Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 13 – Di Jalan


__ADS_3

Sudah beberapa hari semenjak kebersamaannya dengan Denis.


Di malam itu Aura baru pulang belanja perlengkapan bulanannya. Waktu itu dia membawa banyak sekali barang belanjaan dan parahnya ia membawanya dengan berjalan kaki dan itu cukup jauh dari kosannya.


Biasanya di saat seperti ini Aura menggunakan taksi atau menggunakan sepeda yang ada di kosannya. Tapi sayang taksi malam itu sudah jarang ada yang lewat dan Aura malas menunggunya karena sudah cukup malam. Sedangkan sepedanya, bannya sedang bocor dan tidak bisa digunakan, Aura sebenarnya ada niat untuk memperbaiki sepeda itu sendiri, karena dulu saat di rumahnya ia pernah membantu ayahnya mengganti ban sepeda motor.


Kalo masalah Riyan pacarnya, Aura sudah tidak tahu pria itu ke mana. Dia benar-benar tidak ada kabar sama sekali.


Aura yang berjalan sendirian itu terlihat membawa dua kantung besar belanjaan di kiri dan kanan tangannya ditambah tas ransel yang cukup besar di punggungnya.


Aura mengenakan pakaian serba hitam, topi hitam dan kacamata berbingkai hitam, jaket hoodie berwarna hitam, celana levis hitam dan sepatu olahraga hitam, benar-benar hitam semua hanya kantung belanjaan yang ia bawa yang bewarna putih.


Sampailah Aura di depan sebuah kafe yang dindingnya hanya terbuat dari kaca.


Ada satu pria dan dua wanita yang duduk di samping kiri dan kanannya ditambah di mejanya ada sebotol bir terpajang di situ. Di seberang mejanya ada dua orang laki-laki yang tampaknya itu adalah teman Denis tapi Aura tidak kenal mereka.


Aura memperhatikan pria itu, tepat saat Aura lewat di bawah lampu jalan. Pria itu pipinya tengah dicium oleh salah satu wanita yang duduk di sampingnya.


Sekarang mata Aura dan pria itu malah beradu pandang. Di mata Aura pria itu tampak sedang bersenang-senang tapi kemudian ia terbelalak kaget melihat Aura yang melihatnya, sedangkan Aura langsung menghadap depan lagi seolah-olah tidak melihat apa-apa.


"Duh, kenapa dia harus liat aku sih, mudahan gak kenal, gak kenal." Batin Aura mempercepat langkahnya, sekaligus yakin jika pria itu pasti tidak mengenalinya karena penampilannya yang serba gelap. Pria yang dilihat Aura barusan adalah Denis yang sedang bersenang-senang.


Aura tidak bisa terus-terusan berjalan cepat karena memang barang belanjaan yang dibawanya cukup berat, tenaganya tidak cukup jika harus berlari.


Beruntungnya meski sudah larut malam kota itu masih cukup ramai, jadi Aura tidak perlu khawatir tentang adanya orang jahat.


Merasa tidak ada apa-apa dengan pertemuannya dengan Denis barusan, Aura mulai berjalan santai kembali.


Ia merasa lega tapi juga sedikit kecewa melihat Denis yang bertingkah murahan seperti itu, ditambah dengan adanya bir di meja itu. Aura tidak suka dengan pria nakal seperti itu dan parahnya kenapa Aura kecewa saat melihat Denis bersama dengan wanita-wanita itu.


"Apa aku cemburu, tidak mungkin. Dengan Riyan saja belum putus dan belum bisa move on. Bagaimana bisa aku tertarik dengannya sungguh sangat tidak mungkin. Lagi dengan cowok narsis dan nakal begitu, duuh." Batin Aura terus menyangkalnya. "Aura, pria itu hanya mempermainkanmu. Kamu lihat saja dia itu dekat dengan semua perempuan, pasti denganmu dia juga main-main saja untuk mengisi waktunya." Batin Aura menceramahi dirinya sendiri ia pun mengangguk-angguk sendiri menyetujui pendapatnya.


"Hei apa yang kau pikirkan?" tanya Denis tiba-tiba sudah di samping Aura dengan sepeda motornya.


"Waa!" Aura terperanjat kaget.


"Kau tidak perlu sekaget itu, aku bukan penjahat." Ucap Denis.


"Ba-bagaimana kau bisa di sini? Bukannya tadi kau, uum." Aura tidak ingin mengatakan apa yang dilihatnya.


"Kau kira aku tidak bisa jalan." Kata Denis tidak ingin membahas hal tadi.


"Bagaimana kau bisa mengenaliku?" tanya Aura, ia sudah sangat yakin kalau pria itu pasti tidak mengenalinya tapi ternyata ia salah.


"Hanya kau wanita aneh yang membawa barang belanjaan sebanyak itu dengan berjalan kaki malam-malam sendirian." Ucap Denis menjelaskan secara singkat, padahal Denis itu semenjak mengenal Aura dia sudah mengenali Aura meskipun hanya melihat bagian belakangnya saja.


Bagi Aura apa yang dikatakan Denis padanya memang benar apa adanya. Hanya dia wanita aneh yang melakukan hal itu malam-malam.


"Kenapa kau tidak naik taksi?"


"Aku malas menunggu, ini sudah malam soalnya." Jelas Aura terus melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Ke mana pacar yang kau banggakan itu?" sindir Denis.


"Apa semuanya aku harus bergantung sama pacar. Aku ini masih bisa melakukan banyak hal sendiri tahu." Ucap Aura tidak ingin membahas tentang kekasihnya.


"Iyaaa, tapi pekerjaan seperti ini biasa butuh bantuan laki-laki." Jelas Denis.


