Terjerat Cinta Pangeran Kampus

Terjerat Cinta Pangeran Kampus
Bab 40 – Bergantung Padanya


__ADS_3

"Kenapa harus kamu yang bayar barang belanjaanku?" tanya Aura setelah masuk di dalam mobil.


"Kan laki-laki memang harus seperti itu."


"Hahaha, kamu gak tau ya di tempatku tinggal, perempuan yang pegang uang." Aura protes tidak terima.


"Oh begitu, kalau begitu kamu pegang dompetku saja, kamu bisa dengan bebas memakainya." Dengan polosnya Denis menaruh dompetnya di tangan Aura. Aura langsung meraih tangan Denis kembali dan meletakkan dompet itu ke tangan pemiliknya lagi.


"Itu bukan uangku, mana bisa aku pakai seenak jidat. Aku tidak sematre itu." Ujar Aura bersandar di kursi mobil.


"Tapikan uang yang aku cari ini nantinya untukmu juga."


"Nanti Denis, bukan sekarang."


"Sekarang juga gakpapa. Pake aja santai."


"Gak."


"Ya udah, kalau gitu. Biar aku yang bayar kalau belanja."


"Terserahlah." Aura tidak tahu lagi harus menghadapi Denis seperti apalagi biar ia saja yang mengalah. Denis tersenyum senang, lagi pula pikir Aura tadi Denis juga yang sudah membayarkan belanjaannya.


"Makasih banyak loh." Aura mau membawa barang belanjaannya sendiri masuk ke tempat tinggalnya, tapi kemudian Denis menahannya.


"Jika ada aku di dekatmu aku tidak akan membiarkanmu membawa barang belanjaan sendiri." Ucap Denis.


Padahal, jika itu di rumah utamanya Denis tidak akan melakukan hal-hal merepotkan seperti sekarang. Tapi, sekarang Denis masih tetap berperan sebagai orang biasa. Lagi pula Denis sangat menikmatinya, ketika ia bisa membuat Aura bergantung padanya. Hanya padanya.


.


.


.


"Sekali lagi, terima kasih." Aura yang tidak enakan karena merepotkan orang lain.


"Kenapa? Jangan sungkan Aura, aku senang ketika direpotkan olehmu, dan kamu terus bergantung padaku." Akhirnya Denis mengeluarkan isi hatinya.


"Aku merasa jadi tidak enak." Ujar Aura, malu-malu.


"Aku tidak ingin Aura sungkan padaku. Manfaatkan aku sesukamu." Denis mendekat ke Aura.


"Iya-iya, jangan terlalu dekatlah." Aura mendorong Denis menjauh karena ia sudah terhimpit sampai ke dinding.


"Akh! Sampai kapan aku harus menahan diri." Pikir Denis berjalan menjauh dari Aura yang tersipu malu. Pria itu mengajak rambutnya frustasi dengan satu tangannya.

__ADS_1


"Anu, aku sebaiknya pulang Aura." Ujar Denis tidak menatap wajah Aura, ia tidak bisa menahan dirinya lagi ia harus pergi sekarang.


"Kau marah?" tanya Aura pelan, ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Aura aku harus pergi sekarang, aku tidak bisa jika harus di sini terus atau sesuatu hal yang tidak diinginkan akan terjadi. Aku tidak marah padamu." Aura yang tidak begitu mengerti awalnya, sampai ketika otaknya paham dengan ucapan Denis bagian kepalanya terasa panas.


"Laki-laki dan perempuan hanya berdua, hal akan yang terjadi." Pikiran Aura langsung menjurus ke hal yang negatif tentu saja.


"Iyaaa, kau pulang saja kalau begitu." Pekik Aura, akhirnya ia mengusir Denis panik.


"Baiklah, aku pulang dulu. Tapi kalau kau ingin keluar beritahu aku. Aku akan mengantarmu, jangan pergi sendirian." Ujar Denis sebelum pergi.


"Iya nanti aku kasih tahu kamu kalau ada urusan."


Denis kemudian pergi setelah itu. "Gyaaa! Aku malu..." Batin Aura menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Denis yang masuk ke dalam mobilnya membenturkan kepalanya ke setir mobilnya. "Sadarlah, kamu harus menahan diri sampai waktunya tiba. Aku benar-benar menyukainya. Bagaimana ini?" Denis frustasi sendiri dengan perasaannya.


Kemudian Denis merasa kesal ketika mengingat Aura yang duduk berduaan dengan mantannya beberapa waktu lalu. Denis tidak akan membiarkan Aura dekat dengan pria itu lagi.


