
*********
Joe kembali ke apartemennya, dia sudah meminta Dina bersiap dan membawakan beberapa pakaian ganti. Hari ini Joe ingin membawa Dina menemui keluarganya di bogor.
Joe keluar dari lift namun tanpa sengaja dia bertabrakan dengan angel. Gadis itu limbung dan terduduk di lantai.
"Kenapa kau diam saja?" Ujar Angel saat melihat joe hanya menatapnya tanpa berniat membantu.
"Kau yang tidak berhati-hati nona." Ujar Joe ketus. Sesaat Angel terpana menatap wajah Joe, seakan-akan mengingat dimana pernah melihatnya.
"Apa kau akan di sana terus dan menghalangi jalanku nona?" Akhirnya mau tak mau Angel berdiri dengan tertatih. Dia mundur untuk membiarkan Joe lewat. Namun saat Joe akan melewatinya Angel menahan tangan Joe.
"Lepaskan tangan kotormu dari kekasihku Angela ... " Pekik seorang perempuan yang tak lain tak bukan adalah Dina. Mata Angel terbelalak, Joe menghempas pegangan tangan
"Sial, kenapa gadis ini terus saja beruntung mendapatkan pria. Kemarin Dion dan sekarang pria ini. Dan kenapa juga aku melupakan wajah tampannya. Padahal dia yang beberapa waktu lalu bersama Dina di mall." batin Angel menggerutu.
"Kenapa tidak segera masuk?" tanya Dina pada Joe dengan tatapan tajam.
Joe mendekati kekasihnya yang sedang terbakar cemburu itu. Dia meraih pinggang Dina dan mengecup pelipis Dina dalam.
"Jangan marah, cemburumu salah tempat sayang." Ujar Joe, Angel dapat mendengar suara Joe yang terdengar lebih lembut saat berbicara dengan Dina. Hatinya terasa panas entah mengapa sejak dulu angel membenci Dina dan Velia. Namun kebencian Angel pada Dina lebih besar dari pada Velia.
"Wah rupanya kau sudah mendapat tangkapan besar juga."
"Apa urusanmu mengusik hidupku? Sedikit saja kau kembali mengusik hidupku, akan ku hancurkan karirmu hingga tak bersisa. Aku memiliki video memalukan milikmu. Jadi jangan macam-macam denganku." Ucap Dina tegas lalu menarik tangan Joe meninggalkan Angel yang masih mematung di depan pintu lift.
Setelah menutup pintu, Joe masih saja di tarik Dina menuju kamar mandi.
"Sayang tahanlah dulu. Tunggu hingga kita sah." Ujar Joe dengan pikiran mesumnya.
"Buang pikiran mesummu itu. Sekarang bersihkan dirimu. Aku tidak mau kuman ja*lang itu melekat di tubuhmu." Desis Dina. Joe terkekeh melihat kemarahan Dina yang berapi-api.
"Oke baby, apa kau ingin mandi bersamaku?" goda Joe, Dina yang masih kesal pun terlintas ide untuk mengusili Joe.
"Apa kau yakin mau mandi denganku sayang?" tanya Dina, ia bergerak perlahan mendekati Joe. Dengan gerakan lembut Dina membuka kancing baju Joe, jemarinya yang lentik sengaja menyenggol permukaan kulit tubuh Joe. Joe terpejam merasakan sensasi geli dan tubuhnya seketika memanas.
"Sayang .... sshhh." Lenguhan lirih keluar dari bibir Joe, Dina bahkan membelai wajah Joe dengan gerakan sensual.
__ADS_1
"Apa kau menginginkanku sayang?" Bisik Dina dengan suara sedikit mendesah.
Joe yang masih memejamkan mata karena sentuhan-sentuhan di tubuhnya hanya mengangguk. Dina memandangi Joe dengan menggigit bibir bawahnya. Bisa dipastikan jika dia tidak segera pergi dari sana maka akan terjadi hal yang dia inginkan. (ups .. yang tidak dia inginkan).
Dina perlahan menjauh dengan langkah yang hampir tak terdengar. Lalu setelah mencapai pintu dia menutupnya dengan keras hingga terdengar suara dentuman.
Joe membuka matanya dan menggeram. "Dina ... "
.
.
.
