Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 47. Tidurlah


__ADS_3

********


"Sial kenapa Velia tidak mengangkat panggilanku? Aku yakin dia masih mencintaiku." Gumam David. Ia sudah keluar dari rumah sakit dan kini sedang bersembunyi di apartemennya. Saat ini dia ingin menjauh dari Stevi dan kembali pada Velia.


"Semoga saja masih ada kesempatan." batin David.


.


.


.


Anak buah Rian berhasil menemukan keberadaan Velia dengan melacak lewat GPS di motor Rian. Tentu saja Rian tidak berpikir sampai kesana sangking kalutnya.


Rian bergegas meminta anak buahnya untuk segera bergerak cepat. Rian saat ini dalam perjalanan menuju penginapan.


Sesampainya disana Rian disambut ketiga anak buahnya. Mereka menunduk hormat pada pria itu. Rian berjalan langsung menuju resepsionis. Dan menanyakan kamar Velia, Setelah beralasan jika istrinya menghubungi dirinya karena sedang tidak enak badan akhirnya Rian mendapat kunci duplikat penginapan itu.


Sementara itu Velia yang tertidur karena kelelahan tak sadar jika suaminya sudah menyusup masuk. Rian memperhatikan wajah Velia yang sedikit pucat. Dengan hati-hati Rian mengangkat tubuh Velia ala bridal style.


Velia yang terlalu lelah dan lemas tak menyadari tubuhnya telah berpindah tempat. Ia memerintahkan anak buahnya membawa motornya sedang jaket dan tas Velia dibawa oleh supir Rian.


"Velia menyusupkan wajahnya di belahan dada Rian yang bidang. Velia merasa ini seperti mimpi, ia menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang ia rindukan. Sudut bibir Rian terangkat melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan itu.


Rian mengambil ponselnya dan menghubungi Alif dan juga Yusuf. Dia melakukan panggilan grup agar bisa berbicara dengan keduanya langsung.


"Kalian masih mau bekerja denganku tidak?"


"Tentu saja mau tuan .. " Jawab Alif dan Yusuf serentak.


"Malam ini berangkatlah ke Jakarta, atau besok pagi terserah. Yang penting siang aku sudah harus melihat wajah kalian di rumahku. Aku akan kirim alamatnya. Ada pekerjaan penting menanti kalian." Ujar Rian, ia langsung mematikan sambungannya saat Velia bergerak gelisah mungkin terganggu dengan suaranya tadi.

__ADS_1


.


.


.


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam lamanya Rian tiba di mansionnya, semua pela yang menyambutnya dan menunduk takut saat wajah Rian terlihat datar tanpa ekspresi.


"Ini peringatan untuk kalian semua. Jangan sampai lengah lagi. Kalian harus menjaga baik-baik istriku jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi."


Rian segera membawa Velia ke kamar. Setelah meletakkan istrinya, Rian membersihkan diri di kamar mandi.


Velia membuka matanya saat Rian keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk sebatas pinggang.


"Kenapa aku disini?" tanya Velia.


"Kenapa? ya karena ini kamar kita sayang." Desis Rian seraya menarik sudut bibirnya, Velia menatap kesal ke arah Rian.


"Tapi aku sedang kesal padamu." Protes Veli, Rian tidak menggubris ucapan Velia, ia mengangkat dagu istrinya dengan lembut.


Velia mendengus namun tak urung dia mengangguk. Rian tersenyum lalu memagut bibir Velia dengan lembut. Tangan Velia langsung melingkar di leher Rian, semburat merah menghiasi wajah Velia saat ini. Ia mulai merasakan suhu tubuhnya meningkat seiring hasratnya yang mulai naik ke permukaan. Velia naik ke atas pangkuan Rian tanpa melepas ciuman mereka. Jemari Veli perlahan turun menarik simpul handuk Rian, Veli menyentuh junior Rian yang sudah tegak berdiri.


"Uuhmm baby .. " Lenguh Veli saat bibir Rian terus turun dan bermain di area leher jenjang Veli.


Velia berdiri dan menurunkan segitiga pengamannya ia lantas menuntun junior memasuki lembah kenikmatan miliknya. Keduanya mulai melakukan kegiatan panasnya.


*


*


*

__ADS_1


Sementara itu Dina sahabat Veli sudah diijinkan pulang, namun ia bingung karena Joe tidak membawanya ke rumahnya melainkan sebuah apartemen mewah miliknya.


"Kenapa kita kesini? Aku mau pulang." Ujar Dina, di sampingnya bik Sulis duduk dengan tenang karena sebelumnya Joe sudah memberitahunya jika sementara Dina dan dirinya akan tinggal di apartemennya. Demi menghindari tekanan dari papa Dina.


"Apa kau sanggup menghadapi 3 manusia itu? karena sejak kemarin papamu berulangkali datang, beruntung orang-orang ku bisa menghalaunya."


Wajah Dina memucat, tampak sekali dia masih sangat trauma.


"Bik bagaimana ini? apa aku harus benar-benar meninggalkan rumah itu? itu satu-satunya tempat kenangan ku bersama mama." Air mata Dina kembali mengalir, dan entah kenapa Joe sangat tidak suka melihat Dina menangis.


Joe menarik gadis itu kedalam pelukannya dan berusaha menenangkannya.


"Tenanglah, selama ada aku kau akan baik-baik saja."


Joe membawa Dina ke dalam kamarnya, ia membaringkan tubuh Dina yang masih lemah di atas kasur king size miliknya.


"Tidurlah .. kau perlu banyak istirahat." Ujar Joe, ia beranjak dari kasur dan hendak keluar. Dina menahan tangan Joe.


"Bisakah kau disini saja menemaniku?" Tanya Dina dengan tatapan mengiba. Joe akhirnya mendesah dan kembali duduk di samping Dina.


"Kenapa kau baik padaku Joe?"


"Karena kata ibuku sesama manusia harus saling tolong menolong." Jawab Joe asal.


"Apa ibumu dulu seorang Guru Joe?" Tanya Dina, Joe menggeleng.


"Tidak .. "


"Tapi apa yang ibumu bilang sama dengan apa yang dikatakan guruku." Ujar Dina, Joe menyentil kening Dina.


"Auww .. kenapa kau kasar sekali. Ini sangat sakit." Keluh Dina seraya mengusap dahinya. Melihat gadis itu merintih kesakitan, Joe menahan dagu Dina dan melihat kening gadis itu telah memerah.

__ADS_1


"Maaf ya .. " Ujar Joe menyesal. Dina masih terpaku menatap wajah tampan Joe dari dekat. Ada desiran halus yang mengusik jiwa Dina saat ini. Rasanya melihat bibir Joe yang seksi ingin sekali Dina melu_matnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2