Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 63. Menyiapkan Surprise Untuk Papi


__ADS_3

*******


Siang itu David tiba di tempat persembunyian Jeremy. Namun pria itu tak mendapati sekutunya ada di sana. David menyugar rambutnya dengan gusar, ia menatap di sekeliling tempat itu. Hanya ada bercak darah di sana. Apa jangan-jangan Jeremy dibekuk petugas polisi? "Ah sial, sepertinya aku harus segera pergi dari sini." gumam David.


David tidak tahu jika dia telah diikuti oleh anak buah Rian. Dia keluar dari tempat persembunyian Jeremy dan segera memacu mobilnya.


Pablo yang bertugas membuntuti David segera menjalankan kuda besinya. Kali ini dia sudah di tugaskan untuk meringkus David di kediaman pria itu. Diego dan Apri menunggu kode dari Pablo karena mereka satu tim. (bukannya keroyokan tapi memang mereka hanya meminimalisir kemungkinan buruk yang terjadi.)


Setelah mendapat info dari Pablo jika target sudah menuju mansionnya. Diego segera bersiap. Apri sudah berjaga di dalam mobil. Dengan hati gundah David keluar dari mobil di saat yang bersamaan Diego yang berada di belakang David segera membekap pria itu memakai sapu tangan yang di beri obat bius. Dalam hitungan detik David langsung tumbang. Apri segera keluar dan membantu Diego. Beruntung di tempat itu suasana sepi. Dan David sudah tidak memiliki pembantu lagi.


"Misi berhasil." Ujar Diego melalui headset nya yang ternyata tersambung ke ponsel Rian. Di dalam ruangan kantornya Rian tersenyum sumringah. Dia mulai tidak memahami dirinya sendiri. Ia sudah banyak berubah sejak mengenal Velia. Gadis itu membuatnya lebih banyak tersenyum dari sebelumnya. Setelah kehadiran Zafrina,Rian merasa semakin di berkati dengan bertemu Velia. Hidupnya yang suram kembali bergairah.


Rian menekan nomor Velia, namun berulangkali menghubungi Velia tidak mengangkat panggilannya. Sekelebat pikiran buruk menghinggapi Rian. Dia segera menghubungi pak Robert kepala pelayannya untuk menanyakan keberadaan Velia.


"Dimana istriku?" tanya Rian langsung begitu panggilannya tersambung.


"Nona pergi bersama nona muda tuan. Kata Nona Veli beliau ke rumah orangtuanya." Ujar kepala pelayan itu.


Rian langsung mematikan sambungan teleponnya dan kembali menghubungi nomor Velia, namun lagi-lagi panggilannya terabaikan. Ia merasa sangat kesal sekali.


Disaat Rian sedang memikirkan Velia. Joe mengetuk pintu.


"Masuk ...!!"


Joe melangkah masuk seraya menundukkan badannya sejenak.


"Tuan, saya ingin mengajukan cuti." Ujar Joe.


"Untuk apa Joe? beri aku alasan yang masuk akal." Ujar Rian menatap asisten pertamanya tajam.


"Tentu saja untuk membicarakan pernikahan saya. Bukankah tuan kemarin sudah bersedia membiayai pernikahan saya. Rian mengangguk berkali-kali.


"Siapa wanita yang mau jadi pendampingmu?" tanya Rian dengan nada mencemooh.


"Tentu saja banyak tuan. Tapi saya tipe pemilih. Sehingga Dina lah yang saya rasa tepat mendampingi saja." Jawab Joe seraya mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, setidaknya kau bisa menjaganya. Jangan pernah menyakiti sahabat istriku atau kau akan berhadapan denganku." Ujar Rian, alis Joe bertaut tak mengerti maksud Rian. Joe berpikir Rian menyukai Dina.


"Apa anda juga jatuh hati pada calon istri saya tuan?" tanya Joe. Rian membelalak mendengar ucapan Joe.


"Apa kau sudah gila menanyakan hal itu padaku Jonathan?" Suara Rian menggelegar di seluruh ruangan beruntung ruangan Rian kedap suara.


"Saya tidak berani tuan. Saya hanya bertanya saja. Karena anda terdengar sedang mencemaskan calon istri saya."


"Aku hanya tidak ingin istriku ikut bersedih karena istrimu nanti."


