Terjerat Cinta Janda Ceo

Terjerat Cinta Janda Ceo
Perjodohan masalalu


__ADS_3

"hati-hati dijalan nona Jeny"ucap ibu Fatimah ketika mengantarkan Jeny.


Jeny hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.Setelah mobil yang membawa Jeny sudah tak terkihat ,ibu Fatimah melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam panti.


"apa kabar bu Fatimah"sapa wanita paruh baya menyapa ibu Fatimah.


"ah kabar baik nyonya Marlina,kapan anda datang?"tanya Ibu Fatimah kemudian mendekat kearah Marlina.


"tadi sesaat setelah tamu penting panti ini datang"jawab Marlina tenang.


"tamu penting,maksud anda siapa nyonya"tanya ibu Fatimah sedikit bingung dengan ucapan nyonya Marlina.


"gadis cantik tadi yang baru saja anda antar kedepan"jawab Marlina tersenyum.


"oh..nona Jeny yang anda maksud,iya dia termasuk tamu penting untuk Panti Ini nyonya karena dia mau meneruskan kegiatan yang bundanya warisan.Dan maaf saya tidak menyambut anda tadi,anda juga tamu penting untuk panti ini"ucap ibu Fatimah.


"jadi namanya Jeny"gumam Marlina pelan.


"anda bicara sesuatu nyonya?"tanya Ibu Fatimah yang samar-samar mendengar gumaman Marlina.


"em..itu,jadi gadis iti bernama Jeny bu?"tanya Marlina.


"iya nyonya,dia adalah nona Jeny,nona muda keluarga Wijaya!"jawab ibu Fatimah.


"Dia nona muda Wijaya,jadi dia putri dari Santika?"tanya Marlina terkejut.


"benar Nyonya,dia adalah putri dari Nyonya Santika"tutur ibu Fatimah.

__ADS_1


"astaga.."Marlina sampai menutup mulutnya dengan kedua tanganya karena terkejut mengetahui bahwa Jeny adalah putri dari Santika sahabatnya.


"jadi benar anak yang dikandungnya waktu itu adalah perempuan"gumam Marlina.


jika benar dia putri dari Santika ,mungkinkan aku melanjutkan niatan perjodohan yang dulu kami sepakati bathin Marlina.


Flasback.


"berapa usia kehamilan mu San?"tanya Marlina.


"baru jalan 8 bulan Lin"jawab Santika tersenyum sambil tanganya mengelus perut buncit miliknya.


"kalau dilihat bentuk perutmu sepertinya kamu hamil anak perempuan Sin?"ucap Marlina yang ikut mengelus perut buncit Santika.


"semoga saja Lin,aku memang ingin punya anak perempuan,jadi aku tidak hanya punya prince tapi juga punya princess dalam rumah tanggaku dan lengkap sudah hidupku"saut Santika tersenyum.


"putramu tidak ikut kemari Lin?"tanya Santika,


"ikut ,sekarang dia sedang bermain dengan anak-anak panti dihalaman belakang panti ini."jawab Marlina.


"bagaimana putramu?"tanya Santika.


"seperti biasa dia akan memilih ikut bersama ayahnya keperusahaan,karna itu aku saat ingin anak perempuan,supaya aku juga punya teman dirumah"jawab Santika terkekeh pelan.


"San,bagaimana jika memang anak yang kau kandung saat ini adalah perempuan kita jodohkan putrimu dengan putraku"ucap Marlina dengan terus mengelus perut buncit Santika.


"ya ampun Lin,anakku belum lahir,apa kau yakin ingin menjodohkan mereka.apa kau tidak akan menyesal nantinya,bagaimana jika nanti putriku tidak seseuai keiinginanmu hm"saut Santika.

__ADS_1


"enatahlah San,tapi aku merasakan jika nanti anak ini perempuan dia akan tumbuh jadi wanita yang lembut dan baik hati,semua yang diinginkan pria ada padanya"ucap Marlina lagi.


"aamiin,semoga apa yang kamu katakan Tuhan kabulkan Lin"Santika mengaminkan perkataan Marlina.


"bun"panggil bocah laki-laki..


"Han,kemarilah"panggil Marlina pada Raihan kecil putranya.


Raihan pun berjalan semakin mendekat kearah bundanya yaitu Marlina.


"sudah bermainnya?"tanya Marlina.


"sudah bun"jawab Raihan singkat.


"sini bunda kenalkan dengan calon pendampingmu kelak"ucap Marlina.


"Lin,putramu masih terlalu kecil,jangan membahasnya sekarang"kekeh Santika.


Raihan yang belum mengerti maksud bundanya pun hanya terdiam.


"hai anak tampan"sapa Santika sambil mengelus kepala Raihan.


Dan entah mengapa tanpa disuruh Raihan mengelus perut buncit Santika.


"Hai Princesnya Rai"


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2