
Sudah seminggu lamanya ponsel Aura selesai diperbaiki. Rutinitas Aura sudah kembali seperti biasanya, yaitu seorang kutu buku yang tidak perduli sekitarnya. Ia sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Ke perpustakaan pun hanya sebentar sekedar mencari buku yang diperlukan saja. Ia juga sudah lama tidak bertemu dengan Denis, sepertinya Denis juga sama sibuknya dengan Aura.
Karena kesibukkan Aura itu juga, Aura dan Riyan jadi jarang berhubungan akhir-akhir ini. Riyan juga sepertinya akhir-akhir ini sibuk akan sesuatu yang Aura sendiri juga tidak ketahui.
Selama hampir dua bulan ini Aura berpacaran dengan Riyan, Aura bisa dikatakan hampir belum pernah menghubungi Riyan duluan, bukannya belum pernah tapi sangat jarang Aura menghubungi Riyan duluan. Alasan Aura tidak melakukan hal itu ia tidak ingin mengganggu pekerjaan Riyan sekaligus ia tidak ingin juga memperlihatkan rasa cintanya yang begitu besar kepada Riyan.
Hanya saja akhir-akhir ini, Riyan seperti tidak bersemangat saat berkirim pesan dengan Aura. Terakhir kali pesan Aura yang dikirim pada Riyan hanya dibacanya saja. Mulai hari itu Aura tidak pernah mengontak Riyan lagi dan begitu pun sebaliknya.
Aura yang memang sedari awal merasa ada yang mengganjal dari sikap Riyan berniat menyerah pada hubungannya. Ia tidak ingin memperjuangkan cinta yang berat sebelah.
Hanya Aura yang menyukai dan menyayangi Riyan dengan tulus. Sedangkan Riyan, Aura tidak tahu perasaan pria itu sebenarnya, meskipun Riyan perhatian terhadap Aura tapi itu bukan karena ia juga memiliki perasaan yang sama dengan Aura. Semenjak lama Aura sudah menyadari hal itu. Tapi, karena perasaan Aura yang tulus ia yakin jika suatu saat perasaannya itu akan terbalas, tapi ternyata tidak.
Aura tidak ingin lagi berlarut-larut dalam kebimbangannya. Mungkin menerima sakit hati sekarang bagi Aura adalah jalan terbaik untuknya, ketimbang ia menjadi menyesal suatu saat. Jika Riyan benar-benar mencintainya Aura yakin pria itu pasti akan kembali ke sisinya.
Aura menjalani kesibukannya sendiri, akhir-akhir ini gadis-gadis yang suka mengganggunya juga jarang terlihat mungkin juga karena sama sibuknya dengan Aura. Dan kebetulan mereka juga tahu bahwa akhir-akhir ini Denis dan Aura tidak dekat lagi.
Dari jarak jauh Denis dan Aura sering terlihat saling tatap tapi Aura tidak ingin memikirkan pria itu dalam hidupnya, karena Aura sudah terlarut dalam pikirannya sendiri sekarang.
Ia tidak begitu perduli dengan Denis, begitu juga Denis terlihatnya ia sibuk dengan kesibukannya sendiri, akhir-akhir ini Denis banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Dan ketika pulang kuliah Aura setiap hari memergoki Denis yang selalu bergonta-ganti wanita sebagai teman pulangnya.
Melihat hal itu Aura tidak ingin memikirkan apa-apa lagi tentang pria itu. Karena hubungannya yang telah merenggang dengan Riyan itu lebih membebani pikiran Aura sekarang dan itu lebih dari apa pun. Untuk melupakan hal itu, Aura berusaha menyibukkan dirinya dengan tugas-tugas kuliahnya dan cukup berhasil, meskipun hanya sejenak ia dapat melupakan pikirannya tentang Riyan.
Namun, jika kesibukan itu berakhir atau sedang merenung sendiri di kamar kos-kosannya Aura terlihat menitikkan air mata. Ia benar-benar merasa bersedih karena hal itu.
.
__ADS_1
.
.
Pagi itu Aura bangun kesiangan, ia hampir tidak sempat memasak apa-apa ditambah malam tadi ia lupa untuk makan karena sibuk merenungkan kegalauannya dan hari ini ia tidak boleh melewatkan waktu makannya lagi, salah-salah ia bisa jatuh sakit, pasti akan sangat merepotkan jika itu terjadi dan Aura tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Dengan waktu yang sudah sempit, Aura menyempatkan dirinya untuk hanya sekedar memasak mie instan dan telur ceplok itu pun ia sudah tidak sempat memakannya dan memilih untuk menjadikan mie dan telur ceplok itu sebagai bekal makan siangnya karena tidak mungkin ia pergi ke kantin kampusnya, Aura takut diganggu.
