
*******
Joe menghubungi Rian dan meminta pria itu untuk menjadi saksi nikahnya. Pria itu bahkan tak ragu memohon pada Rian. Akhirnya Rian pun menyetujui keinginan asisten sekaligus sekertaris nya itu.
"Ada apa honey?" Velia mendekat saat Rian selesai menerima telepon.
"Joe dan Dina akan segera melangsungkan pernikahan mereka. Dia memintaku menjadi saksi di pernikahannya." Kata Rian seraya menarik tubuh Velia agar duduk di pahanya.
Velia melingkarkan tangannya di leher Rian, dia tampak berfikir keras.
"Ada apa sayang? apa kau tak ingin pergi ke sana?" tanya Rian. Velia menggeleng, namun tatapan matanya berubah sendu.
"Kenapa Dina tidak memberitahuku jika dia akan menikah dengan Joe?"
"Mungkin karena dia masih terlalu syok." Kata Rian.
"Apa kau mau ikut aku ke kantor?" tawar Rian. Velia pun mengangguk.
"Tapi hanya sampai siang saja. Setelah itu aku ingin kamu temani aku nonton." kata Velia merajuk.
"Hari ini ada seleksi karyawan baru sayang. Tapi aku akan usahakan secepatnya selesai."
"Baiklah, aku akan bersiap dulu." Ujar Velia.
"Berikan aku morning kiss dulu honey." Rian masih menahan pinggang Velia. Hingga wanita itu memberikan kecupan dalam di bibir Rian.
Setelah itu Velia bersiap untuk ikut ke kantor Rian. Masa kehamilannya membuat dia merasa sangat malas untuk melakukan apapun. Dia yang biasanya energik dan selalu bersemangat kini seakan kehilangan performanya.
"Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Rian sedikit cemas melihat Velia tak seperti biasanya.
"Entahlah, sepertinya aku kurang bersemangat. Tubuhku rasanya letih sekali."
"Maaf aku masih belum bisa menahan diri terhadapmu." Rian merasa bersalah pada Velia.
"Aku hanya perlu berada di dekatmu sayang, agar semangatku bangkit lagi." ujar Velia tersenyum manis pada Rian.
Entah mengapa hari ini dia merasa feeling-nya tidak baik. Tapi Velia juga tidak tahu apa yang akan terjadi maka dari itu dia ingin selalu berada di dekat Rian. Akhirnya keduanya pun berangkat menuju kantor milik Rian.
"Sebenarnya ada apa baby, kau jarang sekali seperti ini sebelumnya?"
__ADS_1
"Entahlah, sejak bangun tadi perasaanku benar-benar tidak nyaman. Seperti akan terjadi sesuatu yang buruk.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" alis Rian mengernyit menatap Velia dalam.
"Aku juga tidak tau. Atau ini hanya mungkin perasaanku saja." Ucap Velia.
Setelah hampir 1 jam berada di jalan akhirnya mobil yang Rian kendarai tiba di gedung perkantoran miliknya. Di lobi banyak sekali orang berkumpul. Sepertinya beberapa dari mereka adalah calon pegawai di kantor Rian.
Rian membukakan pintu mobil untuk Velia. Semua hal yang ia lakukan tak luput dari tatapan mata seseorang yang memandang Velia penuh dendam dan amarah. Dia merasa Velia adalah penyebab semua nasib buruk yang menimpa dirinya. Dan hari ini juga dia akan buat perhitungan pada gadis itu.
Ini adalah hari keberuntungan baginya melihat Velia ada di sana.
"Tunggu saja pembalasanku Veli. Kau sudah membuatku dan anak dalam kandunganku menderita. Kau harus bersiap menerima akibatnya." Desis Stevi, dia sengaja mendatangi kantor Rian dengan berpura-pura menjadi pelamar pekerjaan. Tapi faktanya Stevi hanya sedang mencari kesempatan untuk mencelakai Velia.
Rian membawa Velia naik menuju ruangannya. Tanpa memperhatikan calon pelamar yang memenuhi area lobi kantornya. Danzo menyambutnya di depan pintu lift.
"Selamat pagi tuan dan nona."
"Pagi Danzo ... " jawab Velia seraya tersenyum namun Rian buru-buru merengkuh bahu Veli agar tidak memperdulikan Danzo.