"Oh saya kira ... "


Rian tampak menulis di sebuah kertas lalu membubuhkan tanda tangannya.


Ini, semoga cukup." Rian memberikan selembar cek. Mata Joe berbinar sangat bahagia.


"Terimakasih tuan. Saya janji begitu urusan saya selesai saya akan langsung kembali bekerja." Kata Joe.


"Tidak perlu buru-buru. Ku beri kau waktu 10 hari untuk menyelesaikan semuanya. Selesaikan saja pekerjaanmu hari ini dan segeralah pulang. Selebihnya biar aku dan Danzo yang urus."


"Terimakasih sekali tuan." Ujar Joe membungkukkan badannya lalu berlalu dari ruangan itu. Setelah menutup pintu Joe menatap kembali cek yang di berikan oleh Rian di sana tertulis 500 juta. Hanya membereskan seekor tikus seperti Jeremy dia mendapatkan 500 juta. Seandainya ada 10 Jeremy pasti dia akan menjadi kaya raya.


Joe menggelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba menghinggapi isi kepalanya.


Velia yang berada di rumah kedua orang tuanya sedang asyik membuat kue bersama Bianca dan Zafrina. Gadis kecil itu ingin membuat kue untuk papinya. Karena menurut oma Santika, besok papinya akan berulangtahun dan Zafrina memiliki kejutan untuk Rian nanti tengah malam.


"Mami apa kejutan kita akan berhasil?"


"Tentu saja sayang. Mami yakin rencana Ina tidak akan ketahuan papi. Karena mami sudah siapkan kue cadangan." Kata Velia. Zafrina tersenyum dan memeluk Velia.


"Terimakasih mami, terimakasih juga oma Bianca." Kata Zafrina dengan riang.


"Sama-sama sayang. Sana Ina temani opa Daniel dulu. Nanti opa sedih kalo Zafrina kesini tapi tidak mau menemani opa." Kata Velia. Dirinya ingin membicarakan sesuatu dengan Bianca, Veli tidak ingin Ina mendengarnya karena ini bersangkutan dengan David.


"Oke mami, aku akan temani opa Daniel biar opa tidak bersedih." Kata Zafrina, dia mencuci tangannya ke wastafel dengan menaiki tangga kecil yang ada di sana yang biasanya di gunakan untuk mengambil peralatan dapur yang berada di rak paling atas.

__ADS_1


Selepas Zafrina pergi, Velia mendekati Bianca.


"Mah, apa mama tahu jika pacar kak David hamil?"


Bianca menatap putrinya sendu lalu mengangguk.


"Itulah yang membuat jantung papa kambuh sayang."


"Terus sekarang mau gimana?" tanya Velia.


"Kamu fokus saja sama kandungan kamu. Wanita itu bukan orang yang penting untuk kamu pikirkan."


"Tapi mah ... "


"Vel, mama mohon kali ini nurut sama mama. Biarkan urusan David dan wanita itu menjadi urusan papa."


"Tapi ma ... "


"Vel, please listen to me ... mama cuma mau kamu dan cucu mama baik-baik saja. Kemarin papa hanya terkejut tapi percayalah papamu lebih dari mampu untuk mengurus anak sahabatnya itu."


Velia terdiam saat Bianca tidak lagi menyebut David kakaknya. Seakan David sudah menjadi orang asing di rumah mereka.


"Baiklah ma, Veli tidak akan lagi mengurusi kak David. Tapi kemarin aku sempat bertemu Kak David."


"Jika kau bertemu dengannya jauhi dia, jangan sekalipun mendekatinya atau mau ditraktir sesuatu olehnya." Ujar Bianca. Bianca sudah tau apa yang terjadi pada Velia saat dulu David menculiknya. Bianca tak ingin kejadian buruk itu terulang lagi pada putrinya.


"Mama kenapa sih jadi aneh gini. Curigaan sama kak David."


"Tidak ada, yang pasti mama hanya mau kamu berhati-hati karena kamu sedang hamil Vel."


"Iya mamaku sayang ... " Velia mengecup pipi Bianca di saat yang sama bunyi dentingan suara oven terdengar menandakan kue buatan mereka telah matang."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Selamat membaca... 🥰🥰

__ADS_1


Selagi menunggu mampir juga ya di karya teman othor Redwhite yang berjudul Cinta Buta.



__ADS_2