Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 69. Aku Takut


__ADS_3

*********


Rian duduk di tepi brankar Velia. Wajah gadis itu pucat seakan tak teraliri darah. Tangan Rian terkepal ditambah tadi dirinya sempat melihat rekaman CCTV yang merekam kejadian tadi. Rian sudah menyerahkan salinan rekamannya pada pihak berwajib dengan kasus dugaan pembunuhan berencana.


Rian tak bisa membayangkan jika saat itu istrinya sampai tertabrak Stevie. Berulang kali Rian mengecup jemari tangan Velia.


"Maafkan aku baby ... aku tidak bisa menjagamu dengan baik." Lirih Rian kepalanya tertunduk dalam. Usapan lembut di kepalanya membuat Rian mengangkat kepalanya. Rian tersenyum saat melihat Velia sudah membuka mata.


Velia tersenyum, namun air matanya juga mengalir. Velia masih ingat betul kejadian yang baru saja menimpa dirinya.


"Hei, apa ada yang sakit katakan baby?" Rian tampak sangat cemas. Velia menggeleng.


"Sebentar aku panggilkan dokter dulu." Rian sudah berdiri hendak menekan tombol emergency tapi Velia menahan tangan Rian.


"Temani aku, aku takut honey." Ucap Velia dengan suara lirih dan bergetar. Rian kembali duduk dan menggenggam jemari istri tercintanya.


"Aku akan di sini menemanimu." Rian sungguh tak tega melihat air mata Velia terus mengalir. Dia tahu saat ini istrinya pasti masih syok dengan apa yang baru saja menimpa dirinya.


"Jangan tinggalkan aku lagi honey, aku benar-benar takut."


"Sstt ... tenanglah." Meskipun Rian sudah berulang kali menenangkan Velia tubuh gadis itu tetap bergetar. Rian menekan tombol emergency tanpa melepas pegangan tangan Velia.


Rasanya hati Rian ikut hancur melihat istri tercintanya harus merasakan trauma yang mendalam seperti ini. Tak lama dokter pun datang dan memeriksa kondisi Velia. Dokter dengan segera menyuntikkan sesuatu ke dalam infus istri Rian tersebut. Dan tak butuh waktu lama Velia kembali terlelap.


"Ada apa dengan istriku?"

__ADS_1


"Istri anda sepertinya mengalami syok dan trauma pasca kejadian buruk yang menimpanya. Sementara saya memberinya obat agar nyonya Veli bisa beristirahat dan memulihkan kondisinya seperti sedia kala. Kami juga akan tetap memantau, jika di perlukan kami akan datangkan seorang psikolog untuk mengatasi trauma nyonya Velia." Tutur dokter Rita. Rian kembali menatap Velia yang tertidur. Dokter itu pun akhirnya undur diri


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu Stevie. Jangan pernah berharap kau bisa lepas dariku." Desis Rian seraya mengepalkan tangannya.


.


.


.


Di ruangan lain dokter dan perawat sedang melakukan tindakan kuretase pada janin Stevie. Danzo meminta pihak rumah sakit tidak mengoprasi retakan kaki Stevie dengan alasan ingin membawanya ke luar negeri. Danzo hanya meminta dokter melakukan kuretase saja.


Setelah selesai Danzo menghubungi Rian jika dia ingin memindahkan Stevie. Dia butuh ambulans lain agar pihak rumah sakit tidak curiga.


"Halo, ada apa? bagaimana kondisi istimu? apa dia baik-baik saja?" cecar Gerry begitu panggilan tersambung.


"Istriku baik-baik saja. Hanya saja dia mengalami trauma. Bisakah aku menyewa ambulans dari rumah sakitmu?"


"Tentu saja. Aku akan kirimkan sekarang. Di mana lokasimu saat ini?"


"Bisakah Diego yang mengambil unitnya? aku membutuhkannya untuk menyingkirkan jala*ng yang menjadi penyebab kejadian ini."


"Baiklah kau hubungi Diego, aku akan mengurus sisanya. Segera saja singkirkan jalan* itu, jangan sampai itu mengganggu kondisi kehamilan istrimu."


"Hmm ... aku mengerti." Setelah mematikan teleponnya, Rian menghubungi Diego dan menyusun rencananya. Diego segera menjalankan perintah tuannya tanpa menunggu lama.

__ADS_1


Tak lama pintu kamar rawat Velia diketuk. Dina dan Joe baru tiba di Jakarta langsung masuk begitu Rian mempersilahkan mereka masuk.


"Tuan ... "


"Kenapa kau disini? bukannya mempersiapkan pernikahanmu?"


"Hmm .... " Joe menggaruk pelipisnya. Dia menatap Dina.


"Karena calon mempelai wanitanya sangat mengkhawatirkan istri anda tuan. Jadi demi memenuhi keinginannya aku kembali ke Jakarta." Ujar Joe. Tanpa permisi Dina duduk di samping brankar Velia dan mengusap pipi Velia dengan lembut.


"Bangunlah, bukankah kamu sudah berjanji akan menemaniku di saat aku menikah nanti?" Lirih Dina pilu. Persahabatan keduanya terjalin sejak lama. Mereka saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Velia selalu melindungi Dina dari perundingan sedangkan Dina melindungi Velia dari fans laki-laki yang selalu meneror Velia.


Joe dan Rian memilih duduk di sofa.


"Bagaimana semuanya bisa terjadi tuan?"


"Jala*ng itu mengincar istriku. Tapi aku tidak tahu. Selama ini anak buahku selalu mengatakan jika wanita itu sibuk mencari baji*ngannya. Mungkin hari ini dia seperti mendapat kesempatan untuk mencelakai istriku dan bodohnya aku membiarkan istriku turun sendirian hanya bersama Danzo."


"Dimana wanita itu sekarang?" Dina menyela pembicaraan Rian dan Joe. hatinya serasa mendidih mendengar penuturan Rian tadi.


"Aku sudah mengatasinya. Kau hanya perlu memikirkan pernikahanmu saja. Jangan sampai gara-gara hal ini kalian menundanya dan membuat istriku sedih."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Like nya di tekan guys. Dan jangan lupa giftnya setangkai mawar. ga minta kopi takut aku tuh.

__ADS_1


__ADS_2