
"Aah~ Akhirnya aku bisa istirahat juga." Aura baru pulang dari kuliah sorenya.
Kemudian ia melihat seorang pria yang tampak kebingungan di jalan depan Fakultas Aura. Aura langsung menghampirinya karena mengenal baik orang itu.
"Oii!" sapa Aura menyentuh bahu pemuda itu.
"Kak Aura..." Wajahnya terlihat memelas ketakutan.
"Ada apa? Kenapa kamu memasang wajah seperti itu?" bingung Aura.
"Hpku ini kenapa? Jaringannya hilang." Pemuda itu kebingungan, padahal awalnya tidak seperti itu.
"Coba lihat," Aura mengambil ponsel milik temannya, pemuda itu langsung memberikannya tanpa bertanya apa-apa.
"Eza, apa kamu ada sempat memberikan hpmu pada salah satu murid di Fakultas ini?" tanya Aura sambil mengutak-atik ponsel milik pemuda bernama Eza.
Eza mengangguk mengiyakan dan Aura menghela nafasnya mengerti. Setelah beberapa saat ponsel milik Eza kembali normal.
"Wah! Sudah bagus." Eza merasa senang.
"Kamu tadi dijahilin sama anak-anak dari fakultasku." Aura menjelaskan. Ada yang membuat jaringan ponsel milik pemuda itu menjadi kacau, beruntungnya Aura mengerti cara memperbaiki masalah itu.
"Teganya..." Gumam Eza, tapi itu memang salahnya sendiri karena berani-berani meminta nomor ponsel cewek sembarangan.
Di belakang Eza dan Aura ada Denis yang memperhatikan kedekatan mereka berdua. Aura yang tampak sangat akrab dengan pemuda itu, membuat Denis merasa cemburu.
"Lepas dari anak-anak kampus, dia beraksi di luar. Aura-Aura apakah aku harus mengurungmu untuk diriku sendiri, agar tidak ada laki-laki lain yang bisa dekat denganmu lagi." Gumam Denis, dia memiliki rencana gila yang tidak akan dipikirkan kebanyakan orang. Dan tentu saja pasti akan ditentang oleh Aura.
Denis sudah mulai menyadari perasaannya pada Aura, ia menyukai Aura dan tidak ingin gadis itu dekat dengan lelaki lain selain dirinya.
.
.
.
"Kenapa kau ada di kampus ini?" tanya Aura akhirnya.
"Tadi ada seminar dan aku mewakilkan sekolah kemari." Jawab Eza.
"Wah kau keren Eza, bisa mewakilkan sekolah kemari." Bangga Aura.
"Iya karena akukan ketua Osis." Ujar Eza. "Tapi, Kakak keren bisa masuk dan berkuliah di sini." Ujar Eza lagi.
"Hahaha, aku perlu waktu dua tahun untuk bisa benar-benar masuk di sini." Ujar Aura merasa ia benar-benar butuh perjuangan untuk bisa menggapai cita-citanya berkuliah di sini. Dua kali ia gagal dan akhirnya berhasil di percobaan ketiga.
"Aku merasa menjadi murid paling tua." Ujar Aura. Kemudian Aura ingat sesuatu. Ia baru sadar setelah beberapa saat mengingat umurnya kebanyakan teman sekelasnya masih lebih muda dari dirinya.
"Ada apa Kak?" tanya Eza.
"Umm tidak ada apa-apa." Aura tidak menjawabnya.
__ADS_1
"Apa kau pulang setelah ini?" tanya Aura.
"Kata teman-teman yang lain, mereka ada janjian di kosan Kakak. Jadi, sepertinya aku akan singgah dulu." Ujar Eza menjelaskan.
"Aah~ Sepertinya aku ada kesibukkan. Hahaha," Aura membuang wajahnya ke arah lain.
"Kakak mau ke mana? Kakak tega ninggalin kita–."
"Iya-iya, aku pulang juga deh." Aura menghela nafas pasrah saja.
"Hai!" Denis tiba-tiba muncul di samping Aura dan berjalan kaki juga.
"De-Denis," gugup Aura.
"Siapa Kak, pacar Kakak?" tanya Eza berbisik dan Aura langsung menggeleng. Semuanya terdiam canggung.
"Kenalin ini teman kecilku Eza, dan ini teman seangkatanku Denis." Aura memperkenalkan mereka memulai pembicaraan. Mereka berdua hanya saling tersenyum.
"Mau ke mana?" tanya Denis.
"Aku mau ke kosannya Kak Aura." Eza menjawabnya dengan polos. Aura memijat jidatnya saja. "Seharusnya Eza tidak menjawab jujur." Pikir Aura.
