Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 57. Menikahlah Denganku


__ADS_3

************


Joe pulang dengan wajah lesu. Rasanya lelah sekali tubuhnya karena Rian selalu membawa serta Danzo partner kerjanya. Alhasil dia lah yang menjadi tumbal untuk mengerjakan semua pekerjaan di kantor.


Saat Joe membuka pintu apartemennya tercium wangi aroma masakan. Ia merasa seperti memiliki seorang istri di apartemennya.


Mendengar pintu dibuka, Dina langsung mematikan kompor dan bergegas menyambut kekasih barunya. Entah mengapa tak ada lagi sisa kesedihan di hati Dina. Yang ada hanya perasaan berbunga yang terlihat dari binar mata Dina.


"Kau sudah pulang?" Dina tersenyum pada Joe hingga membuat kerja jantung Joe semakin tak menentu. Namun tak urung Joe mengangguk.


Dina mengambil tas kerja Joe dan membantu Joe melepas jasnya. "Kamu pasti lelah kan, aku buatkan minuman hangat dulu untukmu." Tanpa menunggu jawaban dari Joe, Dina bergegas menuju dapur. Joe melirik ke kiri dan kanan. Suasana apartemennya sepi seakan hanya ada Dina dan dirinya saja.


"Dimana Bi Sulis?" tanya Joe begitu Dina kembali membawa secangkir teh hijau untuk Joe.


"Bi Sulis pulang kampung sore tadi katanya emaknya sakit." Dina meletakkan cangkir itu di depan Joe lalu mendudukkan tubuhnya di samping Joe.


"Kenapa kau tidak mengabari aku tadi? berati sejak sore tadi kau sendirian?"


Dina mengangguk dan tersenyum manis. "Kamu jangan bberlebihan begitu, disini aku akan aman Joe."


"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk padamu Din ... " Joe membelai kepala Dina, Dina menyandarkan tubuhnya di dalam pelukan Joe.

__ADS_1


"Minumlah dulu selagi hangat. Aku akan siapkan air untuk kamu mandi. Setelah itu kita makan, aku sudah memasak berbagai makanan kesukaanmu." Ucap Dina seraya berdiri. Namun Joe berhasil menarik tangan Dina, hingga tubuh gadis itu kini berada di pangkuan Joe.


"Akh Joe ... !!" pekik Dina.


"Kamu ini seperti kekasih rasa istri memperlakukanku begini. Apa dulu kau juga berlaku manis seperti ini pada mantan tunanganmu?" Joe menatap dalam manik mata Dina.


Dina menggigit bibirnya. Ragu untuk mengatakannya tapi dia juga tak ingin Joe salah paham.


"Sebenarnya aku baru kali ini bertindak seperti ini." Ujar Dina lalu menyembunyikan wajahnya di dada Joe. Entah mengapa seakan ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik perut Joe. Namun tak terbantahkan lagi jika Joe merasa menjadi lelaki yang beruntung memiliki Dina.


"Apa kau yakin? kau seperti sudah sangat terlatih?"


"Aku berani bersumpah Jonathan ... Dulu saat aku berpacaran dengan Dion aku sering merasa was-was karena Dion itu pria dengan libido tinggi. Aku sering menghindari bersama dia dalam jangka waktu lama karena aku tidak ingin dia melewati batas yang sudah aku tentukan. Tapi kamu bisa lihat hasilnya dia menghianati ku. Pria busuk itu tidak pernah menghargai prinsipku." Wajah Dina tampak sendu.


"Kekasih sehariku, menikahlah denganku .... " ucap Joe tanpa ragu. Dina mematung dan berkedip berulang ulang. "Apa ini mimpi, jika iya maka aku tak ingin bangun dari mimpi indahnya." batin Dina.


"A-apa kau sedang melamarku Joe?" Joe mengangguk.


"Aku bukan pria romantis. Tapi aku bisa menjanjikan kebahagiaan untukmu. Tapi aku tidak akan memaksamu menjawab sekarang. Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir.


"Yes, i do ... " Jawab Dina cepat.

__ADS_1


"Apa kau serius?" tanya Joe memastikan. Dina mengangguk dengan wajah memerah karena malu.


.


.


.


Sementara itu Velia dan Rian sedang menikmati sore mereka dengan berjalan-jalan di kota tua. Entah mengapa Veli sangar bersemangat sekali. Mungkin bawaan jabang bayinya.


"Bisakah kita beli itu honey?" tanya Velia melihat penjual kerak telor. Namun wajah Rian berubah aneh saat melihat stand penjualnya yang tampak tidak higienis.


"Tidak, di sana tidak bersih. Nanti perutmu sakit." Ucap Rian, ia tidak bisa sembarangan memberi makan Velia karena saat ini di rahim gadis itu tumbuh benih berharganya.


Velia tertunduk lesu, binar di wajahnya meredup. Seakan mendung yang bergelayut dan siap menurunkan hujan. Seperti itulah gambaran mata Velia saat ini.


Rian yang melihat perubahan dari raut wajah Velia pun merasa gamang antara menuruti keinginan istrinya atau tidak. Tapi Rian juga tidak sanggup melihat wajah muram Velia.


"Oh **** ... dasar bucin." Gerutu Rian dalam hati karena pada akhirnya dia memilih menggandeng jemari Velia dan menuntun gadis itu menghampiri penjual kerak telor yang mangkal di sana.


Velia tersenyum senang, Dia bahkan mengecup pipi Rian sekilas. "Terimakasih suamiku .... "

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Birukan jempolnya, komen juga jangan lupa biar othor tau kalau kalian itu nyata bukan hanya bayangan 🤩🤩


__ADS_2