Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 80 Mendapat Balasan


__ADS_3

*********


Setelah mengadakan diskusi dengan kedua keluarga. Rian segera masuk ke ruang kerjanya dan menghubungi Joe. Dering pertama hingga dering berakhir Joe tidak mengangkat teleponnya, hingga akhirnya Rian mencoba berkali-kali dan akhirnya tersambung.


"Ya tuan .... " Jawab Joe malas, ini masih malam bulan madunya tapi sang bos sepertinya tidak terlalu peduli akan nasib batang pohon kehidupannya.


"Kenapa lama sekali?" hardik Rian.


"Tuan, ini malam kedua setelah saya menikah. Jadi wajah saja."


"Aku tidak mau tahu Joe. Sekarang jawab aku! Apa kau tau jika istriku memiliki banyak teman pria?"


"Tentu saja tuan."


"Kenapa tidak kau katakan padaku Jonathan?"


"Tuan tidak bertanya, tuan hanya memerintahkan saya untuk mencari info mengenai nona Veli karena tuan ingin mempermalukan nona Velia. Jadi mengenai hal-hal yang tidak berhubungan maka saya tidak sampaikan."


"Gara-gara kamu Joe, aku jadi terlihat bodoh di depan mertuaku, orang tuaku dan putriku."


"Maaf tuan, tapi saya tidak tau apa masalah tuan." Suara Joe terdengar memelas.


"Karena aku terkejut saat mertuaku bilang jika teman Veli rata-rata semua pria dan hanya Dina sahabat perempuannya."


"Tuan, hoby istri anda saja sudah tidak lazim untuk ukuran perempuan." sahut Joe jengah. Ini seharusnya menjadi malam nikmat kedua tapi tuannya telah mengacaukan semuanya.


"Joe kau mendengus padaku?" Suara Rian meninggi saat mendengar helaan nafas Joe.


"Saya tidak berani tuan. Nona Veli memiliki hoby wall climbing dan segala kegiatan pecinta alam. Nona juga pernah ikut balap motor dan pernah beberapa kali terciduk aparat kepolisian. Intinya istri anda itu seorang trouble maker, " tutur Joe panjang lebar.


"Kau mengatai istriku?"


"Saya hanya menyampaikan fakta yang ada tuan. Agar anda tidak lagi memarahi saya lagi."

__ADS_1


"Tetap saja kamu yang salah."


Rian langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia masih saja merasa kesal mengingat pergaulan Velia dulu.


Di dalam kamar Velia yang tidak bisa tidur akhirnya memilih keluar. Namun suasana di ruang keluarga sudah sepi. Velia akhirnya berjalan ke taman belakang. Dia duduk di sebuah kursi gantung malas sembari menatap kerlip bintang. Semakin lama matanya semakin terasa berat dan akhirnya Velia tertidur di sana.


Rian yang merasa frustasi akhirnya memilih masuk ke dalam kamarnya. Rian terkejut karena tak mendapati Veli ada di atas ranjang.


Rian bergegas membuka semua pintu yang ada untuk mencari keberadaan Veli tetapi istrinya tak kunjung ditemukan. Rian langsung panik dan berteriak hingga kepala pelayan dan beberapa pengawal berhamburan berkumpul di ruang tengah.


"Apa kalian melihat istriku?"


Semua yang ada di ruang tengah saling melempar tatapan. Namun ada salah satu pelayan yang maju dengan tubuh gemetaran.


"Sa... saya melihat nyonya muda tuan" ujarnya.


"Dimana?"


"Nyonya ada di taman belakang. Tadi saat saya akan membuang sampah saya melihatnya berjalan menuju kesana."


Sungguh dia tadi mengira Veli akan kabur lagi seperti beberapa waktu lalu. Saat melihat wajah terlelap Velia, Rian berjongkok di depan kursi gantung itu dan membelai wajah Velia dengan lembut.


"Baby, kenapa tidur di sini?"


Velia perlahan membuka matanya, raut cemas Rian masih tergambar jelas di wajahnya.


"Ada apa honey?"


"Aku mencarimu di kamar, dan aku tidak menemukanmu. Jangan pergi-pergi lagi baby. Kau membuatku cemas," Lirih Rian.


Velia mengulurkan tangannya dan Rian menyambutnya. Velia berdiri dan tak lama tubuhnya melayang karena Rian langsung mengangkatnya ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam mansion nya yang begitu luas.


.

__ADS_1


.


.


Sang waktu terus beranjak meninggalkan hari kemarin dan menanjak menuju hari esok. Masa cuti Joe pun telah usai, saatnya dirinya kembali mengabdikan dirinya lagi pada Rian. Pria arogan yang kini menjadi suami posesif dan bucin akut.


Rian datang dengan wajah kesal, karena pagi ini Velia kembali berulah. Dia tiba-tiba tidak ingin berdekatan dengan Rian karena alasan bau. Bahkan Rian sampai rela mandi berkali-kali tapi Veli tetap saja tidak mau didekati olehnya.


"Danzo, apa benar wanita hamil itu selalu aneh-aneh?" tanya Rian penasaran.


"Saya rasa memang seperti itu tuan. Kakak saya dulu juga bersikap aneh saat mengandung."


"Aneh yang seperti apa?"


"Ehm ... kakak saya suka mengusap usap kepala security komplek yang botak hampir setiap hari. Bahkan suaminya sampai harus menahan kesal dan malu. Lalu pernah suatu malam dia mendandani kakak ipar saya dengan memakaikan lingerie dan bahkan wajah kakak ipar saya dimake up layaknya ban*ci."


"Aku harap Veli tidak seperti kakakmu."


Tak lama Joe masuk dan melapor bahwa dirinya siap kembali bekerja. Rian tersenyum smirk, ia lantas meminta Danzo mengambil semua berkas kemarin Rian kerjakan.


"Saatnya balas dendam" batin Rian.


Danzo membawa setumpuk berkas hingga menutupi wajahnya dan Joe terbengong menatap tumpukan berkas itu.


"Tuan, apakah tuan tidak ikhlas memberi saya cuti?" wajah Joe terlihat memelas dan Rian sangat menyukai wajah menderita asistennya itu.


"Aku ikhlas Joe, kau lihat pekerjaan minggu ini memang banyak. Aku mendapat beberapa tawaran kerja sama dan aku tidak kuasa untuk menolaknya."


"Baiklah tuan, jika begitu saya undur diri dulu." Joe membungkuk sekilas lalu pergi menyusul Danzo.


"Tuanmu itu benar-benar kejam," gerutu Joe pada Danzo. Namun pria yang terkenal kaku dan dingin itu tertawa mendengar ucapan rekannya itu.


"Dia sama sekali tak pernah menyentuh pekerjaannya. Kau tau? nyonya Veli beberapa hari ini berulah" tutur Danzo.

__ADS_1


"Syukurlah, setidaknya dia mendapat balasan."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2