Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 82. Apakah Berat?


__ADS_3

******


Rian dan Velia benar-benar menikmati masa liburannya. Ini hanya pengalihan saja. Agar Velia tak mengetahui kejutan yang telah Rian siapkan untuknya. Velia tampak bahagia sekali dan beberapa kali Ria mengambil foto Velia saat berada di kebun teh dengan baby bump yang terlihat semakin menggemaskan.


"Honey aku lelah, kakiku sakit" rengek Velia. Rian pun menghentikan langkahnya dan berjongkok di depan Velia.


"Naiklah ..." ujar Rian. Namun Velia justru mundur.


"Aku takut honey. Ini akan terhalang perutku. Bagaimana jika aku jatuh."


Rian bangun dari posisinya lalu membelai wajah Velia yang tampak memerah karena hawa dinginnya benar-benar membekukan.


"Baiklah, sini aku akan menggendongmu di depan." Rian akhirnya mengalah dan mulai mengangkat tubuh Velia.


Velia melingkarkan tangannya di leher Rian. Senyumnya mengembang melihat bulir keringat mulai membasahi wajah tampan Rian.


"Apakah berat?"


"Jangan mengajakku bicara baby, tenagaku bisa habis."


"Jika begitu turunkan aku. Aku mau jalan" ucap Velia, dan Rian pun akhirnya berhenti berjalan dan menurunkan Velia dengan hati-hati.


Velia memilih duduk di sebuah bangku. Rian berjongkok dan memijat tumit Velia.


"Apa yang kamu lakukan honey, jangan seperti itu." Velia merasa itu sebuah hal yang tidak sopan membiarkan pria menyentuh kaki.


"Memangnya kenapa? aku hanya ingin membuat kakimu merasa lebih baik" ujar Rian seraya terus memijat kaki Velia tanpa memperdulikan tatapan risih dari istrinya.


"Lho mbak Velia, mas bule mau kemana?" tanya Joni tetangga desa yang turut ambil andil atas penggrebekan Rian dan Velia 7 bulan yang lalu.


"Mau pulang mas," jawab Velia.


"Ayo bareng saya saja. Rumah mbak Velia kan masih jauh."


Velia melirik Rian, pria itu tersenyum lembut lalu mengangguk.


"Jika tidak merepotkan mas." Kini giliran Rian yang menjawab. Joni turun seraya membuka pintu mobil avanza milik pak Lurah. Joni adalah supir di kantor kelurahan di desa itu.


"Silahkan mbak Veli dan mas bule."


"Panggil saya Rian saja mas, saya bukan bule. Ngomong-ngomong nama mas siapa?"


"Saya Joni mas."


Setelah 15 menit perjalanan menggunakan mobil akhirnya mereka sampai di depan rumah Velia.


Velia turun di bantu Rian, setelah itu Rian berbalik dan menyodorkan beberapa lembar uang merah pada Joni.

__ADS_1


"Ini buat beli rokok Jon."


"Eh ... tidak usah mas Rian. Saya ikhlas ngasih tumpangan" ujar Joni seraya menyodorkan lagi uang Rian


"Tapi saya juga ikhlas Jon, tadi kalo ga ada kamu, pasti kaki saya bisa lepas gendong istri saya sampai rumah" kelakar Rian. Beruntung Velia sudah masuk duluan ke dalam rumah jadi tidak mendengar candaan Rian.


"Serius ini mas buat saya?" tanya Joni masih tidak yakin.


"Duarius Jon."


"Ya Allah makasih banget ya mas. Alhamdulillah bisa buat anak saya berobat." Mata Joni langsung berkaca-kaca.


"Anak kamu sakit apa memang?" tanya Rian penasaran.


"Sudah berhari-hari panas mas, saya bawa ke puskesmas ga ada perubahan. Ini saya pulang pinjam mobil buat bawa anak saya ke rumah sakit mas. Sepanjang jalan tadi saya lagi mikir cari pinjaman kemana? eh malah ketemu sama mas Rian," Tutur Joni seraya mengusap air matanya.


Rian kembali membuka dompetnya dan mengambil semua uang cash yang ada di dalamnya dan menyerahkannya pada Joni.


"Ini kamu bawa semuanya Jon. Maaf saya cuma bawa uang cash sedikit. Semoga bermanfaat ya Jon, anak kamu juga lekas sembuh."


Belum sempat Joni mengucapkan sepatah kata pun Velia memanggil Rian.


"Sudah ya Jon, istriku memanggil. Cepat pulang, bawa anak kamu berobat."


Rian beranjak pergi meninggalkan Joni yang masih tertegun menatap puluhan lembar uang berwarna merah itu.


