Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Extra part 2. Mami Jangan Nangis


__ADS_3

**********


Kelopak mata Velia bergerak resah saat di alam bawah sadarnya ia mendengar suara tangisan bayi. Namun rasanya matanya begitu berat untuk di buka.


"Ya Tuhan, ada apa denganku. Suara bayi siapa itu?" batin Velia. Tak lama ia merasakan ada mulut mungil yang menghisap PD nya. Velia juga bahkan mendengar suara seseorang berbicara pada suaminya. Velia benar-benar memaksa membuka matanya.


Rian yang saat itu masih fokus menatap putranya tak menyadari jika Velia sudah membuka matanya. Namun Zafrina yang ada di dekatnya langsung memekik hingga membuat Rian dan bayi tampan itu kaget dan menangis dengan kencang.


"Mami ...." Zafrina memekik lalu memeluk Velia dari samping. Rian langsung berpaling dari putranya dan menatap Velia.


Tangan Velia bergetar menyentuh bayi yang ada di atas dadanya. Air matanya tiba-tiba mengalir, menyadari bahwa bayinya telah terlahir. Velia merasa sangat bersalah.


"A-anakku .... " ujar Velia dengan suara bergetar.


"Iya sayang, ini anak kita." Rian mengusap air mata Velia sementara baby R di angkat oleh suster karena masih terus menangis.


"Be-berikan dia padaku." Tangan Velia berusaha menggapai bayi tampan yang memerah wajahnya karena terus menangis itu. Rian membantu Velia membetulkan posisi tidurnya agar rebahan lalu suster meletakkan baby R di pangkuan Velia.


Tangis Velia semakin kencang. "Maafin mami sayang, gara-gara mami kamu harus lahir lebih awal."


"Sshh ... jangan menangis sayang, kasihan baby kita juga ikut sedih. Lihatlah! dia sehat dan baik-baik saja."


"Inna juga sedih mami. Mami jangan nangis ya!" tutur Zafrina dengan air mata yang tak kalah derasnya. Velia jadi tersenyum melihat putrinya menangis.

__ADS_1


"Iya sayang, mami ga akan nangis lagi." Velia mengusap air matanya dengan sebelah tangannya. Perawat membantu Memposisikan baby R untuk menyusu. Dengan penuh kelembutan Velia mulai menyusui Raiden, bayi tampan itu tampak rakus menyesap ujung pu ting Velia. Velia sempat meringis nyeri saat posisi baby R yang bergerak semaunya mencari kenyamanannya sendiri. Lagi-lagi perawat itu dengan telaten dan sabar membetulkan posisi baby R.


"Awalnya pasti sedikit sakit, terlebih jika posisi menyu su salah. Kalo nanti pu ting lecet, nyonya bisa mengolesinya dengan Asi." tutur perawat itu. Setelah perawat meninggalkan ruangan itu, Santika dan Bianca ikut mendekat ke ranjang. Bianca menangis dan memeluk putri semata wayangnya. Berulang kali dia mengecup kepala putrinya dengan lembut.


"Sudah, lain kali kamu pasang KB atau steril saja. Mama ga mau lihat kamu seperti tadi. Mama takut, mama kira mama akan kehilangan kamu."


"Maafkan Velia ya ma, selama jadi anak mama Velia sering bikin mama marah sering bikin mama kecewa." Lirih Velia,


Velia kini benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Meskipun saat proses melahirkan dia dalam keadaan tidak sadar. Tapi saat dia terjatuh dan mengalami pendarahan bahkan ketika ia merasakan kontraksi hebat dia selalu mengingat sosok mamanya.


"Oma jangan nangis. nanti dedek Raiden-nya bangun." Ujar Zafrina menatap cemas takut jika adiknya terbangun karena tangisan oma-nya. Santika yang sedang turut terharu pun tak pelak justru terkekeh begitupun Bianca.


"Oh, cucu oma yang cantik. Maafkan oma sayang." Bianca mengusap air matanya lalu tersenyum. Selesai menyusu, Rian membawa baby R kembali ke box bayinya. Anggara dan Daniel masuk begitu menerima pesan dari Santika. Kedua pria itu mendekati brankar Velia. Anggara mengecup puncak kepala menantunya.


