Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 72. Sudah Jauh Lebih Baik


__ADS_3

********


Esok harinya seperti biasa Dian menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Urusan seperti itu Dian lebih suka mengurusnya sendiri. Padahal Gerry sudah sering melarangnya, tapi wanita itu tetap ingin melakukan semuanya sendiri. Gerry hanya bisa mewanti-wanti pelayan yang lain untuk tetap siap siaga jika Dian membutuhkan sesuatu.


"Mama mau kemana? kenapa berpakaian rapi? tanya Zafa memeluk perut buncit Dian dan mengecupnya berulang-ulang. Dian sering merasa geli dengan kelakuan putra pertamanya itu.


"Mama mau jenguk maminya Zafrina. Zafa bisa bantu mama untuk menjaga adik-adik?" tanya Dian dan bocah itu mengangguk.


"Iya mama .... "


"Bagus, anak pintar." Puji Dian lalu mengecup kening Zafa. Zafrina datang paling akhir dengan wajah cemberut. Gerry terkekeh karena tahu apa yang membuat gadis kecilnya marah.


"Ga papa, ga papi semua sama saja. Kalo Ina mau tidur sama mama atau mami pasti habis itu papa atau papi pasti mindahin mama dan mami. Ina ga suka." Protes gadis kecil itu saat duduk di kursinya.


Dian hanya tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala mendengar ucapan putrinya yang terdengar seperti omelan.


"Papa hanya kasian dengan adik bayi yang ada di dalam perut mama. Karena Ina tidur kakinya sampai naik ke perut mama."


Gadis kecil itu mengernyit sedangkan Zayana dan Zayn hanya mengulum senyum saja mendengar penjelasan Gerry.


"Benar begitu ma?" tanya Zafrina menatap Dian, Dian hanya menjawab dengan tersenyum lembut dan mengusap kepala Zafrina.


Zafrina mengusap perut Dian dan bergumam "Maafkan aku ya adik."


Pada akhirnya tidak ada lagi hal-hal yang di ributkan oleh anak-anak mereka. Semuanya makan dengan nikmat.


.


.


.


"Aku bosan honey." Rengek Velia untuk kesekian kalinya.


"Bersabarlah, demi buah hati kita." Jawab Rian untuk yang kesekian kalinya juga. Dia pun sebenarnya lebih memilih Velia di rawat di rumah. Tapi Rian masih ragu karena Velia sering sekali berbuat di luar nalar, sehingga Rian khawatir jika di rumah justru Velia akan kabur kaburan lagi.


Pintu di ketuk dari luar, tampak dua pemuda tampan dan dan gagah berdiri membawa sekeranjang buah dan sebuket bunga.


"Kenapa kalian kemari?" tanya Rian menatap tajam dua pemuda itu. Alif dan Yusuf menggaruk pelipis mereka mendapat pertanyaan itu dari big bosnya.

__ADS_1


Alif tersenyum lebar, hingga menampakkan deretan giginya yang putih. "Kami sudah ijin pada tuan Danzo, dan lagipula pekerjaan kami sebenarnya telah selesai.


"Alasan diterima, dan masuklah. Hibur istriku agar dia tidak meminta dipulangkan lagi." Ujar Rian seraya menggerakkan jarinya. Memberi isyarat 2 pemuda itu untuk masuk.


"Vel .... " panggil Yusuf


"Ucup, Alis .... !!" seru Velia wajahnya tak lagi mendung kini ia tampak bersemangat setelah melihat dua sahabatnya.


"Yusuf Vel bukan Ucup." Ralat Yusuf.


"Iya nih, nama bagus-bagus Alif diganti Alis." sahut Alif tak terima.


"Unchh ... kalian kalo ngambek lucu banget sih."


"Baby jaga sikapmu, atau mereka aku tendang keluar." Tegur Rian yang merasa panas hatinya melihat istrinya begitu semangat dengan pria lain.


"Hissh ... kamu juga bakalan aku tendang setelah itu." Ketus Velia.


Rian hanya melengos kesal mendengar ancaman istrinya. Bisa-bisa jika terus diladeni akan turun wibawa dia di hadapan duo racun itu.


Tak lama pintu kembali diketuk, Rian kembali membukakan pintu, dan ternyata itu adalah Dian, Gerry dan Zafrina.


