Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 83.


__ADS_3

*******


Perlahan kelopak mata Dina terbuka. Meski pandangannya sedikit buram, Dina menatap ruangan di sekitarnya. Dia sepertinya sadar berada dimana.


Dina menengok di sisi kanannya Joe merebahkan kepalanya seraya menggenggam jemarinya.


"Sayang, bangunlah." Dina menggoyangkan lengan Joe perlahan. Joe tersentak kaget. Ia langsung berdiri dan menatap Dina.


"Kau sudah siuman sayang? syukurlah." Joe membelai wajah Dina yang masih pucat.


"Kenapa aku dibawa ke rumah sakit?"


"Kamu tidak ingat? dengan apa yang sudah terjadi padamu?"


Pandangan mata Dina terlihat mengawang. Dan ingatannya kembali pada beberapa jam yang lalu saat dirinya merasakan pusing dan mual.


"Aku ingat, beberapa hari ini kepalaku sering terasa pusing dan perutku serasa tidak nyaman."


"Dan kamu baru mengatakannya padaku hari ini?"


"Aku tidak mau membuatmu cemas, " lirih Dina.


"Tapi nyatanya kamu hampir membuat dirimu sendiri menjadi janda."


"Maksud kamu?"


"Ya gara-gara mendengar kamu pingsan, aku sampai beberapa kali menerobos lampu merah."


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku lihat akhir² ini kamu sibuk. Dan pekerjaanmu banyak. Aku tidak mau membebanimu dengan kondisiku."


"Mulai sekarang, kamu benar-benar harus memperhatikan kesehatanmu. Karena sekarang ada janin di sini yang butuh perlindungan, perhatian dan kasih sayangmu," tutur Rian.


"A... apa maksudnya aku hamil?" Dina meneteskan air mata bahagia setelah sebelumnya dia terbengong karena syok mendengar kabar kehamilannya.


"Ya, kamu akan segera menjadi bunda dan aku akan menjadi ayah," tutur Joe. Ia dapat melihat wajah pucat Dina memancarkan binar bahagia.


Dina menunduk dan mengusap perutnya. "Akhirnya kamu hadir juga di perut bunda, sayang. Sehat lah dan tumbuhlah dengan baik. Bunda akan menjagamu." Air mata Dina mengalir semakin deras.


Tiada kata yang bisa mewakili betapa bahagianya mereka berdua. Bahkan pria seperti Jonathan yang terkenal kejam di dunia bawah pun sampai menitikkan air mata kebahagiaan.


Akhirnya Dina diperbolehkan pulang, Joe menjaga Dina dengan begitu protektif. Dina dilarang melakukan apapun, Dia hanya berbaring, sedangkan Joe yang melakukan semua pekerjaan rumah yang biasa Dina kerjakan.


"Aku sudah pesan makanan untukmu. Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Joe seraya duduk di di sisi ranjang.


Saat ini penampilan Joe jauh dari kata Rapi. Tapi entah mengapa hal itu justru memicu debaran aneh di hati Dina.


"Sayang, apa dokter tadi mengatakan jika kandungan ku lemah?" tanya Dina dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Kenapa? apa perutmu sakit?" tanya Joe cemas. Dina menggeleng seraya menggigit bibir bawahnya.


"Tidak, bukan begitu. Aku ... menginginkanmu Joe." Joe menatap tak percaya dengan permintaan Dina. Meskipun tadi dokter juga sempat mengatakan jika tidak apa-apa melakukan hubungan, tapi Joe takut hal itu akan menyakiti janin yang ada dalam kandungan Dina.


Dina menatap Joe yang tampak ragu. "Tidak boleh ya?" Raut wajah Dina terlihat lesu setelah mengucapkan kata itu.


"Bukan tidak boleh, aku hanya takut nanti akan menyakiti anak kita."


"Ya pelan-pelan aja."


"Nanti dulu ya, tunggu pengirim makanannya datang dulu." Joe bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar.


Dia menekan nomor seseorang, hingga dering kedua panggilannya baru tersambung.


"Halo dokter Arya."


"Ada apa Joe?"


"Apa berhubungan in*tim dengan wanita hamil berbahaya?"


"Ya itu tergantung kondisi dan situasinya Joe."


"Maksudnya?"


"Jika wanita hamil itu milik orang lain pastilah sangat berbahaya. Apalagi kalau kamu ketahuan oleh suaminya." Kelakar Arya.


