
*******
Begitu memasuki kamar Rian segera masuk ke kamar mandi. Dia tak ingin mendekati Velia sebelum tubuhnya bersih dari Virus dan bakteri yang terbawa dari luar. Setelah membersihkan dirinya, Rian memakai setelan piyama dan duduk di tepi ranjang. Ia melihat Velia tidur meringkuk seperti kucing. Karena tak ingin mengganggu waktu istirahat istrinya, Rian tidak berani menyentuh istrinya.
Dia hanya memandangi wajah cantik Velia yang tidur dengan lelapnya. Namun karena indra penciuman ibu hamil meningkat pesat Velia dapat mencium aroma segar yang menguar dari tubuh Rian. Perlahan ia membuka matanya. Velia menggosok matanya sejenak lalu menatap sang suami.
"Kamu sudah pulang? maaf aku ketiduran." Ucap Velia seraya berusaha bangun dari posisi tidurnya. Rian membantunya dan membetulkan letak bantal sang istri agar Velia bisa bersandar dengan nyaman.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Velia, Rian tersenyum dan mengangguk. Sudah baby, tadi saat aku perjalanan pulang aku makan dulu. Sekarang ayo kembali tidur. Kamu tidak boleh terlalu lelah."
"Tapi aku mau pipis dulu," Ujar Velia, ia bergerak untuk turun dari ranjang. Namun tubuhnya dengan cepat disambar Rian. Ia menggendong Velia ke kamar mandi.
"Jangan begini ... ish." protes Velia seraya menepuk bahu Rian pelan.
"Kamu tidak boleh terlalu lelah sayangku. Kamu harus menjaga tubuhmu dan anak kita." Rian mendudukkan Velia di atas closed. Velia menatap tajam pada suaminya karena pria itu malah berdiri di sana dan tak kunjung keluar.
"Honey, aku mau pipis. Kamu jangan di sini."
"Ya sudah, pipis saja. Ga usah banyak alasan. Aku tidak akan meninggalkanmu jadi lekaslah." Velia langsung merotasikan matanya malas. Sejak kapan suaminya jadi overprotective seperti ini.
"Aku ini hamil bukan penyakitan." gumam Velia ketus, Rian hanya menyeringai mendengar protes istrinya.
.
.
.
__ADS_1
Joe langsung kembali ke apartemen karena dia mengkhawatirkan Dina yang sedang sendirian tanpa mengingat jika lengannya sedang terluka. Meskipun lukanya tak terlalu serius tapi darahnya masih tetap merembes dari lengan baju Joe.
Joe menekan kode pin akses masuk ke apartemennya begitu ia keluar dari lift. Dina yang sedang menunggu Joe seraya menonton TV langsung menoleh dan memasang senyum terbaiknya. Namun senyuman itu hanya bertahan beberapa detik saja karena setelah itu Dina memekik sambil menarik lengan Joe yang terluka. Pria itu hanya meringis menahan nyeri. Ia lupa jika dirinya terluka.
"Kenapa bisa terluka seperti ini Joe?" Dina berbicara seraya menundukkan kepalanya, tanpa ragu dia menarik kemeja Joe dan mulai melepas satu per satu kancing kemeja pria itu. Namun Dina lebih memilih menunduk dengan bahu yang bergetsr
Joe mendengar suara Dina yang parau, ia mengeryit heran. Ia tak kuasa menahan rasa penasarannya Joe akhirnya mengangkat wajah Dina dan benar saja dugaannya. Wanita itu sedang menangis tertahan.
"Maaf ... " Kata Joe seraya mengusap air mata Dina dengan ibu jarinya.
"Kenapa bisa terluka? apa tadi kamu berkelahi ?" Dina melihat luka Joe. Tidak terlalu dalam tapi cukup panjang.
"Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja."
"Tidak perlu, ini benar-benar tidak apa-apa. Aku tidak berkelahi. Tapi aku juga tidak tahu kenapa bisa ada luka di lenganku.