Zafrina langsung nyelonong masuk saat mendengar suara Alif dan Yusuf.


"Om ganteng ...." Zafrina memeluk Alif lalu kemudian Yusuf.


"Ina ... wah kamu makin cantik saja." Ucap Alif, tak lama pria muda itu melirik Dian, Wanita itu tersenyum lembut dan membungkukkan badannya sedikit menyapa dua pria muda itu. Mereka langsung bergeser memberi ruang pada Dian untuk bertemu dengan Velia.


"Apa kabarmu Veli? aku turut sedih mendengar kabar ini." Ucap Dian menyalami Velia.


"Aku sudah jauh lebih baik. Tapi dokter masih menyarankan untuk bedrest. Padahal aku sudah sangat bosan."


Dian hanya bisa menanggapi ucapan Velia dengan senyum.


Velia menatap perut Dian, "Boleh aku mengusapnya?" tanya Velia.


"Tentu saja boleh." Jawab Dian, Velia segera meletakkan tangannya di perut Dian, dan tak lama perut Dian berdenyut seakan bayinya memberi respon dengan sentuhan Velia.


"Wow dia bergerak .... " Wajah Velia tampak sangat senang. Rian hanya tersenyum melihat istrinya sudah kembali seperti semula. Dia pikir Velia akan berlarut-larut mengalami trauma. Tapi sepertinya dia sedikit overthinking mengenai istrinya.

__ADS_1


.


.


.


Stevie berteriak kesakitan. Kakinya seakan-akan mau lepas. Ken hanya sesekali memberikan obat penghilang rasa sakit. Namun itu sama sekali tidak membuat Stevie sepenuhnya menghilang rasa sakitnya.


"A...aku ingin ke toilet."


Ken menghubungi Danzo karena dia takut salah mengambil tindakan. Pria itu mengijinkan namun dengan syarat sebelum itu Ken harus menyingkirkan segala benda yang berpotensi sebagai alat untuk Stevie melakukan bunuh diri.


Ken dan Lukas membersihkan semua peralatan mandi bahkan kaca di wastafel pun ikut di keluarkan.


Ken membawa Stevie dengan cara memapahnya, dengan kaki terpincang-pincang Stevie menahan semua rasa sakit di tubuhnya.


Setelah mendudukkan Stevie di atas toilet, Ken keluar. Dengan tertatih Stevie menyalakan air di dalam bathtub. Otak Stevie sudah dipenuhi rencana bunuh diri. Dia tidak akan sanggup menjalani siksaan dari Rian. Di tambah lagi anak dalam kandungannya pun sudah meninggalkan dirinya. Stevie berpikir untuk apa hidup lebih lama lagi. Toh David juga menghilang tanpa jejak.


Stevie dengan perlahan menceburkan dirinya, matanya terpejam dan dia mulai menenggelamkan kepalanya.


Ken dan Lukas yang bertugas mengurus Stevie merasa tidak ada suara kegiatan apapun dari dalam. Lukas menatap Ken sekilas lalu buru-buru membuka pintu. Lukas terkejut mendapati Stevie tenggelam di bathtub. Ia langsung mengangkat tubuh Stevie dan membawanya kembali ke ruangannya.


"Si*alan ... dasar wanita menyusahkan." ucap Lukas kesal.


Lukas segera menghubungi Danzo sementara itu Ken melalukan CPR untuk menolong Stevie. Jujur saja dalam hatinya ia merasa iba melihat wanita itu. Sudah kehilangan anak harus merasakan lagi siksaan dari Rian. Namun dia bisa apa? mungkin jika dirinya ada di posisi Rian, mungkin dia juga tidak akan terima jika ada orang yang berniat mencelakai istrinya.


Rian yang mendapat laporan Danzo sangat marah. Tangannya terkepal dia benar-benar akan membuat perhitungan pada Stevie setelah ini.


"Ada apa?" tanya Gerry saat melihat raut wajah Rian yang membesi.


"Wanita sialan itu benar-benar ingin main-main denganku." Desis Rian.


Gerry hanya diam saja. Dirinya pun juga belum tahu bagaimana penampakan wanita itu jadi dia memilih tidak bersuara.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Selamat membaca guys.


Mampir yuk ke karya temen othor kak Gupita Judulnya ⬇️⬇️⬇️

__ADS_1



__ADS_2