"Aku serius dokter. Jangan sampai jabatanmu di sana tergantikan oleh orang lain."


"Istriku hamil 5 minggu, tapi dia ingin melakukan hubungan itu. Apakah tidak apa-apa?"


"Selama kondisi kandungannya tidak lemah, hal itu boleh-boleh saja, lebih baik lagi jika sper*ma tidak dikeluarkan di dalam. Karena cairan itu mengandung zat prostaglandin yang bisa memicu kram perut dan kontraksi. Lebih amannya lagi jika kamu memakai pengaman."


Setelah berkonsultasi dengan Arya, Joe merasa sedikit lega. Setelah pesanan makanannya tiba, Joe masuk ke dalam kamar dan ternyata Dina sudah terlelap. Joe duduk di tepi ranjang dan menyibak rambut Dina yang menutupi wajahnya.


"I love you sayang. Sehat selalu ya." Bisik Joe seraya mengecup kening Dina. Joe pun memilih beranjak dan membersihkan dirinya.


.


.


.


"Baby, besok kita pulang ya." Rian naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Velia.


"Memangnya kenapa? bukankah kamu bilang boleh selama yang aku mau?"


"Apa kamu tidak penasaran dengan gaunmu?"

__ADS_1


"Gaun? gaun apa?" tanya Velia bingung. Dia lupa jika beberapa waktu lalu dia sudah fitting gaun pernikahan.


Rian lantas meraih ponselnya di atas nakas dan membuka galeri ponselnya.



"Sepertinya Cinderella melupakan gaunnya." Goda Rian.


"Apa kamu serius honey? apa benar gaun itu untuk resepsi kita besok?" tanya Velia tak percaya.


"Aku serius baby. Pihak wardrobe sudah menghubungiku jika gaunnya sudah siap dan kau harus fitting lagi karena putraku sudah semakin besar di perutmu."


"Kita pulang sekarang, bagaimana?"


"Oh baby, ini pukul 11 malam. Besok saja kita kembali. Sekarang mari kita tidur. Tidak baik jika ibu hamil begadang." Ujar Rian seraya melingkarkan tangannya di perut Velia. Namun saat dia akan memejamkan matanya, Tiba-tiba Rian merasakan tendangan keras dari perut Velia.


"Dia benar-benar posesif." Dengus Rian. Ia merasa kelak akan punya saingan untuk berebut perhatian Velia.


"Sama seperti papinya," ucap Velia terkekeh. Rian mencubit gemas hidung Velia.


"Auch ... sakit honey." Rengek Velia manja.


"Maafkan aku baby. Aku menyayangimu dan putra kita. Rian mengecup kening, mata, dan hidung Velia diakhiri dengan ciuman lama di bibir.


"Semoga cinta kita abadi hingga maut memisahkan." Bisik Velia, sudut matanya basah karena dia begitu bahagia sekarang. Dulu dia kira akan seumur hidup terjerat hubungan terlarang dengan David. Tapi kini yang dia justru Terjerat duda kece.


Velia lambat laun memejamkan matanya dengan damai. Rian melingkarkan tangannya di perut Velia. Ia pun mulai terpejam menyusul sang istri menjemput mimpi.


Keesokan harinya, Danzo sudah berada di depan halaman Rumah Velia. Dijah sibuk menarik koper Rian dan Velia.


"Mas, ini koper tuan dan nona Veli."


"Ya ... " Jawab Danzo tanpa melirik Dijah sama sekali. Velia dan Rian keluar seraya bergandengan. Velia menghampiri Dijah.


"Dijah, titip rumah ya. Kalo perlu bik Sumi diajak tinggal di sini saja. Jadi kamu bisa menginap sedangkan rumahmu bisa kamu sewakan saja. Jadi kalian punya pemasukan tetap."


"Iya non."


Velia mendekati Dijah lalu menyerahkan dua amplop yang cukup tebal pada gadis itu.


"Ini gaji kamu, sama ini aku titip buat bik Sumi."


"Tapi non, ini terlalu banyak non."


"Ga papa, kebutuhan kalian juga banyak. Apalagi bik Sumi juga butuh berobat 'kan?"


Setelah berpamitan akhirnya Velia dan Rian meninggalkan desa yang begitu asri itu menuju ke ibu kota dengan sejuta kesibukannya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa like komen dan Giftnya ya guys


__ADS_2