"Aku tidak perduli, lagi pula aku masih bisa sendiri." Jelas Aura tidak mau kalah. Denis menarik nafasnya dalam, melihat tingkah Aura yang seperti itu.


"Biar aku antar kamu pulang ke kosanmu." Tawar Denis.


"Aku gak mau dibawa pulang oleh pria yang lagi mabuk." ejek Aura.


"Aku gak mabuk," kata Denis yakin.


"Tapi kamu habis minum bir aku gak mau, nanti malah kenapa-kenapa, Kalo nyungsep gimana mending jalan kaki."


"Tajam sekali matamu, bahkan botol bir sekecil itu kamu lihat dari jauh."


"Jangan alihkan omongan, aku benci dengan bir dan tidak suka dengan orang yang meminumnya juga. Jadi meskipun sekilas aku tahu itu apaan. Paham."


"Aku tidak akan meminumnya lagi, janji."


"Kenapa juga kau harus berjanji seperti itu, itu urusanmu mau minum atau tidak."


"Kau tidak menyukainya, aku tidak akan melakukannya lagi."


"Kenapa juga harus demi aku kamu melakukannya."


"Gak perlu, terima kasih." Ucap Aura menolak baik-baik, kemudian mempercepat langkahnya.


"Kau keras kepala sekali sih." Ucap Denis mulai kesal.


"Ya, ya aku memang keras kepala. Kepalaku kayak batu, gak lebih tepatnya kayak baja. Biar kau ingin hancurkan sekalipun, tidak akan berpengaruh juga karena kepalaku baja." Ucap Aura sembarang omong.


"Kalo kepalamu baja, aku akan jadi larva yang akan melelehkan kepala bajamu itu. Paham." Ucap Denis juga tidak mau kalah. Aura membuang nafasnya.


"Silahkan kalo bisa," kata Aura menantang.


"Oke, aku akan buktikan." Denis pun juga sama.


Denis merebut barang belanjaan yang ada di tangan kanan Aura.


"Ini cukup berat untuk dibawa wanita." Pikir Denis kaget setelah memegang salah satu kantong plastik milik Aura, meskipun hanya dalam hati.


"Apa ini, kau benar-benar gila membawa barang berat seperti ini sendirian." Ucap Denis terlihat kesal, ia tidak menyangka gadis itu setangguh itu dan ia juga tahu jika kosan Aura itu tidak sedekat yang dibayangkan dari tempatnya belanja.


"Itu hanya beras seberat lima kilogram tidak lebih. Itu tidak terlalu berat untukku." Jelas Aura meyakinkan Denis bahwa apa yang dibawanya tidaklah berat.


"Iya tapi barang seperti ini tidak pantas dibawa wanita sendirian dengan perjalanan jauh." Jelas Denis.


"Tapi ini hanya tinggal satu kilo meter dari kosanku, sudahlah aku malas berdebat denganmu. Aku mau pulang. Kembalikan barangku." Aura sudah lelah berdebat dengan Denis.

__ADS_1


"Kalau kau memang mau pulang biar aku antar jangan keras kepala, atau kau tidak usah pulang sekalian." Jelas Denis tidak mau mengembalikan barang itu.


"Aaaah, terserah kau sajalah." Ucap Aura mengalah, ia benar-benar menjadi baja yang meleleh sekarang lelah dengan ketidakmauan mengalah Denis. Akhirnya Aura mau saja diantar oleh Denis pulang.


.


.


.


"Kau sudah makan?" tanya Denis lagi di perjalanannya tidak membahas ucapan Aura tadi.


"Sudah tadi," jawab Aura singkat.


"Kalo belum kita singgah makan dulu." Ucap Denis sepertinya tidak mendengarkan Aura.


"Aku bilang aku sudah makan tadi." Kesal Aura.


"Bagaimana kalo kita singgah makan nasi goreng." Denis masih tidak nyambung.


"Kalo kau masih bersikeras mengajakku makan, sampai di sana aku akan langsung pulang sendiri." Kali ini Aura yang mengancam, ia sudah kesal sekarang.


"Ya baiklah kita pulang, oke." Denis akhirnya mengalah pada Aura, ia tersenyum di balik helm hitamnya karena sedikit menjahili Aura.


Sampai lah di depan kamar kos Aura.


"Terima kasih sudah mau mengantarku." Ucap Aura langsung turun dari motor Denis.


"Iya. Oh ya, apa biasanya memang kamu masak sendiri?" tanya Denis basa-basi.


"Kalo tidak masak sendiri akan banyak sekali pengeluaranku setiap bulan. Aku tidak suka itu, karena aku bisa masak, ya aku sempatin masak sendiri." Jelas Aura ingin pergi memasuki kosannya.


"Kau tidak mau menyuruhku singgah dulu," kata Denis akhirnya langsung membicarakan tujuan sebenarnya, ia ingin Aura menawarinya untuk singgah di kosannya, karena menunggu Aura untuk menawarinya gadis itu sungguh tidak peka.


"Ini sudah larut malam tahu, aku tidak menerima tamu laki-laki sebaiknya kau pulang saja." Ucap Aura terus berjalan sambil mengusir Denis.


"Hmm, baiklah." Kecewa Denis.


"Tapi nanti, kapan-kapan kau masakan aku masakan buatanmu ya!" teriak Denis kemudian menjalankan motornya.


Sedangkan Aura hanya melambaikan tangannya membalas permintaan Denis.


"Ya, kapan-kapan." Gumam Aura ia kemudian tersenyum lebih tepatnya ingin tertawa. Karena bagi Aura kata kapan adalah suatu yang tidak pasti sesuatu yang entah akan terjadi atau tidaknya di masa depan bagi Aura itu sangat menggelikan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2