"Lihatlah tingkah laku anda ini tuan. Anda seakan membatasi semua gerak gerik nona. Padahal tidak mungkin juga nona akan terpesona padaku." batin Danzo.
"Saya tidak berani tuan." Ujar Danzo menundukkan pandangannya. Mereka memasuki lift dan meninggalkan lobi menuju lantai teratas gedung pencakar langit itu.
.
.
.
Velia terus menempel pada Rian, bahkan gadis itu seperti tak menganggap Danzo ada di antara mereka. Rasanya Danzo ingin menghilang saja melihat kemesraan yang di tampilkan oleh tuannya.
Rian mengawasi seleksi penerimaan karyawan baru dari layar laptopnya. Sedang Velia ada di dalam ruang pribadi Rian. Ia sedang meringkuk dan kembali tertidur karena matanya benar-benar sangat berat untuk di buka.
Siang harinya ketika memasuki jam makan siang Rian mengajak Veli makan di luar. Tapi sebelum itu dia ingin mengurus sesuatu. Maka Rian meminta Veli turun terlebih dahulu dan menunggunya di lobi. Danzo mengikuti nona mudanya atas perintah Rian.
Sesampainya di Lobi tanpa rasa curiga Velia menunggu Rian. Dia berdiri seraya memainkan ponselnya.
Seorang Wanita telah bersiap di dalam mobil. Saat melihat Velia berdiri di sana dia mulai melajukan mobil dengan kencang mengarah ke arah Velia. Danzo yang mengetahui laju mobil itu mengarah ke arah Velia dengan cepat berlari mendekati Velia dan menarik tangan nona mudanya hingga keduanya jatuh terguling. Sementara itu mobil yang di kendarai oleh Stevi kehilangan kendali dan menabrak meja resepsionis. Kegaduhan terjadi, pihak keamanan langsung mendekat. Disaat bersamaan lift yang membawa Rian tiba di lobi. Mata Rian langsung terbelalak, jantungnya berdebar kencang. melihat ada mobil menabrak meja resepsionis dengan kencang. Hingga bagian depan mobil ringsek. Namun bukan itu yang membuat pria itu seakan tertarik jiwanya. Namun di sana ia melihat tubuh Velia terbaring di lantai dalam dekapan Danzo.
__ADS_1
Danzo yang masih sadar bangkit, dan melihat keadaan nona mudanya.
"Nona ... nona Veli."
Rian berlari mendekat dan mendorong tubuh Danzo hingga terhempas.
"Veli, sayang bangun." Tubuh Rian bergetar melihat Velia terpejam. Semua orang berkerumun menjadi dua kubu. Pihak keamanan juga sudah menghubungi rumah sakit dan pihak berwajib.
"Tuan, i-itu nona kakinya berdarah." ucap salah seorang pelamar.
Deg!!
Jantung Rian bagai dihantam saat melihat darah segar mengalir dari sela kaki Velia.
"Danzo cepat ambil mobil sekarang."
"B-baik ... tuan." Danzo berlari. Kakinya bahkan masih terasa lemas karena ia pun sama kagetnya dengan kejadian tadi.
Rian segera memasukkan tubuh Velia. Tanpa menunggu perintah Danzo membawa mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
"Rian memeluk Velia erat. Seolah tak ingin kehilangan istrinya. Air mata Rian lolos begitu saja hatinya diliputi rasa cemas dan khawatir mengingat kandungan Velia.
Setelah ini ia tak akan melepaskan orang yang membuat istrinya seperti ini.
Setibanya di lobi rumah sakit. Tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Danzo, Rian mengangkat tubuh Velia. Seorang perawat datang mendorong brankar menyambut tubuh Velia.
"Cepat panggilkan dokter Rita." Seorang perawat meminta rekannya untuk memanggil dokter spesialis kandungan itu. Melihat darah dari sela kaki Velia saja membuat Perawat itu tahu tindakan apa yang harus dia lakukan.
"Silahkan tunggu di luar tuan, kami akan menangani pasien dengan sebaik-baiknya."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Selamat membaca .... dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Sembari menunggu jangan lupa mampir ya ke karya teman othor judulnya Senandung Cinta Jilbab Reina 1&2.
__ADS_1