Terjerat Cinta Duda Kece

Terjerat Cinta Duda Kece
Chapter 46. I love you Papi


__ADS_3

********


Velia terus menatap layar ponselnya, Ia malas harus mengangkat panggilan dari pria yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Pria yang sempat menempati relung hati Veli yang paling terdalam.


Velia langsung mematikan ponselnya, yang mana mampu membuat seorang Rian Al Farez di buat kalang kabut di dalam pesawat yang saat itu sedang landing. Dia mengumpat dan mengucapkan sumpah serapahnya hingga membuat Danzo sekertaris barunya mengernyit bingung.


"Maaf tuan apa ada masalah?" tanya Danzo hati-hati ia tak ingin jadi korban keganasan tuannya itu.


"Istriku pergi, tapi dia mematikan ponselnya hingga aku tidak bisa melacak keberadaannya." Gumam Rian seraya memejamkan mata dan memijat pelipisnya.


Velia tiba di sebuah hutan lindung tempat ia biasa menikmati hobinya. Banyak pula orang yang kesana sekedar rekreasi atau mencari ketenangan dan inspirasi.


"Veli .. " Panggil seorang pria tampan, ia dan teman-temannya menghampiri Velia termasuk juga disana ada Michael pria yang pernah di beri kenang-kenangan oleh Velia berupa tendangan di pusat tubuhnya.


"Kak Math, tumben di sini?"


"Kita lagi mau cari lokasi buat kemping." Ujar Matheo kakak tingkat Velia dulu di kampus. --- "Kamu sendiri mau ngapain Veli?"


"Ini aku mau pulang kak, udah dari tadi soalnya." Ujar Veliaberbohong, saat ini Veli tak mau berurusan dengan siapapun karena ada janin yang harus ia jaga.


"Naik apa kemari?" Tanya Matheo lagi.

__ADS_1


"Itu .. " Velia menunjuk motor sport milik suaminya dan berhasil membuat semua teman Matheo melotot tak percaya termasuk Michael. Velia berlalu dari kelima pria yang notabene adalah teman saat Velia aktif di komunitas pecinta alam dan Wall climbing.


Velia masih merasa tak nyaman saat menatap Michael karena pria itu terus menatapnya dengan tatapan aneh. Akhirnya Velia tidak jadi menyusuri hutan. Velia mencari penginapan terdekat karena merasa tubuhnya saat ini terasa sangat lelah sekali.


*


*


*


Rian rasanya ingin menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Saat ini pikirannya benar-benar buntu.


"Papi .. " Suara Zafrina yang melengking mengejutkan Rian.


"Mami dimana papi?" Zafrina mengedarkan pandangannya mencari Velia.


"Mami sedang keluar sayang. Ina menginap di rumah grandma saja ya?" Bujuk Rian, namun Zafrina justru melipat kedua tangannya di dada dan cemberut.


"Huh, papi menyebalkan. Aku kembali saja ke rumah mama Dian. Setidaknya disana papa Gerry selalu menyambutku dan tidak mengusirku." Ujar Zafrina seraya membuang wajahnya ke samping tak ingin menatap ayah kandungnya.


Rian menarik tubuh putrinya dan memeluknya erat. Sungguh dia tidak ada niatan mengusir putrinya. Hanya ia tak ingin putrinya melihat kemarahannya yang sejak tadi ia tahan.

__ADS_1


Rian memejamkan matanya menghirup aroma buah-buahan dari shampo Zafrina.


"Maafkan papi ya sayang, papi janji nanti kalo mami pulang, papi akan ajak Ina liburan lagi bagaimana?"


"Janji .." Zafrina mengurai pelukan Rian dan mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji sayang .. "


"Memang mami kemana pi?"


"Entahlah papi juga belum tahu. Mami pergi belum pamit sama papi." Kata Rian lirih.


"Uhhss .. mami seharusnya menunggu papi dulu baru pergi." Dengus Zafrina. Rian tersenyum melihat sikap Zafrina yang terkadang terlihat lebih dewasa dari usianya dan bagi Rian itu sangat menggemaskan.


"Sekarang beri papi kecupan dulu. Kau tadi belum mencium papi." Kata Rian dengan wajah memelas. Zafrina mencium kening, mata, pipi dan dagu Rian.


"I love you papi."


"Love you to Ina. Jadi anak yang pintar dan buat kami bangga padamu." Ujar Rian seraya membalas mencium seluruh wajah Zafrina.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


jempolnya mana tolong diangkat


__ADS_2