"Ya Allah, tolong balas kebaikan mas Rian. Semoga hidupnya selalu diberi kebahagiaan." Lirih Joni. Dia pun segera melajukan mobil itu menuju ke rumahnya.


"Joe kapan kamu pulang?" Dina saat ini sedang menghubungi Joe yang sedang mempersiapkan resepsi untuk Velia dan Rian 3 hari lagi.


"Mungkin agak malam, memang kenapa?"


"Bisakah kamu pulang sekarang, kepalaku pusing sejak tadi aku merasa mual dan badanku lemas" lirih Dina.


"Apa kau tadi salah makan sesuatu?" Tanya joe cemas. Pasalnya Dina hanya sendirian di apartemen sementara bik Sulis pulang kampung.


Dina yang sejak tadi sudah merasa tubuhnya tidak baik-baik saja langsung tumbang terjatuh ke lantai.


"Sayang, Dina. Hei jangan menakutiku. Dina ... apa kamu mendengarku? please jangan bercanda." Joe benar-benar panik saat mendengar seperti benda jatuh dan sambungan terputus. Dia segera menghubungi pihak pengelola apartemen untuk membantu mengecek kondisi Dina.


Joe segera meninggalkan kapal pesiar itu dengan terburu-buru. Danzo langsung mengambil alih pekerjaan Joe.


"Huh, inilah alasanku lebih memilih jomblo. Sudah kerjaan numpuk masih harus mikirin perempuan. Pasti sangat melelahkan."


Danzo kembali sibuk dengan para petugas dan pekerja yang akan mempersiapkan pesta gala termewah yang akan di selenggarakan oleh Rian.


Joe memacu mobilnya dengan kencang tak peduli umpatan pengguna jalan lain, saat ini yang ada di pikirannya adalah cepat sampai apartemen.

__ADS_1


Saat di lampu merah ponsel Joe bergetar dia segera memasang headset dan menarik simbol berwarna hijau.


"Tuan, kami sudah masuk apartemen anda. Saat ini nona Dina sedang di bawa menuju rumah sakit Citra. Kami menemukan nona Dina pingsan di dekat ruang tamu."


"Baiklah terima kasih." Joe segera memutar haluan. Beruntung saat ini dia berada dekat di rumah sakit itu.


Saat Joe sedang parkir, mobilnya dilewati ambulans dan Joe yakin jika itu adalah istrinya. Joe segera turun dan membuka pintu.


Dia menunggu di samping ambulans dan benar saja dugaannya. Dina di bawa dengan brankar dengan selang infus sudah menancap di punggung tangan kirinya.


"Bagaimana kondisinya?"


"Apa hubungan anda dengan pasien ini?"


"Dia istri saya. Tadi saya meminta petugas apartemen untuk membawanya ke rumah sakit karena saya masih di jalan."


"Tekanan darah pasien rendah." Jawab perawat itu singkat lalu mendorong brankar Dina masuk ke ruang IGD.


Joe menunggu di luar dengan cemas. Baru kali ini dia merasakan perasaan seperti ini. Dina benar-benar bisa membuat hatinya seperti naik roller coaster. Kadang Bahagia, kadang kesal, kadang gemas, dan kadang cemas.


Tak lama Joe dipersilahkan masuk. Seorang dokter wanita menyambutnya dengan senyum ramah.


"Perkenalkan saya dokter Gisel. Apa anda suami pasien?"


"Iya dokter."


"Baiklah. Begini tuan, saat ini tekanan darah istri anda 90/50. Apa tuan juga tahu jika saat ini istri anda sedang mengandung? beruntung saat terjatuh tidak terjadi benturan keras di perut sehingga kondisi janinnya baik-baik saja."


"Ha... mil dok?"


"Iya tuan, menurut dari hasil USG usia kandungannya memasuki 5 minggu."


Joe menatap Dina yang masih terbaring lemah. "Lalu apa dia perlu dirawat?"


"Sepertinya tidak perlu, karena kondisi janinnya baik-baik saja. Hanya perlu banyak istirahat dan pastikan tidak terlalu banyak pikiran. Karena jika ibunya stress bisa mempengaruhi kondisi janinnya.


"Terima kasih dokter."


"Sama-sama tuan, sudah jadi tugas saya. Nanti tunggu istrinya siuman baru boleh dibawa pulang."


Joe mengangguk, setelah dokter itu pergi, Joe duduk di kursi samping brankar Dina.


"Sayang, bangunlah. Apa kamu dengar kata dokter tadi? kamu sekarang sedang hamil." Joe berulangkali mengusap perut rata Dina.


"Jangan membuat bundamu susah ya, sayang!"


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Like komen dan giftnya jangan lupa ya


__ADS_2