"Oh gitu, kalau begitu kita sama aku juga memang ada janji ke kosan Aura." Ucap Denis tersenyum ramah.
"Heh sembarang!" Aura langsung memotong.
"Wah! Pas sekali, Kak Aura sepertinya mengundang teman spesialnya. Hari ini Kak Aurakan ulang tahun." Eza menjelaskan sambil menepuk tangannya.
"Kau ulang tahun?" tanya Denis langsung.
"Aku bahkan lupa sampai beberapa saat tadi." Jawab Aura, sangking sibuknya belajar ia bahkan tidak memikirkan tanggal hari ini.
"Aku tidak menyangka jika ulang tahun kita hanya beda beberapa hari." Denis nampak senang.
"Kau benar," ujar Aura sekenanya.
Denis terus mengikuti Aura saat itu berjalan di sampingnya. Tapi, Aura hanya membiarkannya saja. Percuma saja pikir Aura mengusir Denis yang keras kepala itu dari sisinya.
"Bukannya kamu bawa motor ya?" tanya Aura di perjalanan.
"Bannya bocor," alasan Denis padahal ia sengaja meninggalkan motornya di parkiran kampus.
"Tempat tinggalmu jugakan berlawanan arah dengan kosanmu." Aura berbicara sambil menutup mata, tidak mau kalah.
"Kitakan sudah berjanji mau ke kosanmu."
"Aku tidak mengundang orang asing ke kosanku." Gumam Aura.
"Pria di sampingmu itu bukan orang asing?" tanya Denis lagi.
"Dia temanku." Jawab Aura.
__ADS_1
"Akukan juga temanmu." Denis membuat Aura berkerut kesal, ucapan Denis memang tidak salah.
Eza yang mendengar perdebatan mereka ingin tertawa sekaligus tidak enak hati juga karena merasa jadi pengganggu.
"Terserahlah, lagian aku tidak berduaan dengannya juga." Pikir Aura pasrah pada akhirnya.
.
.
.
Akhirnya mereka bertiga pun sampai di tempat Aura tinggal. Di sana ada teman-teman Aura dari kampung halamannya yang sudah berkumpul mungkin ada sekitar 4 orang. Bahkan ada saudara laki-laki Aura juga hadir di sana.
"Eh, eh, ada bang Aril rupa-rupanya. Mau ngerjain aku ya?" tanya Aura langsung merangkul akrab pemuda dengan wajah datar.
"Apa sih ih." Pemuda yang bernama Aril itu meronta-ronta tapi tidak berniat melepaskan rangkulan Aura sama sekali.
Denis menatapinya kesal, bisa-bisanya Aura bersikap seperti itu di hadapannya.
"Itu pacarnya Kak Aura?" tanya seorang gadis yang tampaknya seumuran dengan Eza berbisik pada Eza.
"Kata Kak Aura bukan." Jawab Eza berbisik juga.
"Wah dia keren dan ganteng." Salah satu gadis bergumam di samping teman lelakinya takjub melihat Denis.
"Heh?" gumam pemuda di sampingnya.
"Kamu yang paling tampan kok." Sepertinya mereka berdua itu berpacaran.
"Oh iya teman-teman, kenalin ini temanku Denis." Aura berucap melepaskan rangkulannya dari Aril.
"Dia siapa?" tanya Denis pada Aura sambil berbisik langsung bertanya tentang Aril, saat ini ia sedang menahan emosinya agar tidak meluap-luap karena kesal.
"Dia adikku." Jawab Aura santai, langsung membuat Denis terdiam membeku, sangking cemburunya Denis tidak memperhatikan bahwa wajah Aril cukup mirip dengan Aura.
"Aku Fely." Teman wanita seumuran Eza tadi langsung meminta bersalaman dengan Denis, ia menganggap Denis itu seperti artis. Denis tersenyum ramah, Fely girang dibuatnya.
"Dia tidak tahu saja sifat buruk Denis." Aura membuang wajahnya ke lain arah.
"Aura kau kenapa? Cemburu?" bisik Denis.
"Hah? Cemburu? Ya, enggalah." Aura berkata tegas.
"Aku Ilina," ujar teman Aura yang sudah punya pasangan.
"Aku Faris." Ujar pria yang sedari tadi hanya diam dia adalah pacar Ilina.
"Aku Aril, adik Aura." Aril menatap tajam Denis.
"Uum, salam kenal." Denis menunduk hormat. Membuat para gadis langsung berbinar-binar senang, kecuali Aura. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk menangani Denis sekarang.
__ADS_1