatian Rian dan Velia.
"Mama .... " Velia memeluk sang ibu dengan erat.
"Dasar anak nakal, tidak bisakah kamu merubah kebiasaan berlari mu itu. Itu bisa membahayakan bayi yang kamu kandung." Ujar Bianca, namun fokus Velia kembali teralihkan dengan kemunculan papanya. Velia segera mengurai pelukan dengan Bianca dan menyongsong pria yang merupakan cinta pertamanya yaitu Daniel.
"Papa ... Veli senang kalian kemari. Sering-sering dong pa." Kata Velia dengan bergelayut manja di lengan Daniel.
"Iya sayang pasti nanti kami akan sering kemari apalagi jika anak kalian lahir." tutur Daniel namun Velia justru cemberut.
"Ish ... maksud Veli kalian itu sering-sering kemari buat nengokin Veli bukan anak Veli." Tingkah kekanak-kanakan Velia membuat Bianca menepuk keningnya di hadapan Rian. Pria itu hanya merespon dengan senyuman.
"Bukankah dia sangat menggemaskan ibu mertua? rasanya aku seperti melihat Zafrina dalam diri putrimu."
"Ya, dari dulu memang seperti itu tingkahnya jika bersama papanya. Maka dari itu saat melihat suamiku jatuh sakit dia terlihat sangat hancur. Meskipun suamiku sering mewanti-wanti Veli untuk tidak bersikap kekanak-kanakan lagi tapi Veli tak pernah mau mendengarkan. Dia selalu berkilah jika kelak dia tua dia tak akan punya waktu lagi untuk bergelayut manja padanya."
__ADS_1
Rian semakin tersenyum mendengar alasan Velia untuk selalu bersikap manja pada papanya. Entah kenapa jawaban ibu mertuanya tadi semakin membuat Rian semakin mencintai Velia.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