
Marlina yang melihat putranya begitu bahagia menceritakan wanita yang membuatnya tertarik meski wanita itu sudah janda menjadi tidak tega jika melarang putranya untuk menjalin kasih dengan wanita itu.
"jika begitu bawa dia kehadapan mama Han!bawa dia menemui mama!"titah Marlina.
Hening
Raihan masih diam membatu mendengar perintah mama nya.Saat ini otak cerdas dokter Raihan Adiguna sedang tidak bekerja dengan baik mendengar perkataan mamanya.
Bahkan Raihan sampai tak berkedip mendengar titah wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
Melihat Raihan putranya yang hanya diam saja membuat Marlina kembali mengulang perintahnya.
"Han,bawa dia kehadapan mama!"Mama ingin melihat dan mengenalnya!"ulang Marlina.
"jadi mama merestui Raihan untuk mengejarnya ma,mama akan merestui jika kelak Raihan menjalin hubungan denganya?"cecar Raihan.
"hmm"Marlina menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan putra semata wayangnya itu.
"terima kasih ma,dan doakan Raihan semoga dia memang wanita yang tepat untuk jadi pendamping Raihan ma."mohon Raihan.
"tentu saja,mama selalu berdoa yang terbaik untukmu nak!"ucap Marlina pada sang putra sambil tanganya mengusap kepala Raihan.
"dan satu lagi ma,tolong doakan Raihan juga semoga dia mau membalas perasaan cinta Raihan untuknya!"
__ADS_1
"iya,pasti mama doakan!"ucap Marlina.
"terimakasih ma,Han sayang mama"
"mama juga sangat menyayangimu nak"ucap Marlina tulus diiringi senyum tukus untuk sang putra.
"Han,ambilkan obat mama dulu,setelah itu mama minum obat dan istirahat"
Marlina hanya menganggukan kepalanya.Dipandangnya punggung putranya yang mulai menjauh.
semoga dia mampu membuatmu bahagia nak.Mas semoga keputusan ku tidak salah mengijinkan putra kebanggan kita menjalin hubungan dengan seorang janda.bathin Marlina.
.
.
.
"aku sudah selesai kak Luna"ucap Jeny sambil mengelap bibirnya dengan tissue.
"istirahatlah princes,kakak masih ada sedikit urusan"saut Luna.
"kakak juga harus istirahat,kakak jangan terlalu memfrosir diri kakak sendiri,nanti kakak bisa sakit,aku tidak mau itu"ucap Jeny khawatir.
__ADS_1
"kau lupa siapa kakakmu ini princes,bukan kah kau yang bilang kakak ini wonder women"saut Luna tersenyum untuk menenangkan sang nona muda rasa adik kandung.
"iya aku tau kakak itu wonder women tapi tubuh kakak juga bisa lelah dan sakit jika kakak sakit siala yang akan menjaga ku?"kilah Jeny.
"iya..iya..o..ya kakak sampai lupa besok minggu jadwal kita mengunjungi Panti Muara Bunda"ucap Luna mengingatkan.
"o..ya,kenapa aku bisa sampai lupa,ah..aku merindukan anak-anak panti kak Lun!"saut Jeny
"mereka juga pasti merindukan mu princes"jawab Luna
"oh..ya ampun aku belum menyiapkan apa-apa untuk dibawa kesana kak!"keluh Jeny.Karna biasanya memang Jeny berbelanja sendiri untuk barang bawaannyang akan ia bawa kepanti tapi entah kenapa ia melupakan jadwal untuk kunjugan ke Panti Muara Bunda, mungkin karena ia kemarin disibukan dengan masalah sidang perceraiannya dengan Rendy hutomo membuat dirinya melupakan hal lain.
"tidak apa-apa,kakak sudah menyiapkanya untukmu,jadi kamu tenang saja!semoga saja kamu menyukai pilihan kakak"Ucap Luna menenangkan sang nona muda.Ia sudah menduga Jeny akan lupa dengan jadwal kunjugan ke Panti Muara Bunda,karna masalah rumah tangga yang Jeny hadapi kemaren.
"kak Luna memang yang terbaik"sanjung Jeny .tak lupa dua jempol miliknya ia acungkan untuk sak sekertaris rasa kakak kandung perempuan.
"sekarang istirahatlah"titah Luna.
"siap bosku"senyum Jeny berkembang diiring sikap hormat ala militer.
Luna hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah Jeny.Tapi ia bersyukur kecerian Jeny sudah mulai kembali.
*kakak harap setelah kejadian buruk itu hanya kebahagian yang akan menghampirimu bathin Luna mendoakan Jeny dengan tulus.
__ADS_1
bersambung*