Akhirnya Aura seharian itu berdiam di kamarnya belajar. Sambil bertukar pesan dengan Denis tentu saja. Menceritakan tentang pelajarannya dan bertanya banyak hal tentang pelajaran itu.


.


.


.


Tidak lama kemudian Aura dijemput oleh Denis.


Kaca mobil terbuka. "Halo!" sapa Denis tersenyum cerah saat melihat Aura datang ke arahnya.


"Hai!" Aura menyapanya balik dan membuka pintu mobil masuk ke dalamnya.


"Sudah mulai terbiasa ya? Kemarin-kemarin masih banyak protesnya."


"Kalau aku protes terus, kamu juga gak mau mendengarkannya."


"Aku suka Aura yang bagaimanapun, intinya selalu ada di sampingku terus menerus." Ucap Denis mulai menjalankan mobilnya.


"Terima kasih karena sudah menyukaiku."


Denis menggeleng. "Seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena kamu aku bisa merasakan perasaan yang telah lama aku lupakan." Ucap Denis.


"Kau pernah melupakan perasaanmu?" tanya Aura.

__ADS_1


"Kamu tahukan bagaimana aku dulu."


"Benar sih," Aura menatap keluar jendela. Tampang mengesalkan Denis saat pertama kali bertemu dengan Aura masih teringat dengan jelas dibenak Aura. Sampai-sampai apa yang terjadi pada dirinya dan Denis sekarang seperti sebuah mimpi. Karena Aura tidak pernah memikirkan hubungannya akan sejauh ini pada akhirnya.


Hal itu ketika Aura belum mengenal siapa Denis dan bagaimana kehidupannya tidak seperti sekarang.


"Apa yang kamu pikirkan tentang saat kita bertemu?" Denis penasaran. Padahal kemarin-kemarin mereka sudah membahas hal itu walaupun singkat.


"Aku tidak mau lagi berurusan denganmu, waktu itu setelah menabrakmu." Jawab Aura.


"Segitunya..."


"Gimana orang gak trauma, aku itu tidak pernah mencari ribut dengan orang lain. Tapi, hanya karena kamu semuanya jadi berubah." Aura berucap menatap keluar jendela ia sempat tertekan karena kejadian itu.


"Maafkan aku Aura." Denis merasa bersalah


"Tidak apa-apa semua sudah terjadi, lagi pula semuanya telah berjalan kembali seperti sebelumnya. Hanya saja yang berbeda aku jadi makin dekat denganmu." Ucap Aura menatap Denis kali ini.


"Aku menyesal sudah menghinamu. Jika aku tahu akan jadi begini. Aku pasti tidak akan melakukan hal itu dari awal." Denis benar-benar merasa bersalah.


"Sudahlah, aku memang kesal jika mengingat hal itu. Tapi yang terjadi sudah terjadi. Aku tidak apa-apa kok." Timpal Aura. Lagi pula awalnya memang dia yang salah, sudah menabrak Denis. Lalu dengan tidak tahu dirinya ia malah duduk di kursi Denis ketika di perpustakaan, karena tidak tahu. Belum lagi kejadian-kejadian lain yang seolah-olah terus mempertemukan mereka secara tidak sengaja. Dan Aura adalah orang yang memancing Denis pada akhirnya untuk tertarik padanya.


.


.


.


Namun, pagi itu kampus dihebohkan dengan seorang mahasiswi pindahan cantik. Ke Fakultas yang sama dengan Aura. Saat itu Denis dan Aura belum menyadari keributan itu karena apa.


"Wah, sepertinya ada yang rame-rame, kenapa ya?" Aura bertanya penasaran.


"Apa yang ramai?" Denis bingung rupanya ia tidak memperhatikan sekitarnya tadi.


"Kamu jadi sering memperhatikan sekitar ya Aura." kata Denis.


"Iyalah, karena kejadian waktu itu aku harus lebih waspada daripada sebelumnya."


"Sekarang kau tidak perlu khawatir tidak akan ada yang menyakitimu lagi."


"Saat sampai di kerumunan itu Denis dan Aura tidak memperdulikan sekitarnya, mereka berdua sibuk dengan pembicaraan mereka masing-masing. Sampai pada akhirnya kerumunan itu sedikit menyingkir dan membuka jalan ke arah Denis dan Aura.


Pantas saja semua orang berkumpul di sana. Rupanya orang yang sedang mereka kerumuni itu adalah seorang aktris papan atas terkenal Viola Liona. Aktris berbakat di negeri ini dan anak salah satu orang terkaya di negeri ini.


"Cantik banget." Itu adalah apa yang Aura pikirkan.

__ADS_1


"Lama tidak bertemu Denis." Ucap Viola pada Denis yang memandangi gadis itu datar.


__ADS_2