Rian segera menuju markas King Devil bersama Danzo. Setelah mendapat informasi dari anak buahnya jika David sudah tertangkap. Rian sudah tidak sabar menunggu sebuah pertunjukan. Danzo sesekali melirik dari kaca spion tengah memastikan tuannya dalam suasana hati yang baik.
"Tuan, apa yang sebenarnya tuan rencanakan?" tanya Danzo, Rian sekilas menatap asisten cadangannya itu lalu tersenyum.
"Yang jelas aku akan membuat mereka menyesali apa yang sudah mereka lakukan. Apa kau pernah mendapat cerita jadi Joe jika istriku pernah di culik?"
"Iya tuan. Kata Joe, nona sampai mendapat perawatan." Ujar Danzo.
"David mencekoki istriku dengan chems*x (GHB). Kau bisa bayangkan bagaimana jika kondisi istriku saat itu sangat lemah? dia pasti sudah meregang nyawa karena obat itu." Ucap Rian dengan tangan mengepal kuat. Mengingat kejadian tempo lalu benar-benar seperti mengorek luka di hatinya. Melihat wanitanya tergeletak tak berdaya.
Mereka sampai di markas King Devil dan disambut oleh semua anggota mafioso nya. Rian seakan tak acuh dia terus melenggang masuk. Terdengar suara rintihan Jeremy dari balik pintu. Diego membukakan pintu untuk Rian, saat berada di dalam baik Rian maupun Danzo hanya menatap datar ke arah depan dimana Jeremy sedang merintih kesakitan karena sakau dan anak buah Rian tetap menyiksanya.
"Sayang sekali kondisinya seperti itu. Padahal aku ingin membuat permainan ini lebih menarik." Ujar Rian dengan wajah pura-pura kecewa. Namun lagi-lagi dia bersikap tak acuh dan pergi meninggalkan tempat itu tujuan utamanya adalah David.
Saat Rian masuk David sudah sadar. Suara David terdengar masih begitu bertenaga. Saat David melihat Rian dia seketika meneriaki Rian.
"Apa maumu?"
"Apa tujuanmu sebenarnya? mengapa kau berhubungan dengan Jeremy?"
"Bukan urusanmu, aku hanya akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." Desis David.
"Apa yang kau maksud itu istriku?" tanya Rian dengan tatapan tajam menghunus David.
__ADS_1
"Dia adalah kekasihku. Kau merebutnya dariku."
"Ha ... ha ... ha, jangan bercanda bung. Kau itu adalah anak yang tak tau diri. Keluarga istriku sudah berbaik hati memunggutmu tapi apa balasanmu? kau bahkan membuat mereka menanggung rasa kecewa dan malu." Rian terus memberi tatapan tajam.
"Apa salahku? aku mencintanya begitu juga Veli. Dia juga mencintaiku." Desis David namun tiba-tiba Rian mendekat.
Bugh ...!!
Satu pukulan mendarat telak di wajah David.
"Tutup mulut kotormu itu." Desis Rian. Namun tak lama ponsel Rian berdering dan saat melihat layar yang menampilkan nama istrinya Rian segera pergi dari ruangan itu.
"Halo honey ... "
"Kau dimana?" tanya Velia
"Aku sedang dalam perjalanan pulang." Kata Rian.
"Datanglah ke rumah papa. Aku mau menginap ke sana." Ucap Veli.
"Baiklah sayang, sesuai keinginanmu." Ucap Rian. Setelah berbasa-basi sebentar Rian menutup telepon nya. Danzo masih setia mengikuti Rian.
"Kita ke rumah mertuaku saja Danzo. Istriku ada di sana."
"Baik Tuan ... " Mereka pun akhirnya meninggalkan markas tanpa melakukan apapun pada tawanannya. Rian masih memikirkan cara yang tepat untuk mengeksekusi tawanannya itu.
"Danzo apa aku tau rasanya merindukan seseorang?"
"Tidak tuan ... " Jawab Danzo singkat.
"Rugi sekali hidupmu. Cobalah jatuh cinta agar kau tau rasanya merindu." Ujar Rian dengan penuh nada sindiran.
"Karena aku tidak mau menjadi gila seperti anda dan Joe tuan." Batin Danzo.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
like koment nya jangan lupa.
__ADS_1
Aku juga punya rekomendasi novel karya temanku neh karya Mely sianturi mampir ya