Daniel menatap putrinya dengan tatapan mata yang begitu teduh. Dia mengusap kepala putrinya dengan sayang.


"Selamat sayang, semoga putramu kelak menjadi anak yang cerdas, dan beradab. Kelak dia yang akan meneruskan perusahaan papa." ucap Daniel, namun Anggara langsung menyahut.


"Mana bisa seperti itu. Dia cucuku. Jadi dia yang akan meneruskan perusahaan Al Fares." Sanggah Anggara, tapi bukan Daniel namanya jika dia mengalah.


"Mana bisa seperti itu. Dia lahir dari rahim putriku."


"Tapi siapa yang membuahinya? kamu jangan lupa itu Daniel."

__ADS_1


"Dia hanya membuahi, tapi putriku yang hamil, dia yang ngidam, dia juga yang melahirkan." Suara Daniel tak kalah keras. Velia, Santika dan Bianca hanya bisa geleng-geleng kepala sementara Zafrina bersandar di dada sang papi. Ia merasa tidak di harapkan karena kedua kakeknya berebut ingin menguasai adiknya. Tak terasa bulir air matanya membasahi kemeja Rian. Pria itu tersentak dan menangkup wajah putrinya. Rian tahu saat ini pasti hati putrinya tersakiti dengan tingkah kedua pria paruh baya itu.


"Kalian tidak perlu ribut. Raiden masih bayi. Dia belum mengerti apa-apa tapi kalian sudah ribut dan menimbulkan kegaduhan ." Suara Rian yang terdengar tegas dan tak ingin dibantah membuat kedua pria paruh baya itu terdiam.


"Papi, Ina mau pulang ke rumah papa Gerry. Bisakah papi menghubunginya?" Zafrina berujar lirih. Velia bisa menangkap kesedihan dari wajah putrinya. Ia saling lirik dengan Rian. Seakan berbicara lewat tatapan mata. Rian menggendong Zafrina keluar tanpa berpamitan pada semua yang ada di ruangan itu kecuali Velia yang memang tahu apa yang di perlukan putri sambungnya saat ini.


Ketika berada di luar ruangan Velia Zafrina menyandarkan kepalanya di bahu Rian. Entah mengapa Rian jadi merasa sedih melihat putrinya yang semula bersemangat kini justru bersedih. Anak seusia Zafrina mungkin bisa merasakan jika percakapan tadi sama sekali tak melibatkan namanya. Itu artinya keberadaan tidak di anggap hingga akhirnya tanpa sadar ucapan mereka menyakiti hstinya.


Rian membawa putrinya ke taman di sekitar rumah sakit. Ia mendudukkan putrinya di sebuah bangku taman. Rian berlutut di depan Zafrina dan mengusap air mata gadis kecil itu.


"Ina kenapa menangis?" tanya Rian dengan lembut. Zafrina menggeleng dan tersenyum samar.


"Ina mau papa Gerry dan mama." lirih Zafrina dengan suara parau dan bergetar.


"Oh sayang, apa pembicaraan kedua kakekmu membuat kamu bersedih?" Zafrina kembali menggeleng. Kali ini air matanya kembali mengalir deras.


"Ina mau pulang papi. Ina mau papa Gerry. Ina mau mama." Tangis Zafrina semakin kencang. Semakin ditahan semakin ia merasa sakit karena tak dianggap oleh keluarga mami dan papinya.


Rian langsung mendekap putrinya. Hatinya berdenyut sakit melihat putrinya terluka seperti ini. "Jangan di ambil hati ya sayang. Papi akan marahi mereka nanti." Gadis yang masih terus terisak itu menggeleng.


"Ka-ta ma-ma kita harus so-pan sama yang tua. Papi ga boleh marahi mereka." Suara kecil yang biasanya terdengar riang itu bicara dengan terbata-bata karena terus terisak.


"Ina mau pulang .... "

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2