
********
Pagi ini Velia sudah bersiap untuk kembali menemui dosennya yaitu pak Juna, karena hari ini design karyanya akan di pakai untuk iklan produk sebuah produk kecantikan ternama. Dina juga sudah bersiap Joe sedang menunggunya karena hari ini dirinya akan diantar oleh asisten Rian itu.
"Baby kenapa kau harus berdandan secantik ini?" bisik Rian bibirnya menempel ringan di cuping telinga Veli hingga gadis itu menggelinjang kegelian. Saat ini Velia memakai celana panjang jeans gelap dan kemeja putih dengan lengan sesiku juga blazer berwarna coklat susu. Rambut Velia diikat tinggi, ia bahkan memakai sepatu kets putih. Penampilannya tidak mencerminkan bahkan dia seorang pewaris dan juga istri seorang pengusaha melainkan seperti anak kuliahan yang baru akan memasuki semester baru.
"Aakh .. jangan memancing ku sayang. Atau kau ingin aku menerkammu seperti kemarin." Ujar Velia di tengah rasa yang semakin tak menentu. Tubuhnya serasa dialiri listrik hingga menegang menciptakan gelenyar dalam tubuh Velia.
"Jika itu maumu aku akan melayanimu sayang." Senyum licik tersungging di bibir Rian tapi Velia menggeleng. Ini hari penting baginya, ia tidak boleh terlambat.
"Aku harus berangkat sekarang. Aku pinjam motormu lagi ya." Pintar Velia menatap Rian dengan tatapan memohon yang menggemaskan, matanya yang jernih membuat Rian tak berdaya menolaknya.
"Tapi nanti Lukas dan Maher akan mengawalmu. Jadi berhati-hatilah." Kata Rian, Velia tersenyum senang. Ia langsung meraih wajah Rian dan mengecup bibir pria itu berulang-ulang, Rian tak melewatkan kesempatan itu ia langsung membalas kecupan itu menjadi luma*tan yang begitu menuntut balas. Mau tak mau kini tangan Velia melingkar di leher kokoh Rian dan membalas ciuman panas suaminya. Sesaat mereka mengurai ciumannya dengan wajah yang sama-sama memerah.
Velia tampak terengah-engah dan mengatur nafas Rian tersenyum seraya mengusap bibir Velia yang terlihat sedikit bengkak.
"Aku berangkat sayang .. " Velia berpisah dengan Rian di depan pintu, sebuah motor sport berwarna merah sudah siap, karena pengawal Velia sudah menyiapkannya. Velia menggulung rambutnya, menggendong ranselnya di belakang punggung ia memakai helm full face dan benar-benar tak terlihat sisi feminim nya namun hal itu justru membuat beberapa pengawal Rian pun menatap terpesona pada nona muda rumah itu.
"Hati-hati baby .. " Ujar Rian saat Velia mulai menyalakan mesin motor yang terdengar memekakkan telinga. Di belakang motor Velia, Lukas dan Maher yang bertugas mengawal Velia pun bersiap di atas motor.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan suaminya Velia segera melajukan motor sport itu dengan kecepatan tinggi, Rian menghela nafas gusar.
"Apa istriku titisan seorang pembalap?" Gumam Rian yang masih dapat di dengar oleh pak Rahmat kepala pelayan Mansion Rian.
.
.
.
Dua jam berlalu, klien pak Juna tampak puas dengan hasil kerja Velia dan Dina. Setelah menandatangi kesepakatan kerja ketiga orang itu keluar dari perusahaan kosmetik ternama itu.
"Aku setuju, bagaimana denganmu Veli?" tanya Pak Juna.
"Saya oke saja pak." Setibanya di parkiran pak Juna dibuat ternganga dengan tunggangan Velia, di tambah dia diikuti oleh 2 orang bodyguard dengan tunggangan yang sama hanya beda warna.
"Mereka bertiga naik kendaraan masing-masing, Velia tiba lebih dulu. Di saat bersamaan David yang sudah ada di kafe itu terkejut melihat Velia. Gadis itu datang memakai motor sport. Hati David senang tak terkira. Saat Velia membuka pintu kafe tangannya langsung di tarik oleh David. Lukas dan Maher bersiaga langsung.
Velia menatap tajam wajah David. Pria itu membalasnya dengan tatapan lembut. Jika dulu Velia begitu menyukai tatapan mata David sekarang tidak lagi. Ia menepis genggaman tangan David.
__ADS_1
"Lepas .. " Pekik Velia.
"Baby dengar, aku mau bicara sama kamu. Kamu selama ini salah paham. Aku dan Stevi .. "
"Cukup .. " Potong Velia. ---- "Aku tidak peduli dengan hubunganmu dan Stevi. Dan aku tegaskan lagi mulai saat ini kau bukan siapa-siapa ku lagi."
"Tapi baby aku masih sangat mencintaimu."
"Hei David gila .. " Teriak Dina membuat pelanggan kafe semua menoleh kearah nya. Lukas dan Maher terkejut melihat kemarahan Dina.
Dina berjalan mendekat dan menarik tangan Velia. Namun David masih menahannya. Akhirnya Lukas dan Maher menghadang David dan Maher mencekal tangan David erat seakan Maher mampu menghancurkan tulang-tulang David saat itu juga.
"Jangan macam-macam dengan nona kami."
"Sudah tinggalkan dia, tidak perlu mengurusi orang sepertinya." Tegas Velia. David terhenyak, ucapan Velia seakan bagai belati tajam yang langsung menghujam jantungnya.
"*Apa kau begitu kecewa mengetahui Stevi hamil anakku baby?" Batin David
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹*
__ADS_1