"Sudah, jangan cemberut terus. Nanti cantiknya hilang." Goda Joe seraya mencubit dagu Dina yang lancip. Dina bangkit berdiri dia akan mengambil kotak obat untuk mengobati lengan Joe.
"Dimana kotak obatmu?" Dina bertanya dengan wajah datarnya. Joe menunjuk ke bufet di atas televisi. Dina pun segera menaruh baskom dan handuk kecil lalu mengambil kotak obat. Gadis itu menjadi pendiam hanya fokus menatap luka Joe. m. Dia dengan hati-hati sekali membersihkan luka Joe. Bahkan Dina meringis saat membasuh lengan Joe dengan air yang di campur cairan antiseptik. Dina segera mengoles salep dan membalut luka Joe dengan perban.
Setelah selesai Dina berniat beranjak dari di sisi Jonathan. Tapi kini giliran Joe yang mencekal tangan Dina.
"Maaf, jangan diamkan aku seperti ini." Lirih Joe.
"Aku menunggumu Joe, aku berharap kau segera pulang dalam keadaan baik-baik saja. Bukannya seperti ini. Kamu bahkan tidak menjawab pertanyaanku tadi. Apa kau tau betapa khawatir nya aku?" Dina terisak saat menyuarakan suasana hatinya saat ini. Joe bangkit berdiri dan memeluk Dina dengan sebelah tangan.
"Maaf, lain kali aku tidak akan membuatmu khawatir lagi." Kata Joe dia menarik dagu Dina agar mendongak ke atas dan dengan cepat Joe melu*mat bibir Dina. Dina secara reflek mengalungkan tangannya ke leher Joe. Mereka terus bertukar saliva, bibir Joe turun menyusuri leher jenjang Dina. Beberapa kissmark Joe sematkan di leher sang kekasih, hingga tiba-tiba terdengar bunyi bel yang di tekan berulangkali. Benar-benar merusak suasana saja. Apalagi ini sudah terlalu larut untuk seseorang bertamu bukan?
__ADS_1
.
.
.
Joe mendengus kesal. Dia mengusap bibir Dina yang sedikit bengkak lalu berjalan kearah pintu. Dia mengintip dari balik lubang pintu.
"Tante ... " Desis Joe. Namun mau tak mau Joe membukakan pintu untuk adik ibunya itu. Sementara Dina langsung memberesi semua peralatan yang ada di atas meja dengan perasaan yang berdebar, bagaimana tidak? ini sudah tengah malam dan dia ada di apartemen Joe? apa yang akan dipikirkan tante Sofia nanti.
"Panik engga? panik engga? Ya panik lah masa engga ... " Batin Dina, mau sembunyi pun juga percuma saja. Dengan senyum kaku Dina menyambut tante Sofia.
"Lho kalian tinggal berdua?" Tante Sofia menatap penuh selidik ke arah Dina dan Joe bergantian dan sialnya mata jeli tante Sofia menangkap tanda merah di leher Dina dan di dada Joe yang terpampang tanpa busana. Hanya perban yang tampak menempel di lengannya. Alis tante Sofia langsung melengkung tinggi melihat kedua insan itu seperti baru saja melakukan sesuatu yang bukan-bukan.
.
.
.
Sementara itu Jeremy yang mulai tersadar menatap ruangan tempatnya berada dengan tatapan mata kesal. Sepertinya dia salah menyanggupi keinginan David. Jeremy melihat kelima anak buahnya juga kondisinya begitu mengenaskan dengan luka lebam di sekujur tubuh dan wajah mereka.
Jeremy merasa hidupnya tak akan lama lagi. Berurusan dengan Joe sama saja cari mati. Dia tiba-tiba tertawa sumbang menertawakan nasibnya. Niat hati ingin mencari jalan kesuksesan tapi justru dia berakhir di balik jeruji besi namun bukan penjara. Di saat seperti itu Jeremy teringat putranya Morgan. Bocah berusia 7 tahun yang begitu tampan namun memiliki jiwa yang keras seperti dirinya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Happy reading All ....
__ADS_1