
**********
Lukas dan Maher sudah melaporkan semua kejadian yang terjadi di kafe pada Rian, pria itu menggeram kesal. Sepertinya dia harus bertindak sebelum laki-laki tak tau diri itu menyentuh miliknya lagi.
Rian : "Halo Diego .. "
Diego : "Ya tuan, apa ada perintah baru?"
Rian : "Lukas dan Maher ada di kafe Senopati, kamu suruh Rengga untuk menyusul mereka dan mata-matai David. Karena pria si*alan itu ada di sana sekarang."
Diego : "Baik tuan laksanakan .."
Rian mendengus kesal kenapa anak buahnya bisa kecolongan.
"Danzo, apa Joe sudah masuk?" tanya Rian.
"Sudah tuan .. " Entah mengapa Danzo merasa tak enak mendengar pertanyaan dari bosnya itu.
"Baiklah panggil Joe kemari." Kata Rian dengan wajah yang masih menahan kesal.
"Anda mencari saya tuan?" Joe bertanya begitu tiba di ruangan bosnya. Joe merasa atmosfir di ruangan itu terasa panas.
"Kau dan Danzo kerjakan schedule hari ini. Aku ada keperluan dan sepertinya aku tidak kembali ke kantor." Tanpa menunggu jawaban dari Joe, Rian merapikan jasnya sejenak lalu berjalan keluar.
.
__ADS_1
.
.
Velia masih memasang wajah kesalnya karena David memilih duduk di seberang tempat duduk Velia. Tentu saja hal itu membuat Velia kesal setengah mati.
"Ada Apa Vel? Lo ga usah kelihatan benci banget gitu sama itu orang, ntar yang ada anak lo mirip sama dia."
"Iiuhh .. amit-amit jabang bocah deh." Ujar Velia dengan wajah seakan jijik sambil mengetuk-ngetuk kepalanya. Dina dan Juna tertawa.
"Kamu sejak kapan punya pengawal?" tanya Dina di sela kegiatan makan mereka. Velia dan yang lain memilih mengacuhkan David dan menikmati kudapan yang ada di hadapan mereka dengan sekali-kali membuka obrolan.
"Sejak hari ini, karena aku memilih memakai motor untuk berpergian."
"Apa kau sudah kehilangan akal? kau itu sedang hamil Veli." Pekik Dina
David seakan tersengat aliran listrik saat mendengar kekasih hatinya hamil.
"Tidak, ini tidak mungkin. Ini pasti hanya akal-akalan mereka saja. Tidak mungkin Velia hamil." Batin David, Raut wajah David berubah kelam. Namun ia tak bisa berbuat banyak karena Velia begitu dijaga ketat.
Namun kehebohan terjadi di depan pintu masuk kafe dimana Rian saat ini berdiri dengan gaya coolnya dan para pelanggan wanita yang ada di kafe itu membicarakannya. Pria bule itu mengedarkan pandangannya dan mendapati Istrinya sedang menatapnya dengan sorot mata kerinduan. Rian mengulas senyum tipisnya, dan membuat beberapa pelanggan wanita yang sejak tadi terpesona padanya menjadi berdebar-debar.
Rian berjalan dengan arogan ke arah istri tercintanya. Velia berdiri dan menyambut Rian. Ia langsung berhambur memeluk Rian.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Velia dalam dekapan Rian.
__ADS_1
"Karena aku merindukan dirimu baby." Bisik Rian sensual dan mampu mengaktifkan gairah Velia yang tiba-tiba tak bisa terkontrol sejak ia hamil.
"Jangan berkata hal-hal yang membuatku bisa saja menerkammu saat ini." Desis Velia. Dina hanya geleng kepala sedangkan David sudah mengepalkan tangannya.
"Sial, lihat saja nanti aku akan mendapatkanmu lagi Veli."
"Ke kamar sono woi .. " Decak Dina tak suka.
"Ide bagus .. jika begitu aku permisi dulu. Sampai jumpa lagi." Velia meraih tasnya dan bergelayut manja di lengan Rian.
"Dasar bucin .. " Ujar Dina.
"Biarin .. iri bilang bos!" Seru Velia, Rian melirik David dengan ekor matanya. Ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti pergerakan David.
"Maher, bawa motorku. Aku ingin pulang bersama suamiku." Kata Velia melempar kunci motor yang tadi ia tunggangi. Velia dan Rian berjalan keluar dari kafe. Beberapa wanita terang-terangan memuji Rian dan membuat telinga Velia.
"Apa kau sengaja?" tanya Velia dengan nada ketus.
"Sengaja untuk apa?" tanya Rian tak tau arah pembicaraan Velia.
"Sengaja menarik perhatian mereka."
"Aku tidak pernah memperdulikan mereka. Percayalah hanya kamu yang ada dalam pikiranku saat ini." Desis Rian seraya mengecup pelipis Velia.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Selamat membaca 🥰🥰🥰