
********
Velia dan putranya sudah diperbolehkan pulang setelah 3 hari menjalani perawatan di rumah sakit. Raiden juga sudah banyak memperlihatkan perkembangan yang signifikan, luka bekas jahitan Velia juga sudah kering berkat obat terbaik yang dokter berikan. Rian langsung membawa Velia dan baby Raiden pulang.
Santika dan Bianca beserta para suami mereka sudah berkumpul di kediaman Rian untuk menyambut cucu mereka, Dian dan Gerry juga hadir di sana untuk mengantar Zafrina sekaligus untuk menjenguk bayi Velia.
Sejak berada di mansion itu, Zafrina sama sekali tidak mau bertemu siapapun. Dia terus bersembunyi di belakang punggung Gerry. Dian sampai merasa heran dengan tingkah laku Zafrina. Tidak biasanya gadis ceria itu bersikap seperti ini. Namun dia tak banyak bicara. Dia hanya akan melihat dulu apa yang sebenarnya putrinya takutkan.
Dian terus mengusap kepala Zafrina, Gadis itu menatap Dian sendu.
"Ada apa?" tanya Dian tanpa suara, hanya dari gerak bibirnya saja Zafrina tahu apa yang ditanyakan ibunya. Dia bersandar di tubuh Dian dan memilih memejamkan matanya.
"I'm oke, mom. Don't worry."
"Mama yang melahirkan kamu, sayang. Kamu tidak bisa membohongi mama." Dian mengecup puncak kepala putrinya. Tak lama Rian, Velia dan baby Raiden tiba di mansion. Semua orang menyambut mereka dengan gembira. Namun tidak bagi Zafrina. Kehadiran baby Raiden, membuatnya tersingkir dan ia benci itu.
Dulu saat ada Zayana dan Zain dia tidak pernah tak diacuhkan. Dia selalu tetap diperhatikan oleh semua orang. Tapi kenapa di sini dia merasa lain.
"Sayang, kamu tidak mau memeluk mami dan adik bayi?" tanya Rian pada Zafrina. Pria itu terpaksa sedikit mendekat untuk membujuk putri pertamanya. Namun Zafrina semakin menyembunyikan wajahnya di dada Dian.
"Maaf ya mas, sepertinya dia masih perlu waktu." Dian tersenyum lembut pada Rian. Hati Gerry langsung merasa panas, dia mendengus dan membuang muka.
Velia yang melihat kecemburuan Gerry, hanya tersenyum simpul. Wajar saja , karena menurut Velia, Dian memang sangat cantik dan mempesona dengan postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan wajah yang cantik dan imut, Dian benar-benar seperti sekuntum bunga yang begitu menarik minat para kumbang.
Rian hanya mendesah kecewa. Dia bangkit lalu duduk di sofa, sementara Velia sejak tadi sudah nyaman bersandar di sebelah nya. Jangan ditanya kemana baby Raiden, karena bayi itu sudah menjadi rebutan kedua orang tua Veli dan orang tua Rian.
"Bagaimana perkembangan Raiden, Veli?" tanya Dian, sebelah tangannya masih terus mendekap sang buah hati. Rian masih sesekali mencuri pandang menatap putrinya. Tapi gadis itu benar-benar menghindarinya.
"Semuanya bagus, mbak," jawab Velia singkat.
__ADS_1
Dian baru menyadari kenapa putrinya tidak nyaman berada di sana. Ternyata para tetua di keluarga itu mendadak tidak acuh pada Zafrina setelah kedatangan baby Raiden. Putrinya merasa terasing sehingga dia merasa tidak dipedulikan di sana.
"Inna, sayang. Kamu ga kangen sama mami, nak?" Suara Velia tiba-tiba memanggil Zafrina. Gadis itu mengangkat kepalanya sebentar lalu menggeleng.
"Aku mau sama mama saja." jawab gadis kecil itu singkat. Gerryerasa aneh dengan tingkah putrinya itu.
"Ada apa, sayang? itu mami Veli kan kangen sama Inna." Bujuk Gerry, namun putri kecilnya menggeleng dan kembali mencari kenyamanannya di pelukan Dian. Wajah Velia tampak kecewa.
"Kalau begitu kami pamit dulu, ya." Gerry berdiri dan menyalami Rian. Rian ikut berdiri saat Dian menggendong Zafrina dengan susah payah.
"Sayang, kamu biar papi yang gendong, ya."
"Ga mau....!!" jerit Zafrina histeris dan merangkul leher Dian dengan erat. Dian berusaha menenangkan gadis itu kembali. Velia sedikit terkejut dengan respon Zafrina. Gerry segera menggendong Zafrina dan membawanya keluar mansion.