Setelah semua barangnya dirasa lengkap Aura buru-buru keluar dari kamar kosnya dan berlari menuju kampusnya.
Aura akhirnya sampai di depan gerbang fakultasnya sekarang, sambil terengah-engah kelelahan tapi wajahnya terlihat lesu karena beban pikirannya, bahkan karena pikirannya yang masih ke mana-mana Aura bahkan tidak melihat Denis yang ingin menyapanya padahal jarak mereka cukup dekat di sampingnya.
Denis pun mengurungkan niatnya menyapa Aura dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin saja ia kecewa, entahlah.
Sesampai di kelas, "Aura kenapa wajahmu lesu begitu? Kayak orang gak makan aja." Tanya Desta khawatir pada Aura. Aura kemudian memasang wajah sedihnya di depan Desta.
"Kenapa, Ra?" tanya Desta sambil mengusap-usap puncak kepala Aura.
"Riyan berubah Des, beberapa hari ini dia gak ada kabar." Jelas Aura.
"Yang sabar ya Ra, meskipun sebagai sahabat aku gak bisa membantu banyak tentang masalahmu." Ucap Desta merasa tidak enak hati.
"Gak papa Des, kamu sudah memberikan bahumu saja untuk aku bersandar ketika sedih seperti ini, aku sudah bahagia Des. Kamu memang sahabat sejatiku." Ucap Aura masih memeluk Desta.
"Aku pasti bakalan bantuin sebisaku Ra." Ucap Desta.
__ADS_1
"Makasih Des," kata Aura.
Tidak lama setelah itu mata kuliah pun dimulai. Aura terlihat tidak fokus dengan pelajarannya. Ia merasa tidak enak hati sekarang, ia merasa lesu karena lapar tapi merasa tidak nafsu juga untuk makan.
Pelajaran pun selesai dan tiba istirahat makan siang.
"Ra, kamu mau aku belikan sesuatu di kantin?" tanya Desta mengerti kesusahan sahabatnya, yang tidak bisa pergi ke kantin karena takutnya di sana akan ada yang mengganggunya.
Berbeda saat pergi bersama dengan Denis, waktu itu pengunjung kantin memang tidak terlalu ramai karena memang sudah lewat jam makan siang. Ditambah dengan adanya Denis yang membuat para gadis penggemarnya takut bertingkah jelek di depan Denis, karena biar bagaimana pun mereka ingin tampil sempurna di mata Denis.
Beberapa dari mereka menganggap Aura sebagai salah satu wanita gonta-ganti Denis jadi ada beberapa orang yang tidak perduli dengan Denis yang bersama Aura ke mana-mana. Tapi ada juga yang iri karena mereka tidak bisa sedekat itu dengan Denis.
Intinya, tidak mungkin mereka akan mengganggu Aura secara terang-terangan selama Aura berada disisi Denis.
"Aku bawa bekal kok Des, kamu pergi aja ke kantin duluan. Oke." Ucap Aura tidak ingin merepotkan Desta. Karena sangking buru-burunya Aura tadi pagi ia melupakan dompetnya dan meninggalkannya di kamarnya.
Fokus Aura benar-benar hilang hari ini. Karena tidak ingin merepotkan Desta lagi ia tidak berniat untuk meminjam uang Desta dan lebih memilih untuk memakan bekal bawaannya saja, lagi pula Aura tidak cerita pada Desta bahwa ia tidak makan dari kemarin.
"Padahal aku belum benar-benar bakalan putus dengan Riyan, jadi belum tentu aku akan patah hati nanti. Tapi, aku sudah menjadi seperti ini hanya karena galau. Bagaimana kalau benaran patah hati, bagaimana jadinya?" batin Aura bertanya pada dirinya sendiri, jujur saja ia tidak ingin menjadi seperti sekarang ini, ia takut jika nilainya akan turun. Aura cemas pada dirinya sendiri, meskipun di hatinya ada yang mengganjal itu tidak akan menghilangkan akal sehatnya.
Aura memiliki prinsip cinta boleh tapi jangan mau dibodohi, patah hati bisa saja asal jangan gila. Itulah prinsip Aura. Namun, tetap saja hatinya bertindak berkebalikan dengan keinginan Aura.
Mungkin saja mie instan dan telur ceplok cukup untuk mengganjal rasa lapar di perut Aura, karena saat ini Aura memang dalam selera makan yang buruk. Meskipun ia tidak menginginkan hal itu terjadi pada tubuhnya, tapi ia tidak bisa melawannya.
Di kampus Aura ada peraturan yang melarang makan di kelas karena sudah disediakan tempat makan khusus untuk yang membawa bekal.
__ADS_1
Aura akhirnya memilih tempat tersembunyi yang di temuinya saat lari dari Denis waktu itu. Tempat yang bebas dari peraturan kampus.