
***********
Velia membuka pintu dan ternyata itu adalah manager hotel dan dua orang pelayan restoran. Velia mempersilahkan mereka masuk dan mereka menata hidangannya di balkon penthouse.
"Silahkan dinikmati hidangannya tuan. Jika ada yang diperlukan lagi silahkan hubungi kami."
Velia tampaknya sangat senang, entah pengaruh dari dua kerak telor tadi atau memang mood wanita ini sedang bagus. Dia duduk berhadapan dengan Rian, dan sesekali melempar senyumnya untuk pria yang telah menjadi pemilik kehormatannya.
"Kau bahagia?" tanya Rian.
"Tentu saja honey, tapi sebenarnya aku juga berharap Ina akan selalu ada di dekat kita." Ujar Veli.
"Kita harus sabar, anak seusianya masih labil sekali terlebih lagi dia belum pernah jauh dari ibunya. Sudah pasti akan sulit mengajaknya tinggal menetap dengan kita." Kata Rian lembut.
Meskipun apa yang Velia inginkan sama seperti keinginannya tapi dia tidak bisa membuat Dian bersedih lagi. Bagaimana pun wanita itu sudah banyak menderita dan lagi Rian sendiri yang dulu menolak Zafrina jadi Rian hanya menunggu keikhlasan hati Dian untuk memberikan ijin tinggal Zafrina.
Velia mengangguk ada benarnya juga ucapan suaminya itu. Mereka baru bertemu hampir 3 bulan, mana mungkin bisa mengajak Zafrina pindah secepat itu. Lagipula Velia teringat Dian yang tidak akan mungkin mau melepas putrinya begitu saja.
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan acara makan dengan suasana hening. Setelah menghabiskan makannya dan mendorong troli keluar Velia kembali berpikir jika dirinya dan Rian tidak membawa baju ganti. Velia bergegas masuk namun suaminya sudah tidak ada di balkon. Gemericik air membuat Velia memiliki ide konyol, ia menyusul Rian yang berdiri dibawah kucuran air hangat. Velia melepas gaunnya dan meletakkannya di atas meja wastafel. Ia hanya memakai pakaian dalam saat mendekati tubuh Rian dengan berjalan mengendap-endap. Rian yang masih asik menikmati mandinya tak menyadari langkah kaki Velia. Velia memeluk Rian dari belakang dan mengusap junior Rian. Rian geleng kepala melihat tingkah istrinya yang tak ada malunya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?"
"Aku akan berterima kasih untuk kerak telor ku tadi. Velia membalik tubuh Rian, Velia berdiri menggunakan lututnya hingga wajahnya tepat berada di sarang belut listrik milik Rian.
Velia mulai beraksi, menuntaskan rasa terimakasih nya dengan cara dia sendiri.
"Sshh ... uuhm sayang." racau Rian, Veli sesekali memejamkan mata dan menji*lati titik-titik kelemahan Rian hingga tubuh Rian menegang dan tubuhnya menggelinjang. Rian berusaha menjauhkan kepala Velia saat semburan dari belut listriknya keluar, tapi sepertinya Velia masih terus menikmatinya bahkan menelan cairan kental itu.
"Honey apa yang kamu lakukan?" mata Rian terbelalak kaget.
.
.
.
__ADS_1
Anak buah Rian yang di utus untuk mengikuti David mengernyit heran, karena ada mobil berhenti di sana dan dia hapal betul siapa pemilik mobil itu. Maher segera mengambil gambar saat orang itu keluar dari dalam mobilnya.
"Jeremy .... " Desis Maher, bagi maher yang sering berurusan dengan dunia bawah sangat kenal sekali dengan mafia satu itu yaitu Jeremy yang terkenal sebagai penjual obat-obatan terlarang.
"Lukas cepat hubungi tuan Rian segera." Perintah Maher.
Di sisi lain setelah Jeremy dipersilahkan masuk oleh David dia duduk di sofa dengan gaya arogannya.
"Apa yang kau butuhkan, kerja sama apa yang kau tawarkan sebagai imbalannya?" tanya Jeremy tanpa basa basi.
"Aku memerlukan obat peluruh kandungan, dan aku akan mengantar paketmu."
"Tapi beri aku waktu 3 hari, setelah aku mendapatkan obat itu. Aku akan mendatangimu dan menjadi kurir paketmu." Tawar David, Jeremy pun mengangguk.
"Baiklah, besok aku akan sediakan obatnya. Tapi aku tidak mau ada kata gagal. Sekali kamu gagal ku pastikan ragamu itu secepatnya akan kosong tak berisi alias mati."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Segini dulu ye gengs