Dian berhenti lalu sejenak membagikan tatapan matanya pada Velia dan juga Rian.
"Maaf, tapi untuk sementara sebaiknya Zafrina tetap tinggal bersama saya. Sampai situasinya tidak terlalu membuatnya tertekan. Usianya masih rentan memiliki traumatis. Mungkin dia belum sepenuhnya bisa menerima semua perubahan ini," tutur Dian.
"Tapi nyatanya perasaan seorang anak lebih peka, Veli. Saya tidak mau memaksa Zafrina untuk tinggal jika dia tidak menginginkannya. "
Santika yang keluar kamar, terkejut mendengar perdebatan antara menantunya dan mantan menantunya. Meskipun perdebatan halus dia bisa melihat wajah kecewa menantunya.
"Ada apa ini Rian? mana Inna?"
"Inna ga mau tinggal di sini, ma."
"Lho, kenapa? bukankah sebelum-sebelumnya ga apa-apa?" Alis santika mengernyit heran. Namun Dian tetap tenang menanggapinya.
"Saya tidak pernah sekalipun mempermasalahkan Zafrina mau tinggal dengan siapa. Tapi saya akan merasa menjadi masalah jika dia merasa tidak nyaman dan pada akhirnya dia justru merasa tertekan."
__ADS_1
"Tertekan karena apa?" tanya Santika heran.
"Tanyakan itu pada keluarga anda. Karena selama berada di sekitar saya dia tidak pernah seperti ini sebelumnya." Dari luar masih terdengar suara tangis Zafrina. "Saya yang membesarkannya sejak dalam kandungan, saya yang berjuang sendirian melahirkannya dan saya jugalah yang selama ini memberinya kasih sayang sehingga dia tumbuh menjadi seperti sekarang. Saya juga akan merasa sakit jika dia seperti itu. Saya harap jika kalian masih ingin terus Zafrina berada di tengah kalian, jangan pincang memberinya kasih sayang. Saya permisi."
Dian berbalik dan berlalu. Santika masih belum mengerti kenapa dengan Dian dan Zafrina. Meski pun nada bicaranya lembut namun syarat akan kemarahan.
"Ada apa sebenarnya, Rian?"
Velia menunduk dan menangis. Dia juga sudah berusaha berlaku dan bersikap adil pada putri sambungnya.
Rian memeluk Velia. "Sudah tidak apa-apa. Kelak Zafrina pasti akan kembali ke rumah ini."
"Sebenarnya sejak kelahiran Raiden, dan mendengar papa dan juga papa Daniel memperebutkan Raiden, Zafrina merasa tidak di pedulikan di sana. Dari sana dia meminta Rian untuk mengantar pulang ke rumah Dian. Rian pikir kalo menitipkan di sana Zafrina bisa melupakan kejadian itu. Tapi siapa sangka dia justru semakin merasa tidak diinginkan," kata Rian.
"Ya ampun, mama benar-benar ga tahu kalau Zafrina akan seperti itu."
"Ada apa sih, jeng? katanya mau panggil Velia."
"Lho, itu Veli kenapa nangis?" tanya Bianca mendekati putrinya.
"Ini lho Jeng, Zafrina merasa cemburu sama adiknya. Dia merasa diabaikan, sampai-sampai ga mau tinggal di sini."
"Oh, ya Allah."
"Apalagi kemarin pas dirumah sakit mas Anggara dan mas Daniel ngomongin soal perusahaan. Zafrina merasa tidak ada yang peduli lagi sama dia. Itu tadi dia pulang sambil nangis karena ga mau di suruh tinggal."
"Ya sudah, Veli susui dulu Raiden. Kamu jangan nangis nanti bayinya ngerasain kamu jadi rewel. Nanti biar kami para orangtua meminta maaf langsung sama keluarga Dian, dan terutama pada Zafrina. Jujur mama ga ada niatan melupakan. Tadi saja sebelum kamu datang mama ajakin Zafrina ngobrol juga dia mau jawab. Cuma memang sepertinya dia was-was sampai ga mau lepas dari ibunya.
"Itu hal wajar, sayang. Karena baik kamu atau suami kamu anak tunggal kalian ga kan bisa merasakan bagaimana cemburunya punya adik. Mama dulu juga merasakan itu." sambung Bianca. Velia menjadi sedikit lebih tenang. Dan langsung menyusui Raiden.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nungguin lama ya? othor sibuk banget dah revisi karya lama yang judulnya Falling For you my Dear. Itu aja yang di revisi masih kurang banyak.